METRUM
Jelajah Komunitas

Gergaji

Puisi Wina Armada Sukardi

MATA gerigi gergaji seakan menantang ke arah biji mata kita seraya bersuara
“Mau apa kau?
Aku dapat memotong kepala kau sampai berdarah-darah, tapi kau tetap tak mati!”
Ngeri mencekam
Namun seusai kita hardik balik
mata gerigi gergaji langsung sunyi
lantas seolah mengaku bersedia melakukan apapun buat kita.

Bukan keseraman amat yang ditakuti dari sebuah benda berbahaya
tapi ketakutan kita tidak dapat memanfaatkan sesuai ketentuannya
Berbahaya atau berguna sebuah benda
tergantung kepada manusia pemanfaatannya.

Gergaji dapat menjadi malapetaka atau alat penolong
terserah bagaimana kita memanfaatkannya.

Mata gerigi gergaji tak lagi menatap mata kita
Kitalah yang mengawasinya.***

Jakarta, 9 Mei 2023

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.