METRUM
Jelajah Komunitas

Mantan Presiden Taiwan Lee Teng-hui Wafat pada Usia 98 Tahun

TAIWAN, ROC – Rumah Sakit Veteran Taipei (Taipei Veteran General Hospital), Kamis, 30 Juli 2020 malam menyampaikan, Mantan Presiden Lee Teng-hui meninggal dunia pada pukul 19.24 waktu Taiwan.

Lee Teng-hui pada 8 Februari 2020 malam tersedak saat makan dan membuatnya sesak napas sehingga langsung dibawa ke unit gawat darurat rumah sakit Veteran Taipei untuk diberikan pertolongan.

Dalam pemeriksaan, tokoh gerakan pembaharuan Taiwan tersebut mengalami infeksi paru-paru dan jantung yang melemah. Oleh sebab itu, harus mendapatkan rawat inap di rumah sakit. Namun ketika Lee yang duduk di kursi roda melakukan kegiatan di rumah sakit, tiba-tiba ia mengalami stroke jantung dan segera dilakukan CPR dan bantuan alat pernapasan.

Akibat usianya yang sudah mencapai 98 tahun dan adanya beberapa penyakit akut yang diderita, membuat daya tahan tubuh Presiden Taiwan Periode 1988-2000 ini lebih lemah dan mudah terkena infeksi Meskipun upaya keras tim dokter dan rumah sakit sudah dilakukan, akan tetapi pada Kamis, 30 Juli 2020, pukul 19.24 (waktu Taiwan) Lee Teng-hui wafat.

Lee Teng-hui adalah presiden pertama Taiwan yang dipilih secara demokratis melalui pemilu dan sudah sejak lama dipuji sebagai “Bapak Demokrasi Taiwan”. Lee dipilih dan ditunjuk langsung oleh mantan Presiden Chiang Ching-kuo pada tahun 1984 sebagai wakilnya, dan empat tahun kemudian ketika Chiang wafat, Lee Teng-hui menggantikannya sebagai presiden. Lee terpilih sebagai presiden oleh Majelis Nasional yang sudah dibubarkan sejak tahun 1990.

Ketika Taiwan menyelenggarakan pemilihan presiden langsung pertamanya pada tahun 1996, Lee Teng-hui berhasil memenangkan pemilihan dengan perolehan 54% suara. Setelah menjabat sebagai presiden selama 12 tahun, pada Mei 2000 Lee Teng-hui mengundurkan diri.

Lee Teng-hui lahir pada tahun 1923 di desa kecil Sanchih di pinggiran kota Taipei (sekarang Kota New Taipei). Lee menerima pendidikan tinggi di Universitas Kyoto di Jepang selama pendudukan Jepang di Taiwan.

Setelah Perang Dunia II, Lee melanjutkan studinya di Universitas Nasional Taiwan, jurusan ekonomi pertanian. Pada tahun 1968, Lee menerima gelar Ph.D. dalam ekonomi pertanian dari Universitas Cornell.

Lee dikeluarkan dari partainya – Kuomintang (KMT) – karena perannya dalam mendirikan Serikat Solidaritas Taiwan (TSU) yang pro-kemerdekaan, sebuah partai politik kecil yang merupakan sekutu oposisi Partai Progresif Demokratik (DPP).

Pada pesta ulang tahunnya yang ke-90, Lee mengatakan Internet telah sangat mengubah interaksi antara manusia dan bahwa Taiwan telah memasuki “era politik rakyat”. (M1-RTI)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.