METRUM
Jelajah Komunitas

Apa yang Salah dengan Susur Sungai?

Oleh Dr. Heri Andreas, S.T., M.T.*

BAGI orang Geologi, kegiatan menyusuri sungai merupakan suatu hal yang sangat lazim dilakukan, bahkan bisa dibilang sebagai salah satu kegiatan utama para Geolog. Sungai merupakan tempat singkapan lapisan bumi, yang dicari cari supaya Kita dapat memahami bumi.

Saat ini sedang ada kasus meninggalnya 10 siswa SMPN 1 Turi saat kegiatan ekstrakulikuler Pramuka, menyusuri sungai. Tiga Pembina Pramuka yang juga merupakan Guru menjadi tersangka karena dianggap lalai.

Menarik untuk ditelaah, apa yang salah dengan program susur sungai dan kenapa dibilang lalai. Programnya rasanya sama sekali tidak salah! Merujuk pada kegiatan Geolog di atas. Pembina Pramuka mungkin ingin memberi edukasi bagaimana kita bisa belajar tentang alam. Lalu apakah lalai? Diceritakan bahwa ada kondisi cuaca mendung dan sedikit hujan, sehingga mungkin akan ada banjir bandang, ada yang mengingatkan dan terbukti banjir itu datang. Untuk itu Pembina lalai karena kegiatan tetap dilaksanakan. Kalau ternyata banjir bandang itu tidak datang, apakah masih dibilang lalai?

Sekarang apa bedanya dengan peringatan yang diberikan oleh BMKG, tidak diindahkan, akhirnya banjir datang dan 70 orang kehilangan nyawa, dengan kasus di atas? Kalau kita analogikan pihak berwenang sama dengan para Pembina, mengapa mereka tidak sama-sama menjadi tersangka?

Logika akal sehatnya kalau kita mengambil istilah Bang Gerung, sama sama ada peringatan, sama sama ada korban, namun berbeda dalam urusan tersangka nya. Apakah logikanya menjadi sakit?

Apakah ada niat buruk dari para Pembina Pramuka untuk mencelakakan murid-murid tersayangnya? Rasanya tidak! Masalahnya hanya di perbedaan membaca mitigasi dan peringatan dini semata. Mungkin yang kita rasa aman ternyata tidak, atau sebaliknya. Lalu apakah kesalahan mitigasi dan peringatan dini menjadi kesalahan mutlak dan berujung tersangka?

Kembali lagi kalau kita gunakan akal sehat, maka urusan mitigasi dan peringatan dini akan tergantung kepada kemampuan. Apabila belum mampu lalu menjadi salah? Lalu bagaimana kalau sudah mampu namun kita abai? Kalau demikian adanya, maka akan sangat banyak sekali tersangka di bumi Indonesia ini!

Jadi apa yang salah dangan susur sungai? Sekali lagi jawabannya tidak ada! Apa tersangka benar benar bersalah? Jawabannya bisa jadi tidak, tergantung sesehat apa logikanya! Lalu apa yang salah dengan kita semua? Kita belum memahami arti sejati mitigasi dan peringatan dini!***

*Penulis Dosen ITB dan Pegiat di Bandung Mitigasi Hub (BMH)

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: