METRUM
Jelajah Komunitas

Walikota Keturunan Kamboja Pertama Dilantik di Amerika Serikat

SEORANG pengungsi yang selamat dari pemerintahan brutal Khmer Merah telah menjadi orang Kamboja pertama sebagai walikota di Amerika Serikat.

Sokhary Chau, seorang anggota dewan kota di Lowell, Massachusetts, dengan suara bulat dipilih oleh rekan-rekan dewannya untuk mengambil posisi teratas sebagai walikota pada hari Senin (3/1/2022), seperti dilansir dari VOA. Dia juga menjadi walikota keturunan Asia pertama di kota itu.

Sokhary Chau, keturunan Kamboja pertama jadi walikota di AS.
Sokhary Chau, keturunan Kamboja pertama jadi walikota di AS.*

“Tuhan memberkati Amerika, kan? Saya adalah seorang pengungsi, sekarang saya walikota sebuah kota besar di Massachusetts,” kata pria berusia 49 tahun itu, yang bekerja sebagai pegawai negeri Badan Jaminan Sosial AS, setelah dilantik secara resmi.

“Saya tidak tahu apakah itu bisa terjadi di tempat lain di dunia. Saya masih mencoba merenungkan bagaimana ini bisa terjadi di sini,” tambahnya.

Chau, dalam pidato pengukuhannya, menceritakan pelarian berbahaya keluarganya dari Kamboja, sekaligus merefleksikan tentang Lowell, bekas kota industri yang memiliki akar imigran yang dalam.

Terletak di tepi Sungai Merrimack dekat garis negara bagian dengan New Hampshire, Lowell adalah pusat awal industri tekstil Amerika, menarik gelombang imigran Eropa dan Amerika Latin dari generasi ke generasi.

Saat ini, sekitar 25% warga kota berpenduduk lebih dari 115.000 itu adalah orang Asia dan rumah bagi komunitas Kamboja terbesar kedua di Amerika.

“Sebagai orang Amerika keturunan Kamboja yang bangga, saya berdiri di atas bahu banyak imigran yang datang sebelum saya untuk membangun kota ini,” kata Chau Senin di depan kerumunan yang termasuk istri dan dua putranya yang masih remaja.

Chau menceritakan bagaimana ayahnya, seorang kapten tentara Kamboja, dieksekusi oleh komunis Khmer Merah pada tahun 1975 ketika berlangsung perang saudara di negara itu.

Dia mengatakan ibunya, yang meninggal tahun lalu, berhasil menjaga tujuh anaknya tetap hidup selama empat tahun, selamat dari “ranjau darat, hutan belantara, kelaparan, penyakit, dan ketidakpastian” untuk mengantarkan mereka dengan selamat ke AS.

Chau mengatakan Amerika mungkin tidak memiliki “jalanan yang diaspal dengan emas” seperti yang dibayangkan keluarganya saat tinggal di kamp pengungsi, tetapi Amerika adalah tanah di mana demokrasi dimungkinkan karena “sistem checks and balances” (saling kontrol antar lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif untuk menjamin keseimbangan kekuasaan), dan adanya prinsip-prinsip seperti keadilan, kesetaraan, dan transparansi.

Dalam sebuah wawancara kemudian, Chau mengatakan dia berusia sekitar 9 tahun ketika keluarganya mulai dimukimkan di Pittsburgh, Pennsylvania, dengan bantuan Gereja Katolik. (M1-VOA/lt/jm)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: