Hattrick Etape untuk Paul Magnier, Dua Tanjakan Terjal Jadi Penentu Giro 2026
PIEVE DI SOLIGO, ITALIA (METRUM) – Prancis kembali menunjukkan kekuatan generasi mudanya di ajang balap sepeda dunia. Setelah munculnya pendaki muda berbakat Paul Seixas, kini giliran sprinter muda Paul Magnier yang mencuri perhatian dengan performa impresif di Giro d’Italia 2026.
Pebalap berusia 22 tahun dari tim Soudal Quick-Step itu sukses mencetak hattrick kemenangan etape setelah menjadi yang tercepat pada sprint massal Etape XVIII rute Paganella–Pieve di Soligo sejauh 171 kilometer, Jumat (29/5/2026) WIB.
Kemenangan tersebut menjadi yang ketiga bagi Magnier di Giro tahun ini setelah sebelumnya berjaya pada Etape I dan Etape III. Penampilan konsisten sang pebalap muda sekaligus menegaskan statusnya sebagai salah satu sprinter paling menjanjikan di dunia saat ini.
Dalam sprint menuju garis finis, Magnier kembali mengungguli sejumlah rival kuat, termasuk andalan tuan rumah Italia, Jonathan Milan (Lidl-Trek), yang hingga Etape XVIII belum sekalipun meraih kemenangan etape. Padahal, Milan merupakan pemegang gelar raja sprinter Giro d’Italia musim lalu.
Keberhasilan itu juga membuat Magnier kembali merebut kaus jingga, simbol pemimpin klasemen poin sprinter Giro d’Italia. Jersey tersebut sempat berpindah tangan kepada Jhonatan Narváez (UAE Team Emirates XRG) saat etape pegunungan, namun kini kembali menjadi milik pebalap Prancis tersebut.
Sementara itu, para pembalap papan atas klasemen umum memilih tampil lebih konservatif pada etape datar ini. Tim-tim unggulan menjaga ritme peloton dan memastikan upaya breakaway tidak berkembang terlalu jauh sehingga seluruh kandidat juara tetap finis bersama tanpa perubahan waktu yang signifikan.
Kondisi tersebut membuat klasemen umum tetap stabil. Pemegang Maglia Rosa, Jonas Vingegaard (Visma Lease a Bike), masih nyaman di puncak klasemen dengan keunggulan 4 menit 3 detik atas Felix Gall (Decathlon) yang berada di posisi kedua.
Meski unggul cukup jauh, Vingegaard menegaskan timnya tidak akan lengah menghadapi dua etape pegunungan tersisa di kawasan Dolomite yang diprediksi menjadi penentu akhir perebutan berbagai klasifikasi penting Giro 2026.
Menariknya, juara Tour de France asal Denmark itu mengungkapkan kesiapannya membantu rekan setimnya, Davide Piganzoli, dalam perburuan kaus putih untuk pembalap muda terbaik.
Menurut Vingegaard, Piganzoli telah memainkan peran besar sepanjang balapan sebagai pekerja tim yang membantu dirinya mempertahankan posisi di puncak klasemen. Karena itu, ia siap mengorbankan ambisi pribadi demi membantu pebalap muda Italia tersebut mengejar pemimpin klasemen U-25, Afonso Eulalio (Bahrain Victorious).
“Davide sudah bekerja sangat keras untuk tim dan membantu saya meraih serta mempertahankan kaus pink. Jika situasinya memungkinkan, sekarang giliran saya membantu dia dalam perebutan kaus putih,” ujar Vingegaard.
Dengan dua etape pegunungan berat menuju puncak gunung (mountain top finish) yang masih tersisa, Giro d’Italia 2026 dipastikan belum sepenuhnya berakhir. Namun, dengan performa dominan yang ditunjukkan sepanjang balapan, Vingegaard kini berada di jalur yang sangat kuat untuk membawa pulang gelar Giro pertamanya sekaligus melengkapi koleksi gelar Grand Tour dalam kariernya. (M1-BK)***
Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.