METRUM
Jelajah Komunitas

Boseh Seru di Jembatan Suramadu

JEMBATAN Suramadu (Surabaya – Madura) merupakan jembatan Nasional terpanjang yang menghubungkan antara dua pulau, yaitu Pulau Jawa (Surabaya) dengan Pulau Madura (Bangkalan).

Sejak diresmikan, banyak masyarakat memanfaatkan jembatan tersebut. Baik untuk sekadar perjalanan akses keluar masuk maupun yang sengaja datang berwisata melintasi jembatan itu.

Pada tahun 2018, jembatan ini dibuka untuk umum secara gratis alias tidak berbayar. Sejak itu, banyak pegiat sepeda memanfaatkan kesempatan tersebut untuk melakukan perjalanan bersepeda di sana, meskipun secara aturan pesepeda memang tetap tidak diperkenankan melintas.

Penulis berfoto saat berada di Suramadu (Dok. Eco Transport).*

Setiap akhir pekan, sudah menjadi pemandangan biasa di jalur kendaraan roda dua, banyak pesepeda sejak menjelang terbitnya fajar mulai melintas di Jembatan Suramadu. Baik yang sekedar olahraga maupun untuk tujuan mengunjungi daerah di sekitarnya atau menjajal trek sepeda di wilayah itu.

Saat melintas jembatan, para pesepeda harus ekstra hati-hati dan waspada, selalu menempatkan posisi di jalur kiri dan berbanjar satu ke belakang. Mengapa demikian? Karena banyak pengguna sepeda motor di jembatan tersebut yang relatif menjalankannya sangat kencang dan terkesan tidak mempedulikan kehadiran para pesepeda. Konon, beberapa kali pernah terjadi insiden pesepeda tertabrak motor.

Pada pertengahan Februari 2019 silam, saya bersama tiga orang rekan yang tergabung dalam gerakan Eco Transport berangkat menuju ke Kota Surabaya, Jawa Timur dalam rangka misi gerakan Eco Transport bersama teman-teman dari Surabaya Cyclist Institute (Subcylist).

Kami berangkat pada Jumat (14/2/2019) malam dengan menggunakan mobil dan membawa 5 unit sepeda “BOSEH” milik Dinas Perhubungan Kota Bandung yang akan digunakan saat bersepeda di sana. Tiba di Surabaya pada Sabtu (15/2) pagi di sambut seorang rekan dari Subcylist. Kami pun diantar untuk beristirahat di sebuah penginapan.

Sore hari, kami bersiap hendak melakukan gowes malam yang rencananya akan dilanjut menghadiri resepsi pernikahan ketua Subcylist. Namun karena turun hujan deras dan cukup lama, kegiatan bersepeda malam keliling kota pun urung dilakukan. Dengan sedikit kecewa, kami berangkat langsung menuju tempat resepsi menggunakan mobil.

Jembatan Suramadu (Dok. Eco Transport).*

Keesokan harinya pada Minggu (16/2), kami boseh bareng ditemani teman-teman Subcylist. Dua orang bertugas membawa kendaraan dan juru foto. Tentu saja lokasi pertama yang dituju adalah jembatan Suramadu.

Kami benar-benar bahagia bisa menikmati perjalanan bersepeda di Jembatan Suramadu, diiringi semilir angin laut dan pemandangan yang memukau. Bersepeda menempuh jalur sepanjang 5,4 kilometer melalui tiga bagian jembatan, yaitu jembatan layang (causeway), jembatan penghubung (approach bridge) dan jembatan utama (main bridge).

Cuaca pagi yang panas tak kami hiraukan, tertepis perasaan senang yang tidak dapat diutarakan dengan kata-kata. Terutama saya, meski berjalan lambat karena ada tanjakan cukup memanjang, tapi saya tak habisnya berteriak kegirangan sepanjang perjalanan. Untungnya, saat itu di atas jembatan anginnya tak terlalu kencang, sehingga kami cukup stabil dalam mengayuh sepeda, meski sebenarnya sepeda yang kami gunakan bobotnya tergolong cukup berat.

Penulis berfoto saat berada di Suramadu (Dok. Eco Transport).*

Tiba di ujung jembatan di Bangkalan Madura, kami istirahat sejenak dan berfoto bersama di Taman Suramadu yang sedang dibangun. Selanjutnya kami kembali ke Kota Surabaya. Saya dan seorang rekan memilih di-loading menggunakan mobil, sementara yang lainnya tetap bersepeda.

Kami istirahat dan makan di Taman Kanjeran. Di lokasi ini, kami ditemani seorang teman dari komunitas sepeda Subcylist yang memandu kami bersepeda mengililingi Kanjeran. Sayangnya, kami tak bisa memasuki jembatan Surabaya yang baru karena tengah ditutup sementara.

Menjelang siang, kami diantar mengunjungi lokasi-lokasi ikonik di Surabaya, seperti Jembatan Merah, Kota Tua, Tugu Titik 0, Tugu Pahlawan dan diakhiri mengunjungi Tugu Sura dan Buaya. Selanjutnya kembali ke tempat penginapan untuk bersiap pulang kembali menuju Kota Bandung.

Ini merupakan sebuah pengalaman yang sangat berharga, dan impian lama saya yang akhirnya terwujud bisa menikmati Jembatan Suramadu di atas sadel. Kesempatan tersebut benar-benar saya manfaatkan dengan perasaan senang, bangga dan pastinya tak akan terlupakan. Salam boseh dan go green! (Cuham, Bersepeda Itu Baik)***

komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: