Badai Siklon Terjang Asia Tenggara: Lebih dari 300 Tewas, Indonesia-Thailand Alami Bencana Terparah
TAIWAN, ROC (METRUM) – Asia Tenggara tengah diterjang badai siklon tropis yang memicu hujan ekstrem dan banjir besar dalam beberapa hari terakhir. Bencana ini merenggut lebih dari 300 jiwa di Indonesia, Thailand, dan Malaysia, sementara proses evakuasi di berbagai lokasi masih terhambat cuaca buruk dan kondisi medan yang berat.
Indonesia: Sumatra Barat Jadi Titik Terparah
Wilayah paling terdampak berada di bagian barat Pulau Sumatra, khususnya Maralak, Sumatra Barat. Banjir bandang dan longsor yang dipicu hujan deras tanpa henti menewaskan sedikitnya 174 orang, sementara sekitar 80 lainnya dinyatakan hilang.
Sejumlah kisah penyintas menggambarkan dahsyatnya bencana. Misniadi (53), salah satu warga yang selamat, menuturkan bahwa ketika ia tiba di rumah, air sudah mencapai dada. Ia dan suaminya terjaga sepanjang malam, memantau ketinggian air yang terus meningkat.
Thailand: Kamar Mayat Penuh, Jenazah Disimpan di Truk Berpendingin
Di Thailand selatan, banjir besar melanda Kota Hat Yai dan wilayah sekitar di Provinsi Songkhla. Pemerintah mencatat 145 korban meninggal dunia. Skala bencana begitu besar hingga kamar mayat rumah sakit tidak lagi mampu menampung jenazah, memaksa petugas menyimpan sebagian korban di truk kargo berpendingin.
Seorang warga bernama Kangban (67) menceritakan bagaimana ia harus menyelamatkan diri dengan perahu kecil setelah air mencapai langit-langit lantai dua rumahnya.
Malaysia: Banyak Wilayah Terisolasi
Malaysia juga mengalami dampak serius, meski data resmi korban belum dirilis. Laporan lapangan menyebutkan sejumlah komunitas terjebak banjir dan warga terpaksa bertahan di atap rumah sambil menunggu pertolongan tiba.
Perubahan Iklim Jadi Sorotan
Para pakar menilai rangkaian bencana ini tak lepas dari pengaruh perubahan iklim. Konsultan iklim Malaysia, Siew Yoong Kien, menjelaskan bahwa meningkatnya suhu laut memicu frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem.
“Dampak perubahan iklim kini semakin nyata,” ujarnya.
“Ke depan, bencana semacam ini bisa terjadi lebih sering dan makin sulit diprediksi.”
Peringatan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa banjir besar yang melanda Asia Tenggara kali ini mungkin merupakan gambaran dari kondisi yang akan terus memburuk bila krisis iklim tidak segera ditangani serius. (M1-RTI)***
Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.