METRUM
Jelajah Komunitas

Bicara Soal Kehidupan dan Sekolah di Australia Bersama Keluarga The Lindeberg

KOMUNITAS (Re)aksi Remaja Garut menyiarkan episode ke-3 Program Acara Reaksi Remaja dengan tema “Kehidupan dan sekolah di Australia bersama keluarga The Lindeberg” pada Minggu, 13 September 2020 di Metrum Radio.

The Lindeberg menceritakan bahwa di Australia angka kasus orang terjangkit virus corona sudah mulai turun dan membaik, namun masih diberlakukan lockdown dan beberapa aturan lain untuk mencegah bertambahnya angka penyebaran dan kematian akibat wabah Covid-19 ini. 

Zulfan, sebagai host pada episode kali ini mengawali perbincangan dengan bertanya mengenai perbedaan sekolah di Indonesia dan di Australia. “Yang pasti bahasanya beda banget,” ujar Izza dari keluarga the Lindeberg yang bersekolah di Australia. Namun di Australia sistem belajarnya lebih santai dan guru-gurunya tidak terlalu ketat dalam mengajar. Juga, tugas-tugas hafalannya tidak terlalu banyak membebani siswa seperti cara menghafal di sekolah Indonesia. Selain itu, di Australia hari libur sekolahnya lebih lama, seperti pada saat libur musim panas bisa sampai 1-2 bulan.

Untuk sistem pendidikan sekolah setingkat sekolah dasar (SD), Australia menerapkan pendidikan selama tujuh tahun atau sampai kelas 7. Ini berbeda dengan Indonesia yang hanya menerapkan 6 tahun saja. Namun sistem pendidikan 7 tahun tersebut juga tergantung pada kebijakan sekolahnya. Untuk kelas 11 dan 12, di sana tidak hanya diberikan pendidikan formal seperti di SMA, tetapi juga pendidikan nonformal seperti bekerja di suatu tempat atau bisa disebut juga dengan magang.

Oleh karena itu, tidak heran apabila banyak sekali yang memutuskan untuk berhenti sekolah pada saat menginjak kelas sepuluh dan mulai bekerja, lalu bersekolah dengan sistem sekolah terbuka seperti kuliah. Jadi anak-anak di sana bisa bekerja sambil sekolah. Banyak anak-anak usia remaja yang sudah tinggal sendiri atau pisah dari orang tua karena sudah mempunyai pegangan sendiri.

Sebelum virus corona datang, Australia adalah tempat yang enak dan nyaman untuk tinggal. Tapi semenjak pandemi COVID-19 datang sekira 6 bulan yang lalu, Australia mulai memberlakukan lockdown dan segala usaha dalam pencegahan penyebaran virus corona sehingga negara ini menjadi tidak senyaman dulu karena gerak dan aktivitas masyarakat menjadi terbatas.

Kegiatan keluarga The Lindeberg sebelum diberlakukan lockdown yaitu menjalani hari seperti biasanya, disibukkan dengan pekerjaan terutama Tim yang bekerja di bidang videografi. Namun semenjak virus mewabah, demi keamanan dan kesehatan, Tim mulai fokus pada kuliahnya di Master of Counseling.

Untuk tingkat SMA dan SMK, di sana tempatnya tidak dipisah seperti di Indonesia. Lokasi sekolahnya justru disatukan dan siswa SMA bisa mengambil jurusan-jurusan yang ada di SMK. Untuk penjurusan di SMA, seperti layaknya sekolah menengah atas di Indonesia, banyak hafalan, teori dan semacamnya. Sedangkan jurusan di SMK, tidak sekadar teori, tetapi lebih menitikberatkan pembelajaran praktek dan pengaplikasiannya dalam kehidupan.

Di Victoria, negara bagian Australia tempat keluarga The Lindeberg berdomisili, ada jurusan V-tech yang tipenya itu melatih skill secara langsung di tempat kerja yang sesuai dengan minat dan kemampuan yang dipilih atau diambil. Tidak hanya belajar, tetapi hampir mirip seperti kerja. Tahun ajaran baru di Australia diselenggarakan mulai dari bulan Januari hingga Februari. Satu tahun ajaran terdiri dari 4 term atau 4 semester dan setiap semesternya diselangi libur selama dua minggu.

Lebih jauh, Zulfan bertanya mengenai apa yang menyebabkan orang-orang di Australia dapat menjalani kehidupan yang begitu santai? Tim menjawab bahwa memang karena penduduknya lebih sedikit, yaitu sekitar 21-22 juta penduduk dalam satu negara atau setengah dari jumlah penduduk Provinsi Jawa Barat di Indonesia sehingga terhindar dari permasalahan seperti macet, kekumuhan dan lain sebagainya. Perekonomian disana juga lebih maju. Pendapatan pekerja di Australia ini dalam satu harinya sama dengan penghasilan bekerja satu bulan di Indonesia. Dan selalu ada lowongan pekerjaan bagi orang yang membutuhkannya.

Izza mengaku bahwa sering sekali rindu dengan makanan-makanan khas sunda dan Indonesia, seperti seblak, cakwe, dan makanan lainnya. Namun keluarga The Lindeberg memilih untuk mengobati rindunya dengan sering membuat sendiri makanan indonesia di rumah.

Untuk trend lagu, film dan semacamnya Australia mengikuti ke gaya trend dan culture Amerika dan juga Eropa. Di Australia juga banyak sekali komunitas-komunitas remaja seperti klub-klub dan banyak komunitas tersebut disupport oleh pemerintah Australia. Selain itu, ada juga komunitas remaja yang dibuat berdasarkan kesamaan hobi, seperti komunitas anak-anak pecinta skateboard, sepeda, dan semacamnya.

Pada akhir acara, Teh Emi memberikan beberapa pesan untuk para remaja Garut, Bandung, dan Indonesia pada umumnya. “Pesan dari kami, selama kalian masih muda, saat masa-masa menjelajah, gali terus apa yang ingin kalian jelajahi, karena banyak sekali potensi yang belum kalian kembangkan. Jangan sampai kalian terkungkung pada situasi dan lingkungan yang sama. Berusahalah untuk melihat dunia lain, supaya pandangannya lebih terbuka untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan,” ujar Emi mengakhiri perbincangan. (Sapitri Sri Mustari)***

komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: