METRUM
Jelajah Komunitas

Menguatkan Ekosistem Gerakan Revolusi Mental

Sejumlah 50 peserta dari berbagai suku tampak mengenakan baju adat pada Selasa dan Rabu (14-15/9) di Bukit Damai Indah, kawasan SMK Bakti Karya Parigi kabupaten Pangandaran. Mereka adalah siswa dan guru SMK Bakti Karya Parigi yang mengikuti Workshop Pendidikan Multikultural sebagai Upaya Penguatan Ekosistem Gerakan Revolusi Mental.

Acara ini digagas oleh Yayasan Darma Bakti Karya yang mengelola SMK Bakti Karya Parigi bekerjasama dengan Deputi Bidang Revolusi Mental, Pemajuan Budaya dan Prestasi Olahraga Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Sejumlah materi tentang konsep pendidikan multikultural, pemahaman kebinekaan Indonesia, upaya membangun narasi persatuan di tengah ancaman disintegrasi, cara berkarya di tengah pandemi untuk menyemangati negeri, kiat hidup sehat di tengah pandemi, upaya membangun semangat kebersamaan, dan kolaborasi karya lintas budaya.

Selain itu, acara yang menjadi rangkaian masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) SMK Bakti Karya Parigi, melibatkan sejumlah narasumber dari berbagai instansi seperti UGM, STITNU, YDBK, guru dan relawan SMK Bakti Karya Parigi serta perwakilan dari kedeputian Kemenko PMK.

Acara yang diselingi berbagai simulasi dan pertunjukan ini memadukan antara materi dengan praktek. Kondisi SMK Bakti Karya Parigi yang memiliki siswa dari berbagai provinsi menambah keseruan acara ini. Kehadiran beberapa mahasiswa dari Universitas Paramadina dan Universitas Pendidikan Indonesia menambah keseruan acara ini.

Menurut Ai Nurhidayat, ketua Yayasan Darma Bakti Karya yang sekaligus narasumber menerangkan bahwa kegiatan ini berlangsung setiap tahun sebagai langkah awal penerapan pendidikan multikultural. Menurut Ai, gerakan revolusi mental yang menjadi program Nawacita harus diterjemahkan dalam bentuk nyata berupa praktek pendidikan multikultural di sekolah.

“Kami ingin, setiap siswa yang belajar di sini dapat memahami keragaman sebagai anugerah sebagai bekal pembentukan mental yang kuat terutama bagi pemelajar dan pembelajar” kata Ai.

Hal yang sama disampaikan Asep Mulyana kandidat doktor UGM yang saat ini tengah meneliti SMK Bakti Karya Parigi. Di sela penyampaian materi yang disampaikan, Asep melihat acara ini menjadi pemicu untuk mempelajari keragaman Nusantara.

Di tengah rangkaian acara, Alfian Ahmad yang mewakili Kemenko PMK turut menyampaikan materi secara daring tentang pentingnya kerjasama semua pihak dalam membentuk ekosistem pembelajaran yang seirama dengan gerakan Revolusi Mental.

“Revolusi Mental ini bukan sebatas tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab semua pihak dalam membentuk mental masyarakat Indonesia” kata Alfian.

“Kami turut mendukung inisiatif yang dilakukan SMK Bakti Karya Parigi ini. Inilah bentuk gotong royong sesungguhnya” pungkas Alfian.

Walaupun ada pada situasi pandemi, SMK Bakti Karya Parigi kerap menggelar acara sesuai prokes.

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: