METRUM
Jelajah Komunitas

Health Talk Series Mahasiswa Ikom Unla: Misinformasi Kesehatan Disebut Ancaman Serius di Ruang Digital

KOTA BANDUNG (METRUM) – Arus informasi kesehatan yang beredar tanpa kontrol di media sosial dinilai semakin mengkhawatirkan. Menjawab persoalan tersebut, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Langlangbuana menggelar sharing session bertajuk “Health Talk Series: Membangun Ketahanan Informasi Kesehatan Masyarakat di Tengah Arus Misinformasi Digital” pada Jumat, 8 Mei 2026.

Kegiatan yang berlangsung di Nats Time Coffee, Jalan Banten No.7, Kota Bandung itu menjadi ruang diskusi mengenai masifnya penyebaran hoaks kesehatan di era digital. Acara dimulai pukul 13.00 WIB dan menghadirkan empat pembicara, yakni Astrid Rahmalia, Devisa Widianti, Sultan Fahri, serta Dhimas Fauzan.

Dalam forum tersebut, para narasumber menyoroti cepatnya penyebaran informasi kesehatan di media sosial yang kerap tidak melalui proses verifikasi. Situasi ini dinilai membuat masyarakat semakin rentan mempercayai informasi yang belum terbukti kebenarannya.

Astrid Rahmalia menegaskan bahwa misinformasi kesehatan bukan persoalan sepele. Menurutnya, hoaks kesehatan dapat memengaruhi keputusan masyarakat dalam menjaga keselamatan diri maupun keluarga.

“Informasi kesehatan palsu sering kali dikemas secara sensasional dan memainkan emosi publik. Karena itu, masyarakat mudah terpancing untuk langsung percaya,” ujar Astrid.

(Foto: Dok. Panitia).*

Ia mencontohkan sejumlah hoaks yang sempat ramai beredar, mulai dari isu vaksin penyebab autisme hingga tudingan vaksin Covid-19 mengandung microchip. Narasi semacam itu, kata dia, terus muncul karena memiliki daya tarik emosional yang tinggi di media sosial.

Astrid juga menjelaskan bahwa penyebaran misinformasi berlangsung melalui dua tahapan. Pada level mikro, individu menerima informasi lalu mempercayainya tanpa melakukan pengecekan fakta. Setelah itu, pada level makro, informasi mulai dibagikan ulang melalui grup percakapan maupun platform media sosial hingga penyebarannya semakin meluas.

Sementara itu, Devisa Widianti mengangkat fenomena infodemic yang dinilai menjadi tantangan baru di era digital. Menurutnya, masyarakat saat ini dibanjiri informasi dalam jumlah besar sehingga sulit membedakan fakta dan hoaks.

BACA JUGA:  Puskesmas di Kota Bandung Buka 24 Jam Selama Tiga Hari Masa Pemilu

“Terlalu banyak informasi justru membuat publik bingung menentukan mana sumber yang valid. Dampaknya bukan hanya salah persepsi, tetapi juga menurunkan kepercayaan terhadap informasi kesehatan resmi,” kata Devisa.

Ia menilai kondisi tersebut membuat literasi digital menjadi kebutuhan mendesak, terutama dalam menghadapi informasi kesehatan yang terus bermunculan setiap hari di internet.

Pada sesi berikutnya, Sultan Fahri memaparkan pendekatan penelitian yang digunakan dalam kajian mengenai misinformasi kesehatan. Penelitian dilakukan menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan menghimpun berbagai jurnal ilmiah dari sejumlah basis data akademik terpercaya.

Menurut Sultan, sumber penelitian diperoleh dari ScienceDirect, PubMed, Scopus, hingga Google Scholar untuk memastikan data yang digunakan memiliki validitas akademik yang kuat.

Adapun Dhimas Fauzan menyoroti dominasi media sosial dalam mempercepat penyebaran hoaks kesehatan. Ia menyebut rendahnya literasi digital masyarakat menjadi salah satu faktor utama mudahnya informasi palsu diterima begitu saja.

“Lingkungan sosial dan kecenderungan mempercayai informasi yang sesuai keyakinan pribadi membuat hoaks kesehatan cepat menyebar. Media sosial memperbesar efek itu,” ujar Dhimas.

Melalui kegiatan tersebut, para narasumber mengajak masyarakat lebih kritis dalam menerima informasi kesehatan di ruang digital. Mereka menekankan pentingnya verifikasi fakta sebelum membagikan informasi agar penyebaran hoaks kesehatan dapat ditekan. (M1)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.