METRUM
Jelajah Komunitas

“Catcalling” Bukan Hal yang Bisa Diwajarkan

MENDENGAR istilah catcalling, pada umumnya bagi masyarakat Indonesia masih terdengar asing, tapi bagi sebagian masyarakat lainnya bukan hal aneh atau bahkan pernah menjadi korban catcalling. Secara singkat catcalling merupakan pelecehan seksual berupa siulan, kata-kata dan komentar atau ekspresi yang dikeluarkan oleh pelaku terhadap korban di ruang publik dengan tujuan untuk mengganggu atau menggoda. Bahkan, catcalling juga bisa terjadi secara verbal dan non verbal.

Semua orang bisa menjadi korban catcalling dan sebagian besar adalah kaum perempuan, karena pada saat ini masih saja perempuan dianggap lemah dan dijadikan sebagai objek seksual. Biasanya, catcalling bisa terjadi di jalan, transportasi umum, mall dan ruang publik lainnya.

Dilansir dari website dw.com berdasarkan hasil survei yang diinisiasi oleh Koalisi Ruang Publik Aman (KRPA) pelecehan seksual di ruang publik mengalami peningkatan, apalagi di masa pandemi. Hasil survei yang dilakukan pada 4.236 responden yang terdiri dari 3.539 responden perempuan, 625 responden laki-laki dan 72 responden gender ini, di antaranya adalah selama pandemi COVID-19, 4 dari 5 Perempuan pernah mengalami pelecehan seksual di ruang publik (79% dari 3.539 Perempuan), dan 5 teratas lokasi yang paling banyak terjadi pelecehan seksual secara offline adalah di Ruang publik seperti jalanan umum atau taman (70%), Kawasan pemukiman (26%), Transportasi umum termasuk sarana dan prasarananya (23%), Toko, mall, dan pusat perbelanjaan (14%) dan Tempat kerja(12%).

Hingga saat ini, fenomena catcalling masih dianggap sebagai hal yang wajar dan candaan semata saja, padahal catcalling merupakan tindakan yang mengganggu dan termasuk pelecehan seksual secara verbal yang terjadi di ruang publik, tidak sedikit perempuan yang menjadi korban catcalling selalu disalahkan dan dikaitkan dengan pakaian yang terbuka. Padahal banyak sekali perempuan yang berpakaian tertutup juga menjadi korban catcalling.

Stereotip masyarakat mengenai fenomena catcalling yang selalu dikatakan dengan cara berpakaian korban tentu saja bukan alasan perbuatan tersebut boleh terjadi, karena pada dasarnya perempuan yang telanjang sekalipun tidak berhak untuk disentuh, bahkan dilecehkan. Apapun bentuk catcalling harus dihentikan jangan sampai pelecehan ini dinormalisasikan dan terus menerus dianggap sebagai candaan.

Lebih jauh, seharusnya ada penanganan yang serius mengenai kasus catcalling dan terkadang korban juga tidak berani melaporkan kasus tersebut karena dianggap hal yang biasa dan sepele padahal kasus tersebut merupakan kasus pelecehan yang jika dibiarkan akan menjadi kasus yang besar. Pelaku menganggap catcalling sebagai candaan saja, namun bagi korban kasus ini berdampak, bahkan bisa sampai mengakibatkan trauma.

Banyak perempuan tidak percaya diri ketika di ruang publik, karena rasa trauma dan rasa takut mengalami hal yang sama dengan perempuan lainnya yang menjadi korban catcalling. Saat ini perempuan merasa tidak punya ruang yang aman untuk berekspresi, perempuan selalu menjadi korban. (Laila Nur Azizah, Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Kebangsaan Republik Indonesia)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: