Wisuda Unla ke-49: 596 Lulusan Unla Ditantang Tak Sekadar Bawa Ijazah, tapi Harus Punya Kompetensi
KOTA BANDUNG (METRUM) – Gelar akademik tak lagi cukup menjadi modal memasuki dunia kerja. Di tengah gempuran kecerdasan buatan (AI), transformasi digital, perubahan karakter pekerjaan, dan kompetisi global, lulusan perguruan tinggi dituntut mampu membuktikan kompetensi sekaligus memberi solusi atas persoalan nyata.
Pesan itu ditegaskan Rektor Universitas Langlangbuana (Unla), Irjen Pol. (P) Dr. Drs. A. Kamil Razak, S.H., M.H., saat Sidang Terbuka Senat dalam rangka Wisuda Unla ke-49 Gelombang II Tahun Akademik 2025/2026 di Bandung Convention Centre (BCC), Jl. Soekarno-Hatta No.354, Kota Bandung, Rabu (26/8/2026).
Sebanyak 596 lulusan diwisuda dalam agenda tersebut. Mereka terdiri atas 502 lulusan program sarjana dan 94 lulusan program magister. Dari jenjang S1, lulusan berasal dari Fakultas Hukum 92 orang, Fakultas Ekonomi dan Bisnis 152 orang, FISIP 119 orang, FKIP 66 orang, serta Fakultas Teknik 73 orang.
Kamil mengatakan perubahan di sektor pendidikan tinggi bergerak semakin cepat. Persaingan antarperguruan tinggi semakin ketat, sementara masyarakat semakin kritis dalam memilih institusi pendidikan.
“Perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, transformasi digital, perubahan karakter dunia kerja, serta semakin terbukanya kompetisi global menuntut lulusan perguruan tinggi tidak hanya memiliki penguasaan ilmu pengetahuan,” kata Kamil.
Menurut dia, lulusan juga wajib memiliki kemampuan beradaptasi, berkolaborasi, berpikir kritis, menciptakan inovasi, hingga menghadirkan solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat.
Akreditasi Unggul Bukan Garis Akhir
Kondisi tersebut menjadi alasan Unla mempercepat transformasi kelembagaan. Sejumlah program studi telah meraih predikat Akreditasi Unggul, di antaranya Hukum, Ilmu Kesejahteraan Sosial, Ilmu Pemerintahan, Akuntansi, dan Ilmu Komunikasi.
Namun, Kamil menegaskan akreditasi tidak boleh berhenti sebagai pencapaian administratif.
“Akreditasi Unggul bukanlah tujuan akhir. Akreditasi harus menjadi bagian dari budaya mutu,” tegasnya.
Budaya mutu, kata dia, harus menyentuh seluruh lini kampus, mulai dari pembelajaran, penelitian, pelayanan mahasiswa, tata kelola, kompetensi dosen dan tenaga kependidikan hingga kualitas lulusan.
Unla juga didorong tidak sekadar menjadi tempat transfer pengetahuan dari dosen kepada mahasiswa. Kampus harus menjadi ruang lahirnya ilmu baru, penelitian berkualitas, inovasi, gagasan, dan solusi untuk persoalan masyarakat.
Transformasi itu antara lain diwujudkan melalui pengembangan sarana pendidikan dengan rencana pembangunan Kampus II di kawasan Cimekar. Kampus tersebut diproyeksikan terutama untuk pengembangan program studi di Fakultas Teknik serta Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.
“Kami berharap kehadiran Kampus II nantinya tidak sekadar menambah bangunan fisik, tetapi benar-benar menciptakan ekosistem akademik baru yang nyaman bagi mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan dalam melaksanakan proses pendidikan dan pembelajaran,” kata Kamil.

Unla Perkuat OBE dan Sertifikasi Kompetensi
Untuk menjawab tuntutan dunia kerja yang dinamis, Unla memperkuat kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE). Kurikulum itu diarahkan pada capaian pembelajaran dan kompetensi lulusan dengan melibatkan pengguna lulusan, alumni, dunia usaha, dunia industri, dunia kerja, asosiasi profesi, dan pemangku kepentingan lainnya.
“Kami ingin lulusan Universitas Langlangbuana tidak hanya mengatakan, ‘Saya memiliki ijazah,’ tetapi juga mampu menunjukkan, ‘Saya memiliki kompetensi,’” ujarnya.
Untuk memperkuat daya saing, Unla juga mendorong mahasiswa memperoleh sertifikasi kompetensi melalui LSP-P1 sesuai bidang ilmu dan keterampilan masing-masing.
Di saat bersamaan, kerja sama strategis dengan pemerintah, perguruan tinggi, serta dunia usaha dan industri terus diperluas. Kerja sama itu mencakup riset bersama, pertukaran akademis, hingga kesempatan magang untuk memperkuat pengalaman profesional dan kesiapan lulusan menghadapi dunia kerja.
Kamil mengingatkan para wisudawan bahwa prosesi wisuda bukan garis finis.
“Wisuda bukanlah akhir dari perjalanan. Justru hari ini merupakan awal dari tanggung jawab yang jauh lebih besar,” katanya.
Ia meminta alumni menjaga nama baik almamater melalui karya, prestasi, integritas, profesionalisme, dan pengabdian.
Sementara itu, Ketua Pembina Yayasan Pendidikan Tribakti Langlangbuana (YPTBL), Komjen Pol (Purn) Drs. H. Nana S. Permana, menekankan pentingnya integritas di tengah persaingan kerja yang semakin ketat.
Ia mengingatkan bahwa kecerdasan akademik tanpa karakter dan kejujuran akan kehilangan makna. Menurutnya, dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat akan menguji kemampuan lulusan bukan hanya dari sisi akademik, tetapi juga karakter, integritas, dan kemampuan menghadapi perubahan zaman.
Lulusan Terbaik dan Tantangan Era AI
Dalam wisuda tersebut, Unla juga memberikan penghargaan kepada lulusan terbaik di masing-masing fakultas. Sofia Nazmatul Alqibtiah dari Program Studi Pendidikan Ekonomi, FKIP, menjadi lulusan dengan IPK tertinggi 4,00. Disusul Rahmayanti dari Ilmu Pemerintahan dengan IPK 3,99 dan Basana Fanuel Simanjuntak dari Ilmu Hukum dengan IPK 3,97.
Lulusan terbaik lainnya yakni Yesa Selfia dari Akuntansi dengan IPK 3,92, Winda Nur Septya dari Teknik Industri dengan IPK 3,87, serta Boyke Darmajaya dari Program Magister Ilmu Hukum dengan IPK 4,00.
Kepala LLDIKTI Wilayah IV Jawa Barat dan Banten, Dr. Lukman, S.T., M.Hum., turut mengingatkan bahwa perkembangan teknologi dan AI merupakan peluang sekaligus tantangan.
Menurutnya, lulusan perguruan tinggi tidak boleh sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi harus mampu bertransformasi menjadi AI-Collaborator.
“Bukan digantikan, tapi diberdayakan. Jadilah lulusan yang J.A.G.O: Jejaring, Adaptif, Gesit, serta Orisinal dan Otentik,” ujarnya.
Lukman juga mendorong lahirnya Entrepreneur 5.0 yang memiliki pola pikir berbasis data, kemampuan memecahkan persoalan kompleks, kecerdasan emosional, dan agile mindset. Di atas semua itu, ia menitipkan prinsip Agile Integrity sebagai kompas moral bagi para lulusan.
“Majulah tanpa menyingkirkan, naiklah tanpa menjatuhkan, jadilah benar tanpa menyalahkan, dan jadilah baik tanpa menjelekkan,” katanya.
Sidang Terbuka Senat Unla tersebut turut dihadiri para wisudawan dan keluarga, Ketua LLDIKTI Wilayah IV, perwakilan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan pimpinan daerah, jajaran Polda Jawa Barat serta Kodam III/Siliwangi. Hadir pula sejumlah pejabat TNI-Polri, pimpinan perguruan tinggi mitra, perwakilan mitra DUDIKA, pengurus Yayasan Pendidikan Tri Bhakti Langlangbuana, Guru Besar dan anggota Senat Unla, pejabat struktural, dosen dan tenaga kependidikan, pimpinan serta pengurus Ikawula, pengurus IKA Unla, pengurus BEM/DPM Unla, serta para tamu kehormatan.(M1)***
Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.