METRUM
Jelajah Komunitas

Wayang Jemblung, Tradisi Mendongeng Masyarakat Banyumas

WAYANG Jemblung merupakan pertunjukan wayang wong yang berasal dari daerah Banyumas yang terletak di kaki Gunung Slamet dan Bagelen, lalu mengalami persebaran sampai di kerajaan Daha Kediri dan menyebar luas sampai di Kabupaten Blitar.  

Jemblung berasal dari istilah jenjem-jenjeme wong gemblung (Tentram-tentramnya orang gila) yang mengandung maksud, walaupun dalam pertunjukannya berlaku seperti orang gila, tetapi dalam ceritanya mengajarkan nilai-nilai luhur tentang etika dan moral serta pesan-pesan yang baik kepada masyarakat.

Namun, ada sumber lain yang menyebutkan bahwa kata jemblung berasal dari cerita yang disajikan, yaitu cerita Menak. Di dalam cerita tersebut terdapat tokoh bernama Jemblung Umarmadi (salah satu keluarga Wong Agung Menak Jayengrana) yang memiliki ciri khas berperut buncit.  

Kapan tradisi ini muncul tidak diketahui secara pasti, tetapi tradisi ini muncul karena pengaruh kehidupan sosial masyarakat Banyumas sejak dari nenek moyang yaitu rangkaian hidup tolong-menolong sesama warga terutama saat upacara kelahiran bayi. 

Tradisi ini disebut sepasaran bayi (selamatan yang dilakukan saat bayi berumur lima hari) dengan diadakannya macanan atau macapatan (tembang atau puisi tradisional Jawa) yang kemudian biasa disebut acara muyen (menjenguk bayi yang baru lahir). Tapi kesenian ini bisa juga dipentaskan untuk keperluan acara lain seperti pernikahan, khitanan, syukuran, kaul dan lain-lain.

Kesenian wayang jemblung awalnya dimainkan oleh satu orang, namun sesuai perkembangan pertunjukan ini disajikan oleh 5 orang atau lebih yang bertindak sebagai dalang sekaligus sebagai wayang, pemusik, dan sinden.

Uniknya, musik pengiring pertunjukan wayang jemblung tidak diiringi menggunakan alat musik gamelan seperti pada sajian wayang pada umumnya tapi musik iringannya dilantunkan dengan mulut yang mengeluarkan bunyi-bunyian meniru suara gamelan. Musik diolah dari suara mulut pemain dan penonton.

Dikarenakan kesenian ini disajikan dengan posisi duduk, maka peyajiannya benar-benar memfokuskan pada seni suara berupa cerita dan dialog tanpa gerakan tubuh, tapi lebih pada mimik muka (ekspresi wajah).

Sedangkan cerita yang disajikan berasal dari cerita pewayangan seperti Cerita Menak, Serat Ambya, Babad Banyumas, Babad Pasir Luhur, Babad Tanah Jawi dan sejenisnya

Namun sesuai perkembangan zaman, wayang jemblung yang tadinya disajikan hanya dengan dialog antar para dalang jemblung, lalu dibuatlah dalam bentuk wayang berbahan baku lintingan kertas koran bekas yang dibuat sesuai karakter yang ada di tokoh pewayangan dan disetiap akhir pertunjukan wayang-wayang jemblung tersebut akan diberikan kepada penonton khususnya anak-anak secara gratis. (Vey si Sendal Jepit)***  

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.