METRUM
Jelajah Komunitas

Arah Pandang: Kiri dalam Liberalisme Pasar

BINCANG-BINCANG pada Kamis sore (5/12/2019) dalam Talkshow tentang Ideologi dan Politik Internasional di Metrum Radio yang kali ini membahas soal Kiri dalam Liberalisme Pasar begitu layak disimak. Narasumber talkshow Desmond S. Andrian (Mentor Geostrategy Study Club dan Dosen HI International Women University/IWU) mampu memberikan wawasan, pandangan dan cakrawala berpikir kepada para pendengar, khususnya nonoman Metrum.

Dipandu host Dian Awallina, Desmond yang juga aktif di Museum Konferensi Asia Afrika Bandung ini mengungkapkan bahwa di tengah kuatnya praktik ekonomi Liberal, terdapat sejumlah pandangan yang tidak berpihak. Di antaranya adalah pandangan Kiri.

Bagaimana Kiri menyikapi Liberalimse Pasar? Mari kita coba telusuri pandangan Desmond tersebut berikut ini.

Teori Ketergantungan

Pertama, pandangan Teori Ketergantungan. Umumnya, dikenal sebagai Teori Dependensi (Dependency Theory). Teori ini melihat permasaalahan pembangunan dari sudut pandang Dunia Ketiga.

Menurut Theotonio Dos Santos, dependensi merujuk keadaan kehidupan ekonomi negara tertentu yang dipengaruhi perkembangan dan ekspansi dari kehidupan ekonomi negara lain. Negara tertentu ini hanya berperan sebagai penerima akibat saja.

Intinya, ada pola ketergantungan antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lainnya dalam kehidupan berbangsa di dunia. Teori ini menitikberatkan pada persoalan keterbelakangan dan pembangunan di negara pinggiran.

Dalam hal ini, teori dependensi mewakili “suara negara-negara pinggiran” untuk menantang hegemoni ekonomi, politik, budaya dan intelektual dari negara maju.

Awal mula teori ini dikembangkan pada akhir tahun 1950-an oleh Raul Presibich (Direktur Economic Commission for Latin America, ECLA). Raul Presbich dan rekannya bimbang terhadap pertumbuhan ekonomi di negara-negara maju yang tumbuh pesat, namun tidak serta merta memberikan perkembangan yang sama kepada pertumbuhan ekonomi di negara-negara miskin. Bahkan dalam kajiannya, mereka mendapati aktivitas ekonomi di negara-negara yang lebih kaya sering kali membawa kepada masalah-masalah ekonomi di negara-negara miskin.

Lahirnya teori ini merupakan jawaban atas krisis yang dialami teori Marx ortodoks di Amerika Latin. Menurut Marxsis ortodoks, Amerika Latin harus melalui tahap revolusi industri “borjuis” sebelum melampaui revolusi sosialisasi proletar.

Namun demikian, revolusi Republik Rakyat Tiongkok tahun 1949 dan Revolusi Kuba pada akhir tahun 1950-an: negara Dunia Ketiga tidak harus selalu mengikuti tahap-tahap perkembangan tersebut. Karena tertarik pada model pembangunan di RRC dan Kuba, banyak intelektual radikal di Amerika latin berpendapat: negara-negara di Amerika Latin dapat saja langsung menuju dan berada pada tahapan revolusi sosialis.

Teori dependensi ini segera menyebar dengan cepat dibelahan Amerika Utara pada akhir tahun 1960-an oleh Andre Gunder Frank, yang kebetulan berada di Amerika Utara pada tahun 1960-an.

Di Amerika Serikat, teori ini memperoleh sambutan hangat. Kedatangannya hampir bersamaan waktunya dengan lahirnya kelompok intelektual muda radikal yang tumbuh dan berkembang subur pada massa revolusi kampus. Kelompok ini muncul akibat pengaruh kegiatan protes antiperang, gerakan kebebasan wanita, dan menyebarnya kerusuhan rasial pada pertengan tahun 1960 yang diikuti oleh inflasi kronis, devaluasi mata uang dollar Amerika dan perasaan kehilangan kepercayaan diri pada masa awal tahun 1970-an. Akibatnya, keyakinan akan landasan moral Teori Modernisasi mulai meredup.

Pandangan Raul Prebisch

Prebisch mengkritik keusangan konsep pembagian kerja secara internasional, yaitu Internasional Division of Labor (IDL).

IDL, menurut Presbich, justru yang menjadi sebab utama munculnya masalah pembangunan di Amerika Latin. Adanya IDL, yang didasarkan pada teori keunggulan komparatif, membuat negara- negara di dunia melakukan spesialisasi produksinya.

Oleh karena itu,  negara-negara di dunia terbagi menjadi dua kelompok, yaitu negara-negara center/pusat yang menghasilkan barang industri dan negara-negara pheriphery/pinggiran yang memproduksi hasil-hasil pertanian.

Keduanya saling melakukan perdagangan. Tapi, yang terjadi justru sebaliknya. Negara-negara center yang melakukan spesialisasi pada industri menjadi kaya, sedangkan negara pengirim (pheriphery) tetap saja miskin. Padahal seharusnya kedua negara sama kaya karena perdagangannya saling menguntungkan.

Analisis Raul Prebisch terhadap kemiskinan negara pinggiran:

  • Terjadi penurunan nilai tukar komoditi pertanian terhadap komoditi barang industri. Barang industri semakin mahal dibanding hasil pertanian, akibatnya terjadi defisit pada neraca perdagangan negara pertanian bila berdagang dengan negara industri.
  • Negara-negara industri sering melakukan proteksi terhadap hasil pertanian mereka sendiri, sehingga sulit bagi negara pertanian untuk mengekspor ke sana (memperkecil jumlah ekspor negara pinggiran ke pusat).
  • Kebutuhan akan bahan mentah dapat dikurangi dengan penemuan teknologi lama yang bisa membuat bahan mentah sintetis, akibatnya memperkecil jumlah ekspor negara pinggiran ke negara pusat.
  • Kemakmuran  meningkat  di  negara  industri  menyebabkan  kuatnya  politik  kaum  buruh. Sehingga upah buruh meningkat dan akan menaikan harga jual barang industri, sementara harga barang hasil pertanian relatif tetap

Solusi Raul Prebisch: negara-negara yang terbelakang harus melakukan industrialisasi, bila mau membangun dirinya. Industrialisasi ini dimulai dengan Industri Substitusi Impor (ISI).

ISI dilakukan dengan cara memproduksi sendiri kebutuhan barang-barang industri yang tadinya di impor untuk mengurangi bahkan menghilangkan penyedian devisa negara untuk membayar impor barang tersebut.

Pemerintah berperan untuk memberikan proteksi terhadap industri baru. Ekspor bahan mentah tetap dilakukan untuk membeli barang-barang modal (mesin-mesin industri), yang diharapkan dapat mempercepat industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi.

Bagi Presbich campur tangan pemerintah merupakan sesuatu yang sangat penting untuk membebaskan negara-negara pinggiran dari rantai keterbelakangannya.

Neo-Marxisme

Keberhasilan dari revolusi Tiongkok dan Kuba ketika itu telah membantu tersebarnya perpaduan baru pemikiran-pemikiran Marxisme di universitas-universitas di Amerika Latin yang menyebabkan generasi baru dan dengan lantang menyebut dirinya sebagai Neo-Marxisme.

Beberapa pendapat Neo-Marxisme:

  • Neo-Marxisme melihat imperialisme dari sudut pandangan negara pinggiran. Dengan lebih memberikan perhatian pada akibat imperialisme pada negara-negara dunia ketiga.
  • Neo-Marxisme percaya, bahwa negara dunia ketiga telah matang untuk melakukan revolusi sosialis.
  • Neo-Marxisme lebih tertarik pada arah revolusi Tiongkok dan Kuba dan berharap banyak pada kekuatan revolusioner potensial dari para petani pedesaan dan perang gerilya tentara rakyat.
Dian Awallina, Desmond S. Andrian dan Uwie (Dok. Metrum).*

Paul Baran

Paul Baran adalah seorang pemikir Marxis yang menolak pandangan Marx tentang pembangunan di negara-negara Dunia Ketiga.

Marx mengatakan: sentuhan negara-negara kapitalis maju di Eropa kepada negara-negara pra- kapitalis yang terbelakang di luar Eropa akan membangunkan negara-negara pra-kapitalis itu untuk berkembang seperti negara-negara kapitalis di Eropa.

Baran berpendapat lain: sentuhan ini justru akan mengakibatkan negara-negara pra kapitalis itu terhambat kemajuannya dan akan terus hidup dalam keterbelakangan.

Dengan pendapatnya yang berbeda dengan Marx, Baran menyatakan: perkembangan kapitalisme di negara-negara pinggiran berbeda dengan perkembangan kapitalisme di negara-negara pusat.

Di negara pinggiran sistem kapitalisme seperti terkena penyakit kretinisme. Orang yang dihinggapi penyakit ini tetap kerdil dan tidak bisa besar.

Menurut Baran, kapitalisme di negara-negara pusat bisa berkembang karena adanya tiga prasyarat:

  • Meningkatnya produksi diikuti dengan tercabutnya masyarakat petani di pedesaan.
  • Meningkatnya produksi komoditi dan terjadinya pembagian kerja mengakibatkan sebagian orang menjadi buruh yang menjual tenaga kerjanya sehingga sulit menjadi kaya, dan sebagian lagi menjadi majikan yang bisa mengumpulkan harta.
  • harta terkumpul di tangan para pedagang dan tuan tanah.

Bentuk-bentuk Ketergantungan

Dos Santos menguraikan ada 3 bentuk ketergantungan:

1). Ketergantungan Kolonial

  • Terjadi penjajahan dari negara pusat ke negara pinggiran.
  • Kegiatan ekonominya adalah ekspor barang-barang yang dibutuhkan negara pusat.
  • Hubungan penjajah – penduduk sekitar bersifat eksploitatif negara pusat.
  • Negara pusat menanamkan modalnya baik langsung maupun melalui kerja sama dengan pengusaha lokal.

2). Ketergantungan Teknologis-Industrial

  • Bentuk ketergantungan baru.
  • Kegiatan ekonomi di negara pinggiran tidak lagi berupa ekspor bahan mentah untuk negara pusat.
  • Perusahaan multinasional mulai menanamkan modalnya di negara pinggiran dengan tujuan untuk kepentingan negara pinggiran. (M1)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: