METRUM
Jelajah Komunitas

Mendekati Tiga Dekade, Java Jive Konsisten Berkarya

SOLID selama 26 tahun, Java Jive tak ingin berhenti berkarya. ­Memasuki pengujung 2019, Java Jive menyapa pendengar dengan single baru. Dalam judul ”Benci & Rindu”, ­Java Jive menghadirkan musik ­bernuansa disko dari era 1980-an. Lagu ini juga ­mewujudkan ­kekompakan 6 personel ­Java Jive yang tak pernah berganti yaitu ­Faturahman dan Dany S. Gumilar (vokal), Mochamad ­Noerwana alias Noey (bas), Tonny Ellison (keyboard), ­Edwin Saleh (drum), dan Herry C. Purnomo atau yang ­terkenal ­dipanggil Capung ­(gitar).

Formasi Band Java Jive saat ini (javajivebandofficial).*

Capung menceritakan, lagu ”Benci & Rindu” yang dia tulis berkisah tentang ke­jengahan dia terhadap perilaku orang di media sosial. Capung menilai, apa yang terjadi di media sosial sekarang sudah tidak sehat, terutama pada kondisi psiko­logis seseorang.

”Saya melihat, bangsa Indonesia lagi mencoba banyak hal, salah satunya demokrasi. Makanya saya menulis lirik di refrain, ’aku ­ingin damai-damai saja’, ini merupakan kenginan banyak orang. Akan tetapi, biar bagaimanapun perselisihan di media sosial menjadi fase yang harus di­lewati,” ungkap Capung di Kopi Ugo Igo, Jalan Muararajeun, Kota Bandung, Minggu (10/11/2019).

Selain berkaitan dengan keresahan terhadap kondisi di media sosial, lagu ”Benci & Rindu” juga bisa diinterpretasikan ­dengan hubungan sepasang manusia. Intinya, kata Capung, komunikasi antara dua pihak. Ketika sedang berpacaran, misalnya, akan meng­alami masa benci, rindu, dan mencoba banyak hal.

Formasi awal Java Jive saat masih ada Micko –foto kiri atas — (javajivebandofficial).*

Capung mengakui, tajuk ”Benci & Rindu” yang tersemat di lagu ini enggak Java Jive banget. Namun, dua kata inilah yang meng­gambarkan keseluruhan lagu. Judul ini, kata Capung, baru tercetus saat lagu sudah jadi. Kesan lawas atau klasik memang langsung terasa ketika ”Benci & Rindu” diputuskan sebagai judul.

Hong Kong dan Bandung

Bagi Java Jive, single ”Benci & Rindu” menjadi wujud eksistensi band yang terbentuk pada 1993 ini. Setelah melepaskan diri dari ­label, Java Jive kini berjalan di jalur independen. Tak heran jika ”Benci & Rindu” digarap secara swadaya oleh para personel.

Untuk videoklipnya saja, Noey bertindak selaku sutradara dan videografer. Mereka melakoni syuting klip saat mendapat kesempatan tampil di Hong Kong. Sayangnya, Fatur tak bisa bergabung. Alhasil, selain di Hong Kong, videoklip juga dibuat di Bandung ­untuk menggabungkan cerita dan gambar antara Fatur dan lima personel lain.

”Sebagai band, kami mengalami pasang surut. Seperti lagu ini, ya kami pernah benci dan rindu. Akan tetapi, kami tidak mau terjebak di masa lalu. Kami berusaha selalu melihat ke depan. Ketika keluar dari label, kemudian independen, kami tetap berhubungan baik dengan label. Buat kami ini sebagai bentuk kedewasaan, baik di dalam band maupun individu,” ungkap Capung.

Di awal karier, Java Jive dikenal kerap menghadirkan lagu ber­lirik nakal. Sebut saja lagu ”Sisa Semalam” atau ”Gadis Malam”. Di single anyar ”Benci & Rindu”, Java Jive mengubah citra lirik nakal tersebut.
Capung mengatakan, pada prinsipnya, berkarya itu seperti ber­layar, ada prosesnya. Saat berlayar, mereka tidak ingin kembali ke pulau sebelumnya. Jadi, ”kapal” harus terus melaju, mencari hal-hal baru, berubah, dan berbeda.

”Kenakalan kami dipindahkan ke musik karena sekarang Java Jive senang mengulik lagu yang bertempo upbeat. Tren anak sekarang dengarnya musik dari 1990-an. Mereka senang dengan lirik serta melodi yang manis dan enggak dibuat-buat. Sebagai band, kami hanya berusaha untuk membuat karya yang terbaik,” kata Capung.

Menolak tua

Foemasi Java Jive setelah ditinggal Micko dan masuk Capung sebagai gitaris (javajivebandofficial).*

Vokalis Dany S Gumilar yang dulu dikenal dengan nama Dany Sprit menyebutkan, sebagai band, Java Jive menolak tua. Pasalnya, dulu, ketika mereka menggarap album pertama dan kedua, lagu-lagu yang disajikan cenderung slow (lambat). Kini, di usia yang sudah memasuki kepala lima mereka malah senang ­dengan lagu-lagu upbeat.

”Kami ini terbebani stigma orang-orang yang mengatakan, Java Jive mah awet muda. Sebagai band yang hampir berusia 30 tahun, kami menyatakan diri masih kreatif dan energik untuk menjaga ­eksistensi. Setelah merilis single ’Dansa Yo Dansa’ 2017 lalu, kami ingin tetap ada di jalur upbeat,” ucap Dany.

Menurut Dany, saat ini ada bentuk lain ”kenakalan” Java Jive. Kenakalan ini diwujudkan tak lewat lirik, tetapi dari segi aransemen dan kemasan musik. Dany mengaku, sekarang kalau menyanyikan lagu ”Gadis Malam” dia suka merinding. Dia berpikir, ”kok bisa ­dulu bikin lagu seperti itu?”.

”Sebagai band, kami ingin bertahan seperti The Rolling Stones atau God Bless,” ujar Dany.

Fatur menambahkan, aransemen musik upbeat disukai pende­ngar dari generasi lawas dan melebar ke generasi sekarang. Kalau soal lirik, kata Fatur, pantang buat Java Jive membuat lagu yang tidak menginterpretasikan enam personelnya. Itulah sebabnya, lagu ”Benci & Rindu” disajikan dengan menampilkan karakter musik Java Jive, yaitu lagu dengan dua vokalis.

”Kami juga melakukan observasi untuk mengetahui perkem­bang­an musik Indonesia. Kesimpulannya, faktor lagu itu sangat penting. Kalau lagunya bagus-bagus, bisa bertahan lebih lama,” kata Fatur.

Sebagai band yang sudah senior, Java Jive ingin memberikan warisan pada ­generasi muda. Salah satu caranya, Java Jive ingin mengajak band-band muda membuat interpretasi lagu-lagu Java Jive.

”Setiap generasi punya idolanya masing-masing. Jika lagu kami dibawakan generasi sekarang dengan interpretasi berbeda, insya­allah lagu kami bisa diteruskan dari generasi ke generasi,” ujar Fatur.

Komitmen

Tak mudah memang mempertahankan umur band sampai men­dekati tiga dekade. Kesolidan band tentu pernah diuji dengan ber­bagai terpaan badai masalah. Namun, tak sedikit pula mereka merasakan buah manis dari berkarya. Tanpa pergantian personel, Java Jive bisa bertahan dan konsisten berkarya.

Noey mengungkapkan, resep Java Jive untuk bisa bertahan adalah toleransi dan komunikasi. Salah satu rahasia dapur yang Noey bocorkan adalah di Java Jive semua hal dibagi rata. Mereka bahkan punya kesadaran menyisihkan sebagian pendapatan untuk uang kas bersama.

Band Java Jive menjadi cover majalah Aneka Yes di tahun 1990-an (javajivebandofficial).*

”Fatur itu galak kalau soal keuangan band. Dengan keterbukaan di berbagai hal dan semua dikomunikasikan, kami bertahan selama 26 tahun,” ucap Noey.

Hal lain yang membuat Java Jive tetap berada di jalurnya adalah setiap personel punya komitmen untuk mengurus band. Selain ­sebagai personel band, masing-­masing dari mereka punya peran. Misalnya, urusan produksi ditangani Capung, promosi dan publi­kasi Noey, grafis dan visual band Edwin, serta administrasi Fatur dan Dany. Dengan peran ini, mereka punya kesadaran kolektif.

Dani, Fatur dan Capung (Dok. Metrum).*

Menurut Capung, tantangan yang dihadapi Java Jive bukan hanya perubahan zaman. Mereka juga harus memikirkan teknik berkarya, karena Java Jive merasakan era analog sampai digital.

”Insting kami ya harus bertahan. Kalau kami enggak ngeband, mau ngapain lagi. Ngeband bukan cuma urusan instrumen, tetapi musik menjadi jembatan kami. Berbagai masalah harus dihadapi. Sekarang kami masuk ke masa penerimaan, yaitu bisa menoleransi segala kekurangan dan kelebihan di Java Jive,” ungkap Capung.

Single ”Benci & Rindu yang dirilis November 2019 menjadi langkah baru Java Jive di industri musik. Setelah merilis album ­terakhir, ”Teman Sehati” (2017), kini Java Jive akan melepas sejumlah single dulu, sebelum kemudian dirangkum dalam satu album utuh.

”Sekarang bikin album enggak gampang dan enggak murah. Jadi strategi kami, rilis single dulu, baru nanti melepas album kesem­bilan,” ujar Capung.

Mereka Sempat Bubar

Java Jive cukup eksis di tanah air bahkan sejak awal kemun­culannya pada awal 1990-an. Java Jive adalah band yang sangat kental dengan aroma musik 1990-an. Judul lagu dan liriknya yang sedikit nakal ditambah musik yang melodius dan ­mudah diingat membuat Java Jive terkenal dengan cepat. Lagu ”Kau yang Terindah” dengan cepat menyebar dan disenandungkan banyak orang.

Noey JJ –kiri– (Dok. Metrum).*

Kiprah Java Jive ini terekam dengan lengkap dalam dokumentasi Harian Umum Pikiran Rakyat sejak lama. Tercatat ada seratusan artikel yang mengulas dan memberitakan Java Jive sejak awal berdirinya. Mayoritas memberitakan tentang perilisan album hingga reportase penampilan mereka di banyak tempat dan acara.

Dari sekian banyak tulisan tentang band asli Bandung ini, ada satu artikel yang menarik yaitu tulisan di halaman 17 edisi Sabtu 19 April 2003. Judulnya: ”Java Jive Putuskan Membubarkan Diri”.

Ya, band legendaris ini memang pernah memutuskan untuk membubarkan diri. Kabar buruk itu disampaikan di sela-sela acara pergelaran bertajuk ”Mega Karnaval Espanola” bertempat di Bandung Supermal (sekarang Trans Studio Mall/TSM).

”Semua personel sudah sepakat dan bersuara bulat untuk tidak lagi bersatu dalam bermain musik,” ujar Capung dalam jumpa pers dengan wartawan.
Capung mengatakan, kesibukan ­masing-masing personel Java Jive membuat grup musik tersebut vakum cukup lama. ”Tidak ­mudah bagi kami untuk menyatu karena kesibukan kami ­masing-masing cukup menyita,” ujarnya saat itu.

Edwin –tengah– (Dok. Metrum).*

Saat itu, para personel Java Jive memang memiliki kesibukan masing-­masing. Sebut saja Dany dengan Edwin yang menjajaki ­untuk membuat band baru bernama Play. Noey asyik memprodu­seri band Cafein. Fatur getol dengan solo kariernya. Sementara itu, ­Capung sibuk menjadi produser sejumlah band.

Meski menyatakan bubar, mereka merilis sebuah album perpisahan bertajuk ”The Best Java Jive” yang terdiri atas sejumlah lagu terbaik Java Jive dari empat album sebelumnya. Promo album itu digelar antara lain melalui acara ”A Mild Live on TV” yang pengambilan gambarnya dilakukan di kawasan Dago, Sabtu, 19 April 2003.

Meski telah menyatakan bubar, rupanya musik masih tetap menyatukan mereka. Kerinduan terhadap penciptaan karya baru terus menggeliat di antara para personelnya. Buktinya, Java Jive kemudian terlahir kembali dan membuahkan karya baru pada ­album baru berjudul ”Stay Gold” dengan tembang andalan mereka ”Hilang.”

Perjalanan Musik Java Jive

1989

Java Jive dibentuk pada tahun 1989 oleh sekelompok anak muda yang duduk di bangku SMAN 2 Bandung. Awalnya band ini dibentuk hanya sekadar untuk tampil di event lomba Vocal Group antar kelas saja. Edwin Saleh (drum) dan Mochamad ­Noerwana alias Noey (bas) sepakat membentuk grup band dengan nama Java Jive yang diambil dari salah satu judul lagu kelompok vokal Manhattan Transfer. Selain Edwin dan Oey kemudian bergabung Micko (gitar), Tony (kibor), Fatur (perkusi/vokal), Danny (vokal), dan Neta (vokal).

1991

Personel awal Java Jive yakni Neta dan Micko memutuskan untuk hengkang. Capung (gitar) kemudian bergabung menggantikan Micko yang bergabung dengan band Protonema.

1993

Java Jive mendapat kontrak pertama dari Musica Studio’s.

9 April 1994

Album debut bertajuk ”Java Jive 1” dirilis dengan lagu andalan ”Kau yang Terindah.”

Album Java Jive I (Wikipedia).*

1995-1999

Dalam kurun waktu lima tahun, Java Jive merilis tiga album, yakni ”Java Jive 2”, ”Java Jive 3”, dan ”Java Jive 4”. Beberapa lagu yang semakin mengokohkan nama Java Jive di dunia musik Indonesia di antaranya ”Gerangan Cinta”, ”Buah Hati”, dan ”Dia”.

2000

Fatur (vokal) sempat mengundurkan diri, tetapi pada 2006, ia kembali bergabung dengan teman-temannya di Java Jive.

2003

Sempat vakum, Java Jive tetap mengeluarkan album The Best of Java Jive dengan single andalan berjudul ”Gadis Malam” yang merupakan karya Coky Batubara.

2008

Setelah vakum, Java Jive kembali merilis album baru berjudul ”Stay Gold” dengan tembang andalan ”Hilang.”

2012

Menandai 20 tahun berkarya di belantika musik Indonesia, Java Jive mengeluarkan single berjudul ”Teman Sehati.” Di tahun yang sama, Java Jive juga merilis lagu religi berjudul ”Hidup Ini Indah.”

2013

April 2013, mereka merilis single ”Jujur” yang merupakan lagu daur ulang yang sebelumnya dibawakan oleh almarhum Bram ­Moersas. Kemudian pada September 2013, album kedelapan yang berjudul ”Java Jive 20 Teman Sehati” pun dirilis.

Diskografi Album Studio

  • 1994: Java Jive 1
  • 1995: Java Jive 2
  • 1997: Java Jive 3
  • 1999: Java Jive 4
  • 2003: The Best of Java Jive
  • 2006: 1993-2006
  • 2008: Stay Gold
  • 2012: Teman Sehati (single)
  • 2012: Hidup ini Indah (single)
  • 2013: Java Jive 20 Teman Sehati (single)
  • 2013: Jujur. (M1, Sumber: Wikipedia & “PR” Sabtu, 16/11/2019)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: