Kisah Tragis Qubilah Shabazz, Putri Kedua Malcolm X yang Hidup dalam Bayang-Bayang Kekerasan
KEHIDUPAN Qubilah Shabazz tidak pernah berjalan mudah. Sebagai putri kedua dari tokoh hak-hak sipil Amerika Malcolm X, ia tumbuh dalam lingkungan yang sarat konflik, trauma, dan sorotan publik.
Sejak kecil, Qubilah sudah mengalami peristiwa traumatis. Pada usia empat tahun, ia menyaksikan langsung ayahnya ditembak mati pada 21 Februari 1965 di Audubon Ballroom, Harlem, di depan ratusan orang — termasuk ibunya yang sedang hamil serta saudara-saudaranya.
Peristiwa itu meninggalkan luka psikologis yang mendalam dan memengaruhi perjalanan hidupnya hingga dewasa.
Masa Kecil yang Diliputi Trauma
Qubilah Shabazz lahir pada 25 Desember 1960. Ia merupakan anak kedua dari enam putri Malcolm X dan istrinya, Betty Shabazz.
Seminggu sebelum pembunuhan Malcolm X, rumah keluarga mereka bahkan sempat diserang bom molotov pada Februari 1965. Tak lama setelah itu, tragedi pembunuhan Malcolm X terjadi di depan mata keluarganya.
Kehilangan ayah dalam kondisi tragis membuat masa kecil Qubilah penuh tekanan emosional. Ketika keluarganya kemudian pindah ke Mount Vernon, New York, mereka juga menghadapi tantangan sosial. Banyak kalangan profesional kulit hitam pada masa itu berusaha menjaga jarak dari warisan politik Malcolm X yang dianggap kontroversial.
Akibatnya, Qubilah dan saudara-saudaranya kerap merasa terasing di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

Pergulatan Hidup Saat Dewasa
Meski dikenal cerdas dan sempat diterima di Princeton University, Qubilah tidak mampu bertahan lama di kampus tersebut. Ia merasa sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial di sana.
Setelah dua semester, ia memutuskan keluar dari universitas dan pindah ke Paris. Di kota itu, ia sempat bekerja sebagai penerjemah dan menjalin hubungan dengan seorang pria asal Aljazair yang kemudian menjadi ayah dari putranya, Malcolm.
Namun kehidupannya tetap tidak stabil. Ia berpindah-pindah kota dan pekerjaan, menghadapi masalah keuangan, serta mulai terjerumus pada kebiasaan minum alkohol. Dalam banyak kesempatan, ia harus mengandalkan bantuan keluarga dan teman untuk membesarkan anaknya.
Konflik dengan Pemimpin Nation of Islam
Seiring waktu, kemarahan Qubilah terhadap Louis Farrakhan semakin membesar. Ia meyakini bahwa pemimpin Nation of Islam tersebut memiliki keterkaitan dengan pembunuhan ayahnya.
Keyakinan itu akhirnya mendorongnya melakukan langkah ekstrem. Pada 1995, Qubilah mencoba meminta seorang teman lamanya untuk membunuh Farrakhan.
Namun orang yang dimintanya bantuan ternyata adalah informan FBI yang sedang bekerja sama dengan aparat penegak hukum setelah sebelumnya ditangkap dalam kasus narkotika. Akibatnya, rencana tersebut terungkap dan Qubilah ditangkap atas tuduhan konspirasi pembunuhan.
Dalam persidangan, ia kemudian menerima kesepakatan hukum yang mengharuskannya menjalani konseling psikologis dan rehabilitasi penyalahgunaan zat agar terhindar dari hukuman penjara.
Dukungan Tak Terduga
Dalam perkembangan yang mengejutkan, Louis Farrakhan justru tampil membela Qubilah di tengah proses hukum tersebut. Ia bahkan hadir bersama Betty Shabazz dalam sebuah acara penggalangan dana di Apollo Theater untuk membantu biaya pembelaan hukum Qubilah.
Acara tersebut berhasil mengumpulkan lebih dari 250 ribu dolar.
Meski sempat muncul tanda-tanda rekonsiliasi, tragedi lain kembali menghantam keluarga Shabazz.
Tragedi Kematian Betty Shabazz
Saat Qubilah menjalani program rehabilitasi di Texas, putranya Malcolm tinggal bersama neneknya, Betty Shabazz, di New York.
Pada 1997, tragedi kembali terjadi. Malcolm yang saat itu berusia 12 tahun menyiramkan bensin dan membakar apartemen neneknya. Kebakaran tersebut menyebabkan Betty Shabazz mengalami luka bakar parah hingga 80 persen tubuhnya dan meninggal dunia tiga minggu kemudian.
Malcolm kemudian dinyatakan bersalah atas tindak pidana yang setara dengan pembakaran dan pembunuhan tidak disengaja dalam sistem peradilan anak.
Nasib Tragis Generasi Berikutnya
Setelah menjalani hukuman di pusat rehabilitasi remaja, kehidupan Malcolm Shabazz juga tidak berjalan mulus. Pada 2013, ketika berusia 28 tahun, ia tewas dipukuli dalam perkelahian di sebuah bar di Meksiko.
Sejak kematian putranya, Qubilah Shabazz semakin jarang muncul di ruang publik.
Namun perjuangannya terkait kematian ayahnya masih berlanjut. Pada 2023, ia mengajukan gugatan terhadap sejumlah lembaga pemerintah Amerika Serikat, termasuk FBI, CIA, dan kepolisian New York, atas dugaan keterlibatan dalam pembunuhan Malcolm X.
Bagi keluarga Shabazz, pencarian kebenaran atas kematian Malcolm X tampaknya masih menjadi perjalanan panjang yang belum berakhir. (M1-Sumber: allthatsinteresting.com)***
Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.