METRUM
Jelajah Komunitas

Forum Film Bandung Bedah Karya Mahasiswa Ilmu Komunikasi Unla di COMAFEST 2026

Screening Film Jadi Ruang Belajar Sineas Muda

KOTA BANDUNG (METRUM) – Suasana berbeda terasa pada Selasa (14/7/2026) di Bandung Creative Hub, Jl. Laswi No.7 Kota Bandung, saat Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Langlangbuana (FISIP Unla) menggelar Communication Attractive Festival (COMAFEST) 2026. Bukan sekadar festival kreatif, COMAFEST menghadirkan sesi screening film pendek yang dipadukan dengan diskusi dan bedah karya bersama Forum Film Bandung (FFB), menjadikan festival ini sebagai ruang evaluasi sekaligus pembelajaran bagi calon sineas muda.

Puluhan peserta memadati ruang pemutaran film untuk menyaksikan karya-karya mahasiswa konsentrasi Media Ilmu Komunikasi FISIP Unla. Setiap film ditayangkan secara bergantian, kemudian diakhiri ulasan langsung dari tim pengamat Forum Film Bandung. Pembahasan tidak hanya menyoroti kualitas visual, tetapi juga kedalaman cerita, penyutradaraan, pembangunan karakter, ritme penyuntingan, hingga kekuatan pesan yang ingin disampaikan pembuat film.

Sesi diskusi menjadi bagian yang paling dinanti. Para mahasiswa berkesempatan berdialog langsung dengan Rosyid E Abby dan Agus Safari, dua praktisi dari Forum Film Bandung (FFB) mengenai proses kreatif di balik produksi film mereka. Berbagai pertanyaan mengemuka, mulai dari teknik penyusunan skenario, penyutradaraan, pengambilan gambar, hingga tantangan mengelola produksi dengan keterbatasan peralatan dan anggaran.

Rosyid E. Abby, anggota tim pengamat dari Forum Film Bandung (FFB), menilai karya-karya film pendek mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Langlangbuana menunjukkan kualitas yang menjanjikan. Menurutnya, capaian tersebut patut diapresiasi mengingat para mahasiswa tidak berasal dari program studi yang secara khusus mendalami perfilman, seperti Prodi Film dan Televisi.

“Saya cukup mengapresiasi karya-karya mahasiswa Ilmu Komunikasi Unla. Mereka mampu menghasilkan film pendek yang baik, padahal proses pembuatannya berangkat dari tugas proyek mata kuliah Sinematografi yang hanya dipelajari selama satu semester,” ujar Rosyid.

(Foto: Dok. Panitia).*

Agus Safari, pengamat lain dari Forum Film Bandung (FFB), menekankan pentingnya ketelitian dalam proses pembuatan film. Menurutnya, detail yang tampak kecil atau sepele dapat memengaruhi kualitas dan kredibilitas film secara keseluruhan.

BACA JUGA:  Pemkot dan Pemkab Bandung Barat Kerja Sama Bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk Tingkatkan PAD

“Pada salah satu adegan film pendek yang diputar, terdapat scene ketika tokoh utama sedang menunggu di halte bus di Jakarta. Namun, di halte tersebut terlihat poster rute bus Kota Bandung. Hal-hal seperti ini perlu menjadi perhatian agar tidak terulang pada produksi berikutnya,” ujar Agus Safari.

Ketua Pelaksana COMAFEST 2026, Faras Saputra Priadi, mengatakan konsep festival sengaja dirancang agar mahasiswa tidak hanya menampilkan hasil karya, tetapi juga memperoleh kritik konstruktif dari para praktisi.

“Kami ingin screening film ini tidak berhenti sebagai kegiatan menonton bersama. Yang lebih penting adalah bagaimana mahasiswa mendapatkan masukan langsung dari praktisi sehingga setiap karya menjadi proses belajar yang nyata. Diskusi setelah pemutaran film menjadi bagian paling penting dalam COMAFEST tahun ini,” kata Faras.

Menurut Faras, pendekatan tersebut menjadi pembeda COMAFEST dibandingkan kegiatan serupa. Mahasiswa diajak memahami standar industri kreatif sekaligus meningkatkan kualitas produksi audiovisual melalui evaluasi langsung dari insan perfilman.

Forum Film Bandung yang bertindak sebagai mitra eksternal juga memberikan apresiasi terhadap keberanian mahasiswa mengangkat berbagai isu sosial dalam film-film yang diputar. Selain memberikan kritik terhadap aspek teknis, tim penilai mendorong para peserta untuk terus mengembangkan kemampuan bercerita melalui bahasa visual yang lebih kuat dan relevan dengan kondisi masyarakat.

Rangkaian screening tersebut menjadi puncak dari proses kreatif yang telah berlangsung sejak pra-acara. Sebelumnya panitia menggelar kompetisi video kreatif bertema Ilmu Komunikasi Universitas Langlangbuana dan COMAFEST yang diikuti siswa SMA/sederajat, mahasiswa, serta masyarakat umum melalui media sosial Instagram dan TikTok. Sepuluh video terbaik diseleksi oleh juri COMAFEST dan menghasilkan dua karya juara pada acara puncak.

Tak hanya screening film pendek, COMAFEST 2026 juga menghadirkan pameran fotografi yang menampilkan karya-karya mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Langlangbuana angkatan 2023. Pameran yang digelar di Lantai I Bandung Creative Hub tersebut menjadi ruang apresiasi bagi hasil eksplorasi visual mahasiswa sekaligus melengkapi rangkaian festival yang mengusung kreativitas di bidang media dan komunikasi.

BACA JUGA:  Mahasiswa Ilmu Komunikasi Unla Gelar Diskusi Publik Bahas Urban Diabetes dan Gaya Hidup Modern

Setelah seluruh film selesai diputar dan didiskusikan, dewan juri mengumumkan nominasi sekaligus pemenang COMAFEST 2026. Film “Sit With Me With Your Guilt” menjadi karya paling bersinar dengan meraih penghargaan Film Pendek Terbaik sekaligus Skenario Terbaik. Penghargaan Sutradara Terbaik diberikan kepada dimenangkan oleh Muhammad Ilham Farid (“Rumah Yang Kian Luruh”), sedangkan Andini Pramana Putri dinobatkan sebagai Aktor Terbaik berkat penampilannya dalam “Sit With Me With Your Guilt”.

Sebelumnya, sejumlah karya lain seperti “Melankolia”, “Rumah Yang Kian Luruh”, dan “Getih Mapay Laratan” masuk dalam daftar nominasi berbagai kategori, memperlihatkan tingginya kualitas kompetisi film pendek yang ditampilkan mahasiswa tahun ini.

Melalui COMAFEST 2026, Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Langlangbuana berharap festival ini menjadi agenda tahunan yang mampu mempertemukan dunia akademik dengan industri kreatif. Kehadiran Forum Film Bandung sebagai mitra penilai sekaligus narasumber diskusi diharapkan mampu memperluas wawasan mahasiswa tentang standar profesional dalam produksi film sekaligus mendorong lahirnya karya-karya audiovisual yang semakin kompetitif. (M1)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.