METRUM
Jelajah Komunitas

Urgensi Menanamkan Sikap Toleransi

MELIHAT era globalisasi saat ini, unsur agama kian melambung eksistensinya. Perkembangan agama-agama diwarnai dengan banyak bentuk, baik hal yang mengarah pada suasana damai maupun suasana konflik.

Dalam perspektif sosiologi melihat bahwa agama memang memiliki kekuatan paradoks, dimana membangun perdamaian dan keselamatan juga di sisi lain berpotensi menimbulkan konflik, perselisihan, perpecahan atau radikalisme melalui analisis yang harus dilakukan, apakah memang keadaan yang seperti itu atau karena dinamika pemahaman agama yang dianut oleh para pemeluk. Bukan hanya itu, dilengkapi fungsi multi interpretasi dari teks-teks suci agama.

Di Indonesia, khususnya beragam agama, ras, suku, etnik, dan kebudayaan yang ada tidak meredupkan rasa saling toleransi atau salig menghargai. Toleransi sangat penting untuk ditanamkan pada setiap insan manusia.

Segala bentuk perbedaan senantiasa berpotensi konflik atau kekerasaan, misal dari asal-muasal daerah yang berbeda dengan mengunggulkan satu pihak dibanding yang lainnya, perbedaan etnik, dan ekonomi yang mengakibatkan kecemburuam sosial sehingga terjadi konflik kekerasaan yang terjadi. Namun, perbedaan tersebut bukan menjadi pendorong terjadinya kericuhan atau peperangan karena mengganggap sesuatu yang ia yakini adalah paling benar, tetapi menjadi saling menguatkan untuk hidup rukun dalam setiap perbedaan yang ada.

Dengan selalu melihat hal positif setiap kejadian atau berpandangan optimis bahwa keanekaragaman yang ada adalah suatu anugerah dan keunikan yang menjadi ciri khas suatu negara. Hidup rukun, perdamaian, keselamatan merupakan hal-hal yang diajarkan setiap agama. Namun, sebaliknya jika kekerasan, peperangan, dan hal sejenisnya bukanlah pesan sesungguhnya dari setiap agama. Akan tetapi terjadi karena pencampuran faktor lain yang secara internal adanya penafsiran-penafsiran terhadap kitab-kitab suci yang mengarahkan pada pemahaman legitimasi dalam ajaran agama.

Pesan-pesan dasariah agama ini bersifat universal dan berlaku untuk semua umat manusia, dan tidak terbatasi oleh pelembagaan formal agama-agama, karena justru agama-agama dengan caranya sendiri mengajarkan soal-soal tersebut (Rachman, 2001).

Toleransi bukan hanya dapat dilakukan secara aktif dengan terjun lamgsung mengambil sikap dan menyuarakannya, namun ada yang lebih mendalam yaitu ketika kita mampu menahan diri dari tindakan yang tidak disetujui dan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk melaksanakan keyakinannya tanpa harus diikuti. (Maulina Sri Wahyuni/JT)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: