METRUM
Jelajah Komunitas

BMKG: Potensi Gelombang Tinggi dan Banjir Pesisir di 19 Wilayah Indonesia

BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan potensi gelombang tinggi dan banjir pesisir pada 8 hingga 10 Desember 2021 di 19 wilayah Indonesia. Kecepatan angin berkisar 25-30 knot memberikan dampak peningkatan gelombang tinggi mencapai 4-6 meter di wilayah perairan Natuna.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati. (Foto: Courtesy/BMKG)
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati (Foto: Courtesy/BMKG).*

Dilansir dari VOA, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Rabu (8/12/2021) mengeluarkan peringatan mengenai potensi gelombang tinggi dan banjir pesisir (rob) yang diperkirakan terjadi mulai dari 8 hingga 10 Desember di 19 wilayah di Indonesia. Sembilan belas wilayah tersebut di antaranya Kepulauan Natuna, Bangka Belitung, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, dan Papua Barat.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyatakan berdasarkan pantauan kondisi atmosfer terkini, adanya pola sirkulasi siklonik dan seruakan dingin aktif di Laut China Selatan memberikan dampak signifikan pada peningkatan tinggi gelombang mencapai 4 hingga 6 meter di wilayah perairan Natuna.

Selain itu, kondisi kecepatan angin signifikan berkisar 25 hingga 30 knot terpantau di Samudera Pasifik timur Filipina juga memberikan dampak terhadap peningkatan tinggi gelombang mencapai 4-6 meter di wilayah utara Indonesia bagian timur.

Hal ini juga bersamaan dengan fase bulan baru dan kondisi Perigee (jarak terdekat bulan ke Bumi) yang berpotensi menyebabkan terjadinya peningkatan ketinggian pasang air laut maksimum yang lebih signifikan dan potensi banjir pesisir.

“Maka masyarakat diimbau untuk selalu waspada dan siaga untuk mengantisipasi dampak dari gelombang tinggi dan pasang muka air laut tersebut,” kata Dwikorita dalam konferensi pers yang disiarkan melalui YouTube BMKG.

Ia mengatakan gelombang tinggi dan banjir pesisir dapat berdampak pada terganggunya kegiatan terutama pada sektor perikanan tangkap, transportasi, aktivitas petani garam dan perikanan darat, serta bongkar muat kapal di pelabuhan.

Wisatawan menyaksikan ombak tinggi di Pantai Parangtritis, Yogyakarta, 19 Mei 2007. (Foto: REUTERS/Dwi Oblo)
Wisatawan menyaksikan ombak tinggi di Pantai Parangtritis, Yogyakarta, 19 Mei 2007 (Foto: REUTERS/Dwi Oblo).*

Upaya Mitigasi

Direktur Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Kementerian Kelautan dan Perikanan, Muhammad Yusuf, menyatakan pihaknya telah mengembangkan aplikasi Sistem Informasi Mitigasi Bencana dan Lingkungan bernama Simail yang memberikan informasi terkait cuaca dan operasional pelabuhan.

“Sistem informasi ini tersebar ke seluruh masyarakat pesisir yang memberikan peringatan bahwa pada hari ini atau dua hari ke depan jangan melaut karena kondisi perairan sedang menguntungkan,” papar Yusuf.

Kepala Pusat Meteorologi Maritim BMKG, Eko Prasetyo, mengungkapkan peringatan dini gelombang tinggi ekstrem dan banjir pesisir telah disampaikan ke pemerintah daerah, pengelola pelabuhan hingga ke masyarakat di 19 wilayah terdampak agar dapat mengambil langkah-langkah mitigasi (pengurangan risiko bencana) terutama di pemukiman masyarakat di pesisir pantai.

“Bahwasanya masyarakat pesisir di 19 wilayah tadi perlu melakukan upaya-upaya adaptasi dan mitigasi yang konkret agar tidak timbul kerugian-kerugian di masa mendatang,” kata Eko Prasetyo.

Ditambahkannya fase angin kencang diikuti gelombang tinggi serta fase pasang maksimum dan curah hujan intensitas lebat akan semakin menambah dampak tingginya genangan di perkampungan nelayan di pesisir.

BMKG menyampaikan ketinggian pasang air laut maksimum signifikan dan potensi banjir pesisir berpeluang terjadi kembali pada tanggal 18-22 Desember 2021 akibat adanya fenomena fase bulan purnama pada 19 Desember 2021. (M1-VOA/yl/ah)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.