METRUM
Jelajah Komunitas

Citra Politisi Masih Negatif di Dalam Media Digital

KOTA BANDUNG (METRUM) – Kemajuan teknologi komunikasi memberi pengaruh positif dan negatif dalam komunikasi Politik di Indonesia. Demikian pernyataan Ketua Asosiasi Pendidikan Ilmu Komunikasi (Aspikom) Jawa Barat, Dr. Ani Yuningsih, Dra., M.Si. dalam sambutan pembukaan di acara diskusi virtual dewan pakar Aspikom Jabar, bertema “Komunikasi Politik dan Manajemen Isu Dalam Panggung Politik Indonesia” pada Selasa (27/09/22) di Bandung.

Menurut Ani, dampak positif teknologi digital adalah komunikasi politik menjadi lebih terbuka dan demokratis. Namun di sisi lain, dampak negatif juga ada, yaitu maraknya berita bohong, kampanye hitam dan kampanye negatif.

Sementara itu, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Pasundan, Dr. Eki Baihaki, M.Si mengatakan, di era digital ini, citra politisi menjadi lebih sulit dikendalikan karena informasi beredar cepat dan luas dengan makin banyak pemuka pendapat.

Menurut Eki, karena sulit dikendalikan, citra politisi yang seharusnya bisa dipercaya menjadi sulit terpelihara, karena media digital memperlihatkan citra yang berbeda. Terutama karena logika teknologi digital meniadakan adanya variasi politisi yang berkualitas.

Hal ini diakui oleh Ketua DPRD Kota Bandung, Tedy Rusmawan. “Media digital juga sama nilainya dengan media lama, yaitu yang viral adalah yang negatif, good news is bad news, sementara saat ini tidak semua politisi memiliki SDM khusus untuk mengelola citra digitalnya. Walaupun sudah berupaya untuk mengembangkan saluran digital agar citra negatif itu mendapat penyeimbang,” ujar Rusmawan.

Anggota DPRD Kabupaten Bandung Barat, Rismanto, juga membenarkan, saat ini semua orang bisa menjadi pemuka pendapat karena media sosial menjadi kanal yang diakses luas. Meski secara konstitusional, politisi diberi kewajiaban untuk bertemu langsung konstituennya dengan fasilitasi negara. Namun ekspektasi masyarakat nampaknya amat tinggi karena deraan persoalan sehari-hari yang cukup berat, sementara solusi yang diberikan oleh parlemen masih belum dianggap cukup, sehingga lembaga politik mendapat sentimen negatif.

Karena itu, menjelang kontestasi politik mendatang, Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Bandung, Dr. Darajat Wibawa mengusulkan, meski politik identitas kemungkinan tidak akan pernah hilang sebagai strategi komunikasi politik, namun sebaiknya juga diimbangi dengan komunikasi politik berisi prestasi dan kinerja lembaga politik.

Diskusi dewan pakar aspikom Jabar ini dihadiri lebih dari 50 peserta secara daring (online). Menurut Ketua Aspikom Jabar, diskusi berikutnya kemungkinan akan kembali ke model pertemuan langsung tatap muka, karena nampaknya kecenderungan aktifitas masyarakat saat ini sudah mulai kembali seperti sebelum pandemi. (M1)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: