METRUM
Jelajah Komunitas

Cara Redam Stres di Tengah Pandemi Corona

SULIT bagi banyak orang untuk tetap tenang sementara berita-berita yang mengkhawatirkan tentang virus corona terus bermunculan. Voice Of America berbicara dengan beberapa psikolog mengenai cara mengatasi rasa cemas dan tetap tenang selama masa yang penuh ketidakpastian ini.

Sulit untuk terhindar dari berbagai liputan berita televisi serta grafik yang memperlihatkan penyebaran pandemi Covid-19. Sebagian orang panik, rasa cemas meningkat.

Menurut psikolog dan ilmuwan Mary Alvord, panik adalah respon alami manusia terhadap stres.

“Sebagai manusia, apa yang rasanya perlu kita lakukan untuk bertahan hidup? Air botolan ludes dari rak-rak toko, meskipun tidak ada kelangkaan air. Kita tidak perlu lima dus botol air, dan sekarang toko-toko membatasi pembelian menjadi maksimal satu atau dua dus,” ujar Mary.

Para psikolog menambahkan kita harus pandai menyaring sumber berita supaya mendapat informasi yang tepat. Dan juga penting untuk mengendalikan emosi dan terhindar dari kepanikan.

“Coba lihat ini sebagai kesempatan baru. Sekarang kita lebih banyak di rumah; Kita bisa menjalin hubungan lebih dekat dengan saudara atau teman yang sudah lama tidak berkomunikasi. Dalam setiap krisis selalu ada kesempatan,” tambahnya.

Psikolog Vaile Wright mengatakan kita tidak boleh meremehkan rutinitas. Jadwal dan rutinitas membantu kita lebih tenang dan memberi kesan kehidupan normal seperti biasa.

“Untuk mempersiapkan diri secara mental, kita harus melakukan hal-hal seperti perawatan diri. Penting untuk mempertahankan rutinitas, tidur pada waktu yang sama setiap malam dan bangun di pagi hari seperti hari kerja biasa. Jangan perlakukan seperti hari libur. Tetap mandi dan berdandan. Makan pada waktu yang sama,” ujar Wright.

Psikiater Irina Meliksetyan menambahkan cara seseorang merespon situasi krisis sangat tergantung pada tipe psikologis mereka.

“Lebih sulit bagi para introvert yang sudah punya rasa cemas hidup dalam stres terus menerus. Mereka sangat merasa terisolasi karena tidak bisa bertemu dengan orang-orang yang biasa mereka andalkan. Tapi untungnya sekarang kita punya teknologi — telepon, Skype dan FaceTime. Ini membantu kita untuk tetap berkomunikasi dengan orang-orang terkasih, untuk menunjukkan belas kasihan, untuk memperlihatkan kita peduli dan mengetahui bahwa orang lain peduli pada kita,” kata Irina.

Dalam serangan panik yang lebih parah, bernapas dengan benar bisa mengurangi tingkat stres dan kecemasan. “Tarik napas, dengan sangat perlahan. Lalu hembuskan napas. Lakukan sedikitnya tiga kali — dan kita akan merasakan kecemasan berkurang perlahan-lahan. Coba untuk tetap bersikap positif, tetap tenang. Ini hanya sesuatu yang kita semua perlu lalui,” imbuhnya.

Dokter dan psikolog menekankan pentingnya membaca sumber berita yang kredibel dan bicara kepada spesialis. Pengetahuan dan fakta adalah taktik utama untuk mengatasi ketidakpastian dan kecemasan. (M1-VOA/vm/ii)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: