METRUM
Jelajah Komunitas

Kasus Covid-19 Melonjak, PTM Cenderung Ditunda di Kota Bandung

BANDUNG – Melonjaknya kasus Covid-19 akan menjadi pertimbangan Pemerintah Kota Bandung dalam memutuskan apakah jadi melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas atau tidak. Sekretaris Daerah Kota Bandung Ema Sumarna mengatakan, melihat kondisi naiknya kasus Covid-19 saat ini, pelaksanaan PTM cenderung akan ditunda.

“Keputusan (jadi PTM atau tidak) diambil wali kota, Jumat pekan ini. Walaupun demikian, kalau melihat situasi pandemi Covid-19 saat ini, ada kecenderungan PTM ditunda,” kata Ema saat meninjau kesiapan pelaksanaan PTM di SMPN 43 Bandung, Senin (14/6/ 2021).

Persentase keterisian tempat tidur rumah sakit di Bandung saat ini meningkat menjadi 88%. Dengan demikian, masyarakat Kota Bandung menghadapi kondisi waspada Covid-19 sehingga dia menilai tidak ideal dilaksanakan kegiatan di luar rumah.

Di sisi lain, Presiden Joko Widodo, lanjut Ema, belum meralat kebijakan pelaksanaan PTM terbatas yang akan dimulai Juli 2021. Hal itu pun akan menjadi pertimbangan Wali Kota Bandung Oded Muhammad Danial dalam mengambil keputusan pelaksanaan PTM terbatas pada Jumat pekan ini.

Apabila PTM terbatas tetap dilaksanakan, pihak sekolah diminta untuk disiplin melaksanakan protokol kesehatan. Persentase jumlah siswa di kelas hanya 25% dari kapasitas ruangan. Durasi sekolah tatap muka pun hanya dua hari dalam sepekan.

Setiap hari, hanya dua mata pelajaran yang diajarkan dalam waktu dua jam. Oleh karena itu, pihak sekolah diminta mempersiapkan sistem pembelajaran sesuai arahan pemerintah. Selain itu, kegiatan belajar tidak dilaksanakan di ruangan tertutup dengan menyalakan pendingin udara. Jendela dalam ruangan harus dibuka sehingga tidak menggunakan pendingin udara.

“Masih ada persoalan, siswa yang pakai angkot bagaimana? Perilaku siswa di angkot tidak terawasi,” ucap Ema. Ema mendorong pihak sekolah untuk mengingatkan siswanya langsung pulang ke rumah setelah belajar tatap muka di sekolah. Selain itu, semua guru di sekolah harus dipastikan sudah divaksin.

Khawatir

Sama seperti Ema, Kepala SMPN 43 Bandung Khaerawati juga khawatir karena 70% siswanya berjalan kaki dan naik transportasi umum untuk menuju sekolah dan kembali ke rumah.

“Dikhawatirkan anak-anak di perjalanan, yang jalan kaki, naik angkot, walaupun de kat, kemungkinan anak-anak mampir,” ucap Khaerawati.

Siswa SMPN 43 Bandung pertama kali merasakan simulasi PTM terbatas pada Senin (14/6/2021). Sebanyak 110 siswa melaksanakan simulasi PTM terbatas dari total 362 siswa yang menyatakan siap melaksanakan PTM terbatas. Hanya siswa kelas VII dan VIII yang melaksanakan PTM. Dikatakan Khaerawati, siswa yang mengikuti simulasi PTM terbatas akan digilir selama empat hari pada pekan ini. Siswa tak langsung diajari mata pelajaran saat dimulai PTM terbatas. Guru memilih untuk mempersiapkan mental siswa apabila PTM terbatas jadi dilaksanakan Juli 2021 dengan memberikan pengetahuan tentang protokol kesehatan.

“Kami menanamkan mereka (siswa) boleh ke sekolah dengan syarat, bagaimana protokol kesehatan ke sekolah, kesiapan mereka belajar,” kata Khaerawati.

Selain itu, kata dia, materi pelajaran yang belum diberikan saat pembelajaran jarak jauh karena kondisi yang serba terbatas, diberikan saat simulasi PTM terbatas. Sebagai satu dari sedikit SMPN negeri yang dinilai layak melaksanakan simulasi PTM, pihak SMPN 43 Bandung telah menyiapkan sarana prasarana protokol kesehatan. Di antaranya, tempat cuci tangan, air bersih, alat pengukur suhu tubuh, dan cairan sanitasi tangan. Sarana dan pra sarana tersebut dibeli dari dana Bantuan Ope rasional Sekolah (BOS). Sejumlah orangtua juga secara suka rela menyumbang cairan sanitasi tangan dan sabun. (M1)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: