METRUM
Jelajah Komunitas

Bisnis Lesu, Banyak Restoran Terancam Gulung Tikar

PERHIMPUNAN Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) memprediksikan hingga 30 persen restoran di Jakarta akan gulung tikar akibat pemberlakuan pembatasan sosial terkait penanggulangan pandemi virus corona.

“Restoran itu tidak lagi hanya berfungsi untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum. Tumbuhnya restoran itu bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan primer, tapi juga kebutuhan sekunder.”

Itu pernyataan Maulana Yusran, Sekjen PHRI, seperti dilansir dari VOA, saat mengungkapkan kekhawatirannya mengenai kemungkinan tutupnya banyak restoran menyusul berbagai langkah pembatasan sosial untuk menanggulangi pandemi virus corona.

Maulana Yusran. (Foto: Privat)
Maulana Yusran (Foto: Privat).*

Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) jilid 2, yang lebih ketat, yang mencakup pelarangan layanan makan di restoran memang sudah berakhir pertengahan Oktober lalu.

Namun, pembatasan sosial yang kini berlaku dengan sejumlah pelonggaran masih menekan operasi hampir semua restoran, umumnya restoran-restoran kecil yang bertebaran di banyak mal di Jakarta.

Banyak restoran kini memang sudah diperbolehkan membuka bisnisnya dengan kapasitas tampung dine-in (makan di tempat) 50 persen. Namun itu sulit direalisasikan restoran-restoran di mal, yang biasanya berukuran kecil, mengingat peraturan tersebut juga diikuti ketentuan jaga jarak antar pelanggan sedikitnya dua meter. Akibatnya, banyak di antara restoran itu yang kini terancam gulung tikar.

Kekhawatiran serupa dilontarkan Tutum Rahanta, anggota Dewan Penasihat Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo). Ia mengatakan, restoran sangat bergantung pada pergerakan orang. Dengan berkurang drastisnya pergerakan manusia, bisnis restoran menjadi lesu.

Restoran, terutama yang berada di mal-mal, katanya, tidak hanya berfungsi sebagai tempat makan, melainkan juga tempat bersosialisasi, tempat melangsungkan pertemuan bisnis dan bahkan tempat bekerja. Ia mengatakan, kini mal-mal membatasi pengunjung hingga 60 persen kapasitasnya, namun jumlah pengunjung yang datang rata-rata hanya 30 persen.

Berbagai program memang digelar pemerintah untuk mempertahankan bisnis restoran, termasuk pemberian stimulus dalam bentuk pinjaman dan hibah. Namun program-program itu hanya sedikit, atau bahkan tidak bisa, membantu sama sekali bisnis restoran di mal.

“Jadi apapun program yang dilakukan, saya kira akan sia-sia karena tidak banyak membawa impact pada penjualan kami. Karena masyarakat pasti akan menghindari keramaian,” jelasnya.

Restoran di sebuah mal di Jakarta terlihat sepi pengunjung, di tengah pandemi Covid-19. (Foto: PHRI)
Restoran di sebuah mal di Jakarta terlihat sepi pengunjung, di tengah pandemi Covid-19. (Foto: PHRI).*

Hippindo mencatat, saat ini, 50 persen penyewa di mal adalah restoran. Dengan adanya pembatasan makan di tempat, banyak restoran memangkas 70 hingga 80 persen jumlah karyawannya.

Menurut PHRI, banyak restoran kecil di mal berpenghasilan Rp 12-15 juta per hari, namun selama pandemi, pendapatan per hari mereka bisa merosot hingga Rp 500.000. Walhasil, banyak diantara restoran itu yang memilih tutup ketimbang merugi. Selain harus membayar gaji karyawan, mereka harus membayar biaya sewa tempat yang tidak murah.

PHRI memperkirakan sekitar 30 persen dari 5.000 ribu restoran di mal-mal di Jakarta, kemungkinan akan tutup dalam waktu dekat. Jumlah itu belum termasuk ribuan restoran kecil yang beroperasi di luar mal.

Wong Solo, salah satu jaringan restoran populer di Indonesia, termasuk, yang merasakan dampak itu. Mustaen, manajer restoran Wong Solo di Jeddah, Arab Saudi, menceritakan kesulitan yang dialami cabang-cabang restoran itu di berbagai penjuru Indonesia.

“Dari sekitar 8.000 karyawan, 6000 ribu terpaksa dirumahkan. Dari Aceh hingga Papua, kita mempunyai 280 outlet. Dari sekitar 30 karyawan di setiap outlet, kini kami hanya mempekerjakan 9-10 karyawan.” (M1-VOA/ab/uh)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: