METRUM
Jelajah Komunitas

Imam Masjid di California: “Thank God for the Coronavirus”

SEORANG iman di sebuah masjid di California membuat judul menggelitik dalam khotbah Jumatnya: “Thank God for the coronavirus.” Judul itu memicu perbincangan, terutama mereka yang mempertanyakan eksistensi Tuhan pada saat mereka menghadapi wabah virus corona, dan apa peran Tuhan dalam wabah ini.

Omar Ricci, seorang imam di Islamic Center of Southern California, mengejutkan banyak Muslim April lalu. Ia memberi judul kotbah shalat Jumat-nya “Thank God for the coronavirus.” Tak sedikit yang bertanya-tanya: apa maksudnya?

Dalam penjelasannya kepada media ia mengatakan, judul khotbahnya itu semata untuk mengingatkan para pengunjung masjid itu bahwa virus corona adalah sebuah peringatan. Ia tidak bermaksud mensyukuri bahwa dunia kini dilanda wabah virus itu.

Virus corona yang mewabah di dunia, katanya, mengingatkan manusia bahwa ada sebuah kekuatan lain di luar kontrol manusia dan bahwa manusia akan selalu bergantung pada Allah. Singkatnya, kata Ricci, “Lewat virus corona, Tuhan mengingatkan manusia bahwa mereka rapuh.”

Para ilmuwan bekerja di laboratorium yang menguji sampel COVID-19 di Departemen Kesehatan Kota New York, 23 April 2020. (Foto: Reuters / Brendan McDermid)
Para ilmuwan bekerja di laboratorium yang menguji sampel COVID-19 di Departemen Kesehatan Kota New York, 23 April 2020 (Foto: Reuters/Brendan McDermid).*

Aminah Rashad, warga Germantown, Maryland, ini menyetujui pandangan Ricci.

“Dalam masa sulit seperti ini, mudah sekali kita terjebak dalam histeria. Tapi jika Anda berhenti sejenak dan merenung, kita menjadi semakin percaya bahwa ada kekuatan lain, kekuatan Tuhan. Inilah saat di mana kita semakin mendekatkan diri kepada Tuhan,” kata Rashad yang orangtuanya keturunan Iran.

Sebagai juru bicara ICSC, salah satu masjid tertua dan terkemuka di AS, Ricci adalah salah satu dari banyak pemimpin keagamaan di berbagai penjuru dunia yang mencoba mengarahkan para pengikutnya untuk melalui masa pandemi virus corona yang tidak menentu ini, yang telah menewaskan ratusan ribu orang dan melumpuhkan ekonomi dunia.

Seperti banyak pemimpin keagamaan lain, Ricci sering dihadapkan pada pertanyaan: Apakah virus corona dikirim Tuhan sebagai hukuman bagi manusia? Ia sendiri memiliki jawaban bahwa ini bukan hukuman dan malah mengajak Muslim justru berusaha semakin mendekatkan diri pada Tuhan di masa sulit ini.

Hazim Macky (kiri) dan Shaharyar Aarbi membagikan makanan berbuka puasa gratis ke para anggota di luar gedung Asosiasi Muslim Puget Sound pada hari pertama Ramadan saat wabah virus corona, di Redmond, Washington, 24 April 2020. (Foto: Reuters)
Hazim Macky (kiri) dan Shaharyar Aarbi membagikan makanan berbuka puasa gratis ke para anggota di luar gedung Asosiasi Muslim Puget Sound pada hari pertama Ramadan saat wabah virus corona, di Redmond, Washington, 24 April 2020 (Foto: Reuters).*

Dalam perspektif Ricci, virus corona tidak hanya ujian, melainkan juga faktor untuk meningkatan keimanan. “Masa sulit adalah masa di mana manusia mempraktikan ajaran agamanya,” jelasnya.

Bagi Rabi Chaim Bruk, CEO Chabad Lubavitch, sebuah komunitas Yahudi di Bozeman, Montana, wabah virus corona merupakan musibah yang sangat menyentuh kehidupan pribadinya.

“Ayah saya tertular virus corona. Tiga paman saya tertular virus corona. Saya berdoa untuk mereka setiap hari. Pada saat yang sama, orang-orang kini juga terkurung dalam rumah. Mereka tidak bisa pergi menonton pertandingan, pergi ke bioskop, atau pergi ke mana-mana,” kata Bruk.

“Ini saatnya di mana kita merenungkan siapa diri kita sesungguhnya? Apa yang sesungguhnya penting bagi jiwa kita? Inilah saatnya kita menelusuri dan mengembangkan spiritualitas kita. Setelah kita melalui masa pandemi ini maka akan muncul kesadaran spiritual,” lanjutnya.

Bruk mengatakan, bagi banyak orang, virus corona dan dampaknya yang hebat di berbagai penjuru dunia membuat banyak orang meragukan keberadaan Tuhan. “Itu normal,” katanya, namun ini seharusnya mendorong manusia untuk berpikir mengenai bagaimana mengatasi keraguan ini. Seorang ateis sekalipun, katanya, ketika menghadapi wabah sebesar ini pasti akan melakukan intropeksi diri hingga pada tingkatan tertentu.

Mengapa wabah virus corona terjadi dan apakah ini keinginan Tuhan, adalah topik yang banyak dipikirkan Jasmine Griscedi sejak beberapa bulan lalu. Pakar teologi Kristen ini di Northwest Nazarene University di Nampa, Idaho, sibuk menjawab pertanyaan mahasiswa: “Jika Tuhan baik, mengapa, ia membiarkan virus corona eksis,”

Menurutnya ada banyak jawaban buruk di kalangan masyarakat awam untuk pertanyaaan itu. Ia sendiri memilahnya dalam tiga kelompok. Pertama, kelompok yang mengatakan, karena marah dengan dosa-dosa yang dibuat manusia, Tuhan marah dan menghukum manusia dengan bencana. Kedua, Tuhan tidak menciptakan bencana, tapi membiarkannya terjadi. Ketiga, semua ini misteri yang tidak ada penjelasannya.

Griscedi tidak percaya semua itu. Ia menawarkan jawaban ke-empat: Tuhan tidak begitu saja mencegah wabah virus corona – atau bencana buruk lainnya – sendirian, tapi dengan partisipasi dan kerjasama umatnya.

Ilustrasi. Hazim Macky mengambil makan berbuka puasa dari Mohamed Saleem yang disiapkan untuk masyarakat di luar Asosiasi Muslim Puget Sound pada hari pertama Ramadan di tengah wabah corona di Redmond, Washington, AS, 24 April 2020. (Foto: Reuters/Lindsey
Ilustrasi. Hazim Macky mengambil makan berbuka puasa dari Mohamed Saleem yang disiapkan untuk masyarakat di luar Asosiasi Muslim Puget Sound pada hari pertama Ramadan di tengah wabah corona di Redmond, Washington, AS, 24 April 2020 (Foto: Reuters/Lindsey).*

“Saya seperti orang-orang lainnya memiliki sistem kekebalan tubuh yang mudah terganggu. Saya pasrahkan diri pada kekuatan di atas sana. Tapi saya tidak hanya berpasrah diri, tapi juga melakukan hal-hal yang memungkinkan saya atau orang-orang di sekitar saya tidak tertular,” kata Griscedi.

Erica Komosar seorang psiko analis dan pakar masalah keluarga di New York mengatakan, kesehatan mental orang dewasa dan anak bisa membaik bila kita memiliki agama atau kepercayaan, dan meyakini ada kekuatan lain di luar kekuatan manusia.

“Agama mengajarkan kita ketenangan. Di gereja, masjid dan sinagoga, kita diminta untuk duduk diam dan tidak memikirkan apa yang sudah terjadi dan apa yang akan terjadi. Ini akan menentramkan jiwa. Dalam masa pandemi ini, kita membutuhkan itu,” kata Komosar. (M1-VOA/ab/uh)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: