METRUM
Jelajah Komunitas

Jalur Banjar-Pangandaran-Cijulang: Terowongan Para Bangsawan Belanda

Wacana Reaktivasi Jalur Kereta Api di Jawa Barat

RENCANA pemerintah kembali mengaktifkan ­empat jalur kereta api di Jawa Barat, salah satunya rute kereta Banjar-Pangandaran-Cijulang sepanjang 82 kilometer. Menyusuri sepanjang jalur itu tak seluruhnya berupa lahan terbuka, tetapi harus menembus bukit cadas serta jembatan yang tal lagi menyambung.

Jalur kereta api dari Stasiun Banjar-Pangandaran-Cijulang ­melewati empat terowongan dan jembatan. Uniknya, keempat terowongan itu semuanya menggunakan nama keluarga dari ­Kerajaan Belanda.

Jika diurut dari Stasiun Banjar hingga Cijulang, yang pertama adalah Tero­wong­an Philip sepanjang 281 meter di Desa Binangun, Kecamatan Pataruman. Terowongan itu juga dikenal dengan nama Terowongan Batulawang, karena salah satu ujungnya berada di Desa Ba­tulawang, Kecamatan Pataruman.

Kedua, Terowongan Hendrik sepanjang 105 meter. Lalu ada Terowongan Juliana 147,70 meter. Terakhir adalah Terowongan Wilhelmina 1.116 meter.

Terowongan Wilhelmina adalah terowongan kereta api terpanjang di Indonesia. Namanya juga dikenal sebagai Terowongan Sumber karena ­berada di Sumber, Kecamatan Kalipucang, Pangandaran.

Terowongan Philip

Dari empat akses tersebut, paling unik adalah Terowongan Philip yang pada bagian atasnya terdapat tahun pembuatan pada 1914. Hanya saja, saat ini tu­lisannya tertutup semak. Ke­unikan tersebut yakni salah satu sisinya di wilayah Batulawang agak me­ni­kung. Hal itu tampak nyata ketika melihat dari ujung terowong dari arah Desa Bina­ngun, cahaya yang terlihat mengecil.

Lokasi Terowongan Philip yang berada di sekitar kebun karet, agak terpencil, sekitar 4 kilometer dari Stasiun Banjar. Tidak ada akses khusus menuju terowongan yang letaknya jauh dari permukiman warga. Hanya jalan setapak yang lebarnya tidak lebih dari satu meter.

Suasana sekitarnya juga terasa sepi dan jarang dirambah warga. Mungkin karena di atas terowongan itu kini dijadikan atau pema­kaman orang Tionghoa. Masyarakat lokal menyebutnya bong Cina. Keagungan terowongan kokoh itu tersembunyi di antara pepohon­an. Tidak lagi terlihat sebagai terowongan kereta api karena tak tampak lagi bekas rel maupun bantalannya.

Saat kemarau, akses jalan menuju tempat itu masih dapat dilewati sepeda motor, dengan catatan harus hati-hati. Selain itu, juga bisa masuk ke dalam terowongan. Namun, pada musim hujan, jalan setapak hanya bisa dilewati pejalan kaki dan tidak dapat masuk ke dalam terowongan. Air dan lumpur tebal akan menggenangi bagian dalam terowongan.

Bagian dalam terowongan memiliki udara sangat lembap, sepi, dan dihuni banyak kelelawar. Saat lampu dimatikan, suasana semakin me­nyeramkan dan hanya terlihat dua cahaya dari arah berlawanan di ujung terowongan.

Pada masa kejayaannya, keberadaan jalur rel kereta api Banjar-Pangandaran-Cijulang merupakan salah satu urat nadi perekonomian masyarakat. Banyak warga memanfaatkan kereta api untuk mengang­kut hasil bumi dan keperluan lain. Bahkan hingga tahun 1960, kereta jadi pilihan utama karena angkutan umum sangat minim. (Sumber: Nurhandoko Wiyoso/”PR”, 01/10/2018)***

komentar

Tinggalkan Balasan