METRUM
Jelajah Komunitas

Secercah Harapan di Saat Pandemi Melanda

Oleh Rivanka Haekal R*

PANDEMI Covid-19 saat ini menjadi isu Global. Sudah hampir menginjak 2 tahun, setiap harinya kita disuguhkan berita tentang banyaknya jumlah korban yang terkena wabah ini, yang kian hari kian bertambah jumlahnya.

Pemerintah pun memberlakukan protokol kesehatan yang wajib dipatuhi oleh seluruh masyarakat seperti memakai masker apabila berada di luar rumah dan menjaga jarak aman dengan orang lain.

Selain itu, adanya peraturan baru yang menjadikan semua aktivitas masyarakat harus tetap di rumah yaitu peraturan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berlevel dan dalam pelaksanaannya terus diperpanjang.

Sebagian besar kegiatan masyarakat menjadi terganggu, seperti kegiatan belajar mengajar secara tatap muka ditiadakan dan mengharuskannya dilakukan secara daring di semua jenjang pendidikan. Proses administrasi di Pemerintah baik pusat maupun daerah wajib mengikuti protokol kesehatan yang berlaku.

Masuknya virus ke Indonesia sangat berpengaruh besar dalam kehidupan masyarakat, terutama dalam hal ekonomi. Pandemi Covid-19 ini telah melumpuhkan kehidupan ekonomi masyarakat. Banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaannya sehingga akan berpengaruh pada pendapatan upah setiap harinya.

Bagi banyak orang hal ini menjadikannya untuk mencari sebuah solusi agar bisa menemukan pencaharian guna memenuhi kebutuhan dan keinginan.

Hari demi hari terlalui, pekan demi pekan terlewati.

Bagi saya, yang terbesit dibenak kepala hanya “Saya cuman punya basic fotografi” karena memang itu hobi pribadi. Ketika itu, saya berpikir, bagaimana untuk meringankan beban keluarga di situasi sulit seperti ini.

Pengalaman demi pengalaman saya dapatkan, sebelum pandemi Covid-19 ini saya hanyalah seorang yang sering memotret tim futsal suatu akademi di Kota Bandung.

Memotret futsal vamos (Foto: Dokumen Pribadi/Rivanka Haekal R).*

Itupun berawal dari ajakan teman saya, bermodalkan kamera seadanya dan tekad. Untuk awalan memang susah juga sports photography itu, membuat otak mikir ketika akan di foto, harus mencari momentum yang pas dan menciptakan momen. Akan tetapi seru juga hingga akhirnya masih suka dipercaya sampai saat ini untuk menggunakan jasa saya.

Lalu, setelah pandemi ini melanda, berawal dari tawaran teman, untuk mendokumentasikan acara tunangannya. Dengan bayaran alakadarnya saat itu. Hanya bermodalkan kamera DSLR yang sudah berumur satu dekade, saya memberanikan diri untuk mengambil tawaran tersebut. Memang promosi paling mudah adalah rekomendasi dari mulut ke mulut. Setelah itu, selang beberapa bulan saya ditawari lagi untuk memotret tunangan kerabat teman saya.

Foto tunangan (Foto: Rivanka Haekal R).*

Alhamdulillah Saya bisa dipercaya oleh keluarga teman saya untuk mendokumentasikan. Rasa percaya diri pun mulai terbentuk. Yang dulunya ketika memotret kadang gugup dan ragu takut hasilnya jelek.

Lalu, Saya iseng membuat sebuah akun di Instagram dengan menawarkan jasa foto dan video. Dan mulai membagikan foto-foto yang pernah saya potret di dunia maya. Syukur ada teman yang membutuhkan jasa foto pre-wedding dan menawari kepada saya untuk mendokumentasikannya.

Dari situlah harga tarif mulai saya pasang, meskipun ada saja tawar menawar dengan alasan “harga teman dong”.

Foto Pre-wedding (Foto: Rivanka Haekal R).*

Dari beberapa job yang didapatkan, saya mendapatkan uang untuk membeli kebutuhan, dan saya kumpulkan untuk membeli peralatan penunjang fotografi seperti lensa, yang dulunya meminjam ke teman atau nyewa sekarang sudah punya sendiri.

Memang tak sebanyak fotografer lain ketika mendapatkan job, yang dalam satu pekannya dapat 3-4 job. Saya hanya menunggu ada tawaran saja. Sepi memang dan jarang sekali.

Tak habis pikir, untuk mencari alternatif solusi bagaimana caranya saya mendapatkan uang sambil kuliah. Berawal diajak teman komplek yang bekerja di Kantor Pos membagikan bantuan sosial langsung dan tidak langsung di desa desa, saya bekerja sekitar 3 bulan dengan bayaran upah harian, tetapi sangat disyukuri.

Kerja di kantor pos (Foto: Dokumen Pribadi/Rivanka Haekal R).*

Setelah bekerja di Kantor Pos, saya sudah tak biasa hidup hanya bangun, kuliah daring, makan, dan tidur saja. Hidup yang gitu-gitu aja. Saya ikut kerja dengan paman saya yang bekerja di bidang pengukuran tanah. Awalnya saya mencobanya dulu dalam satu pekan, takutnya saya ga bisa dan kurang tertarik. Tapi ya karena saya butuh, akhirnya saya ikut bekerja dengan paman saya.

Diajarkan dari dasar, lalu mulai mengerti, dan akhirnya saya bisa.

Kerja jadi surveyor (Foto: Dokumen Pribadi/Rivanka Haekal R).*

Hanya berjalan dua bulan saya bekerja dengan paman saya. Bukan karena capai tak sanggup, tapi sering bentroknya dengan perkuliahan di kampus. Saya tidak enak saja, dan ingin fokus kuliah karena sudah mau memasuki semester 6 saat itu.

Setelah itu, saya mendapatkan gaji 2 bulan kerja. Saat itu senang, sedih yang saya rasakan, dalam hati kecil berbisik “Oh begini ya rasanya dapat uang dari hasil keringat sendiri”. Dan saya bangga dengan diri saya karena bisa memberi ke Ibu saya sedikit uang untuk pertama kalinya. Membeli keinginan saya sendiri, dan tak lupa akan bisnis jasa foto saya. Tentunya saya membeli peralatan penunjang lainnya.

Pandemi ini belum berakhir, malah semakin ganas wabah ini. Lalu Indonesia dinyatakan darurat kasus Covid-19 pada beberapa bulan lalu. Beberapa aturan Pemerintah pun diumumkan. Seperti mengurangi mobilitas, pembatasan sosial, dan lain-lain. Pandemi Covid-19 ini bagaikan buih di lautan, terombang-ambing.

Tapi ada saja yang melaksanakan acara pernikahan dan lainnya, dengan syarat dan ketentuan berlaku, menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Pucuk dicinta, ulam pun tiba.

Foto pernikahan (Foto: Rivanka Haekal R).*

Ada saja job yang datang ke saya, meskipun masih dari rekomendasi mulut ke mulut.

Pandemi ini memang belum berakhir. Berbagai hal-hal sulit ini harus dilewati. Namun hal ini tidak membuat saya hanya berpangku tangan dan pasrah menanti berakhirnya wabah ini. Sehingga harus pintar mulai putar otak agar bisa tetap bertahan di masa-masa yang sulit ini. Berharap wabah ini segera berakhir. Tetap semangat, jangan menyerah!***

*Penulis, Mahasiswa Stikom Bandung

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: