Studi Ungkap Rahasia Jalan Kaki Sehat: Bukan Jumlah Langkah, Tapi Durasi Tanpa Henti
BANYAK orang meyakini bahwa memenuhi target ribuan langkah setiap hari sudah cukup untuk menjaga kesehatan. Namun penelitian medis terbaru menunjukkan fakta berbeda: bukan hanya jumlah langkah yang penting, tetapi juga cara berjalan.
Jalan kaki yang dilakukan secara terputus-putus sepanjang hari ternyata tidak memberikan dampak olahraga yang optimal bagi tubuh.
Dokter Chang Chia-ming mengutip hasil studi besar pada 2025 yang melibatkan lebih dari 30.000 partisipan. Penelitian tersebut menemukan bahwa orang yang berjalan tanpa henti selama lebih dari 15 menit memiliki tingkat kematian lima kali lebih rendah dan risiko penyakit kardiovaskular tiga kali lebih kecil dibanding mereka yang berjalan dalam durasi pendek dan terpecah-pecah.
Secara fisiologis, tubuh manusia tidak hanya menghitung langkah, tetapi juga merespons durasi aktivitas. Jalan kaki singkat sekitar 3–5 menit belum cukup untuk memicu reaksi penting dalam tubuh.
Sebaliknya, saat seseorang berjalan terus-menerus selama 10 hingga 15 menit, detak jantung meningkat dan aliran darah menjadi lebih lancar. Pada fase ini, sel pembuluh darah mulai melepaskan oksida nitrat yang berperan dalam melindungi sistem kardiovaskular.
Proses inilah yang menjadi sinyal olahraga bagi tubuh dan memicu mekanisme perbaikan serta perlindungan alami.
Karena itu, para ahli menyarankan perubahan kebiasaan berjalan kaki. Daripada sekadar mengumpulkan langkah secara acak sepanjang hari, masyarakat dianjurkan menjadwalkan sesi berjalan kaki fokus minimal 15 menit setiap hari.
Kombinasi yang direkomendasikan adalah mencapai sekitar 7.000 langkah harian dengan satu sesi jalan kaki berkelanjutan selama 15 menit.
Perubahan sederhana ini dinilai lebih efektif untuk menekan peradangan, memperbaiki metabolisme tubuh, serta menjaga kesehatan jantung. (M1-RTI)***
Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.