METRUM
Jelajah Komunitas

Free Arabian Legion: Ketika Nasionalisme Arab Bertemu Propaganda Nazi

Relawan Muslim dan Afrika yang Bertempur untuk Nazi pada Perang Dunia II

PERANG Dunia II kerap digambarkan sebagai pertarungan hitam-putih antara pihak “baik” dan “jahat”. Dalam narasi populer di Amerika Serikat dan Inggris, perang ini bahkan sering disebut sebagai “the good war” — perang yang sepenuhnya mulia di pihak para pemenangnya. Di sisi lain, Nazi tampil sebagai simbol kejahatan paling nyata dalam sejarah modern.

Namun, sejarah tidak selalu sesederhana itu. Di balik kekejaman rezim Nazi, terdapat fakta bahwa mereka juga mendapat dukungan dan kolaborasi dari berbagai kelompok di luar Jerman. Salah satu kisah yang paling mengejutkan adalah keberadaan unit militer yang dikenal sebagai “Free Arabian Legion” — satuan yang sebagian besar beranggotakan relawan Muslim dan sejumlah prajurit asal Afrika Utara.

Asal-Usul Free Arabian Legion

Free Arabian Legion dibentuk di Tunisia pada Januari 1943. Menurut sejarawan militer Nigel Thomas dalam bukunya The German Army 1939–45 (2): North Africa & Balkans, unit ini berkembang dari German-Arab Training Battalion yang didirikan Nazi setahun sebelumnya.

Sejarawan Robert Satloff dalam Among the Righteous: Lost Stories from the Holocaust’s Long Reach into Arab Lands menjelaskan bahwa pembentukan unit ini berawal dari kerja sama strategis antara tokoh Nazi dan sejumlah pemimpin Arab pada akhir 1941.

Sebagian anggotanya adalah tawanan perang Arab yang sebelumnya bertugas — sering kali secara paksa — di bawah tentara kolonial Prancis dan Inggris. Namun banyak pula yang bergabung secara sukarela. Mereka berasal dari Mesir, Irak, Suriah, Arab Saudi, Tunisia, Aljazair, dan wilayah lain di Timur Tengah serta Afrika Utara. Secara keseluruhan, kekuatannya diperkirakan mencapai tiga hingga empat batalion dengan sekitar 6.500 personel.

BACA JUGA:  Menyimak Debat Saat Proklamasi Kemerdekaan di Rumah Sejarah Penculikan Soekarno-Hatta

Meski resmi menjadi bagian dari angkatan bersenjata Jerman, diskriminasi rasial tetap terasa. Mereka ditempatkan di wilayah seperti Kaukasus, Tunisia, Yunani, dan Yugoslavia, tetapi sering hanya diberi tugas penjagaan garis belakang atau pertahanan pantai. Menurut Satloff, komando Jerman tidak sepenuhnya mempercayai kemampuan tempur unit-unit tersebut.

Para prajurit “Free Arabian Legion” di Yunani, 1943. (Foto: Schlikum/Arsip Federal Jerman/allthatsinteresting.com).*

Mengapa Mereka Bergabung?

Bagi Nazi, perekrutan ini memberikan tambahan personel di saat kebutuhan militer meningkat, memperluas pengaruh di Timur Tengah dan Afrika Utara, serta memperkaya propaganda bahwa perjuangan mereka mendapat dukungan internasional.

Namun, alasan para relawan bergabung jauh lebih kompleks.

Sebagian faktor bersifat praktis: kebutuhan pekerjaan, penghasilan, atau keyakinan bahwa Jerman akan memenangkan perang. Tetapi faktor politik juga berperan besar. Banyak relawan memiliki musuh bersama dengan Nazi, yakni Inggris dan Prancis — dua kekuatan kolonial yang lama menguasai wilayah Arab.

Propaganda Nazi memanfaatkan sentimen anti-kolonial ini dengan menekankan bahwa Jerman tidak pernah menjajah Timur Tengah maupun Afrika Utara. Nama “Free Arabian Legion” sendiri dirancang untuk memberi kesan bahwa Nazi mendukung perjuangan kemerdekaan bangsa Arab.

Selain faktor anti-imperialisme, sebagian relawan juga dipengaruhi sentimen anti-Zionisme dan anti-Semitisme yang berkembang pada masa itu.

Peran Amin al-Husseini

Tokoh penting di balik pembentukan unit-unit ini adalah Amin al-Husseini. Lahir sekitar 1897 dari keluarga terpandang di Yerusalem, ia menjadi salah satu pemimpin nasionalisme Arab pada awal abad ke-20. Saat itu, nasionalisme Arab merupakan gerakan anti-imperial yang menentang dominasi Inggris dan Prancis di kawasan tersebut.

Sebagai Mufti Agung Yerusalem di wilayah Mandat Palestina yang dikuasai Inggris, al-Husseini dikenal keras menentang kolonialisme Inggris dan gerakan Zionisme. Ketika Perang Dunia II pecah, ia menjalin hubungan dengan Italia Fasis dan Jerman Nazi, bertemu dengan tokoh-tokoh seperti Adolf Hitler dan Heinrich Himmler.

BACA JUGA:  Mengenal Erwin, Wakil Wali Kota Bandung yang Baru

Selama perang, al-Husseini terlibat dalam propaganda anti-Zionis dan anti-Semit serta membantu merekrut pasukan Muslim untuk unit-unit yang berafiliasi dengan Waffen-SS di Balkan, termasuk divisi ke-13, ke-21, dan ke-23.

Beberapa unit tersebut tercatat melakukan kejahatan perang, termasuk penangkapan dan deportasi warga Yahudi ke kamp konsentrasi seperti Bergen-Belsen pada 1944.

Distorsi Sejarah dan Polemik Modern

Warisan al-Husseini tetap kontroversial hingga kini. Pada 2015, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sempat menyatakan bahwa al-Husseini mendorong Hitler untuk memusnahkan orang Yahudi, klaim yang menuai kritik luas dari sejarawan.

Catatan resmi pertemuan al-Husseini dan Hitler pada 28 November 1941 tidak menunjukkan bahwa ia menjadi penggagas Holocaust. Sebagian besar sejarawan menilai al-Husseini lebih sebagai oportunis politik yang berupaya memanfaatkan kekuatan Poros demi tujuan nasionalisme Arab, bukan sebagai arsitek kebijakan genosida Nazi.

Kisah Free Arabian Legion dan keterlibatan al-Husseini menunjukkan bahwa sejarah Perang Dunia II jauh lebih rumit daripada sekadar narasi “baik versus jahat.” Episode ini memperlihatkan pertemuan antara ambisi politik, sentimen anti-kolonial, propaganda, dan ideologi ekstrem dalam konteks geopolitik yang sangat berbeda dengan masa kini.

Memahami sejarah secara utuh berarti menerima kompleksitasnya — tanpa menyederhanakan, tetapi juga tanpa memanipulasinya demi kepentingan politik modern. (M1-Sumber: allthatsinteresting.com)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.