METRUM
Jelajah Komunitas

Monumen BLA, Pengingat Sikap Keras Warga Bandung Menolak Kembalinya Penjajahan

MEMASUKI kompleks Monumen Bandung Lautan Api (BLA) hari-hari ini di Tegalega, Kota Bandung, kesan pertama adalah suasana teduh karena banyaknya pepohonan. Kerindangan dedaunannya menghasilkan udara sejuk dan segar. Karena itu dengan tempat duduk seadanya bagi para pengunjung pun, mereka bisa terlelap tidur.

Kesan selanjutnya adalah lahan luas kompleks BLA mampu memfasilitasi rakyat untuk beragam kegiatan: olahraga sungguhan seperti beladiri, sepakbola, jalan kaki santai, hiburan, dan mengais rezeki. Terlepas dari berapa perolehan usaha sehari-hari, terutama akhir pekan, mereka berusaha keras melalui berjualan makanan, minuman, pakaian, tanaman hias, dan menyewakan beragam mainan anak-anak.

Hanya dengan membayar karcis masuk yang sangat murah, Rp 1.000,00/orang, selanjutnya warga bebas memilih beragam fasilitas hiburan yang juga relatif murah. Para orangtua dan anak-anak bisa naik odong-odong dengan tarif Rp 10.000,00/orang untuk dua kali putaran.

Tersedia pula penyewaan kendaraan mainan untuk anak-anak. Mereka dikenakan tarif Rp 15.000,00 jika ingin mengayuh becak selama 15 menit, atau naik mobil-mobilan atau motor-motoran. Bagi anak-anak yang hobi melukis atau merwarnai juga sudah tersedia beragam kerangka gambar, manusia atau alam.

KERAMAIAN pengunjung kompleks Monumen BLA pada hari Sabtu masih kalah dibanding hari Minggu. (Foto: Widodo A.).*

Penjual makanan, terutama di akhir pekan, mampu meraup penghasilan bersih beberapa ratus ribu dalam sehari. Bahkan bagi penjual jasa kendaraan mainan anak-anak, bisa memperoleh penghasilan yang lebih tinggi lagi.

Muhammad Jalaludin (25 tahun), warga Kelurahan Pelindung Hewan, Kecamatan Astanaanyar, memanfaatkan kehadiran kompleks Monumen BLA untuk menyewakan kendaraan mainan anak-anak. Memulai usaha pada 2019 lalu, semula dia menjadi karyawan penyewanaan kendaraan mainan itu.

Namun kemudian Muh. Jalaludin mencoba mandiri. Kini dia punya 10 mobil mainan. Untuk hari Sabtu dia membayar retribusi Rp 30.000,00, tapi menjadi Rp 300.000,00 pada hari Minggu. Jumlah kunjungan warga ke kompleks Monumen BLA memang membludak pada hari Minggu, bisa mencapai ribuan orang sehingga usaha penyewaan kendaraan pun lumayan panen.

Menurut Muh. Jalaludin, di lingkungan kompleks BLA dan Taman Lampion (Lampion Park) seluas belasan hektar itu terdapat komunitas penyewaan kendaraan mainan. Kini anggotanya 30 orang. Omzet usaha mereka beragam. Jalaludin sendiri mengaku bisa meraih sekitar Rp 1,5 juta pada hari Sabtu dan bahkan Rp 2 juta pada hari Minggu.

Keramaian pengunjung di area ini memang beragam tujuan. Selain khusus ke Monumen BLA atau Taman Lampion, juga bisa main sepakbola di lapangan yang sudah tersedia, atau sambil belanja tanaman hias dan pakaian.

Pedagang pakaian dan sayuran serta buah-buahan umumnya berada di luar kompleks Monumen BLA. Saking banyak dan rapatnya keberadaan mereka di luar pagar, selintas menghalangi pemandangan kompleks Monumen BLA jika dilihat dari jalan raya, baik dari Jalan Otto Iskandardinata maupun Jalan Mohammad Toha.

Bumi hangus kota

Pembangunan Monumen BLA tentu saja berlatar belakang sejarah yang sangat penting bagi proses mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, termasuk oleh rakyat Bandung. Tidak lama setelah Indonesia resmi menyatakan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, ternyata pada awal 1946 penjajah Belanda dengan dibantu tentara Inggris ingin kembali menguasai Indonesia.

Tentara Sekutu Inggris dan NICA (Nederlands Indie Civil Administration) Belanda berusaha menguasai Bandung, meskipun harus melanggar hasil perundingan dengan Republik Indonesia. Agresi militer Inggris dan NICA Belanda pun memicu tindakan pembumihangusan kota oleh para pejuang dan masyarakat Bandung.

Tentara Sekutu Inggris dan NICA Belanda yang menguasai wilayah Bandung Utara (wilayah utara jalan kereta api yang membelah Kota Bandung dari timur ke barat), memberikan ultimatum pada 23 Maret 1946 agar Tentara Republik Indonesia (TRI) mundur sejauh 11 kilometer dari pusat kota (wilayah selatan jalan kereta api yang dikuasai TRI) paling lambat pada tengah malam tanggal 24 Maret 1946. (bandung.go.id)

Tuntutan itu disetujui Pemerintah RI di Jakarta, padahal Markas Besar di Yogyakarta telah memerintahkan TRI untuk mempertahankan setiap jengkal tanah Bandung. TRI dan warga Bandung memutuskan untuk mundur ke selatan, tapi sambil membumihanguskan Kota Bandung agar pihak musuh tidak dapat memanfaatkannya.

MONUMEN Bandung Lautan Api (BLA) di Tegalega, Kota Bandung, Sabtu 10 Juni 2023. (Foto: Widodo A.).*

Pada siang tanggal 24 Maret 1946, TRI dan warga mulai mengosongkan Bandung Selatan dan mengungsi ke selatan kota. Pembakaran diawali pukul 21.00 di Indisch Restaurant di utara Alun-alun (BRI Tower sekarang). Para pejuang dan masyarakat membakari bangunan penting di sekitar jalan kereta api dari Ujung Berung hingga Cimahi.

Bersamaan dengan itu, TRI melakukan serangan ke wilayah utara sebagai “upacara” pengunduran diri dari Bandung. Langkah itu diiringi kobaran api sepanjang 12 kilometer dari timur ke barat. Bandung membara bak lautan api dan langit memerah mengobarkan semangat juang. Tekad untuk merebut kembali Bandung muncul di dalam hati setiap pejuang.

Sejarah heroik itu tercatat dalam sejarah bangsa Indonesia sebagai peristiwa Bandung Lautan Api (BLA). Lagu Halo-Halo Bandung ciptaan Ismail Marzuki menjadi lagu perjuangan pada saat itu.

Monumen BLA memiliki tinggi 45 meter dengan sembilan bidang. Konstruksinya berbentuk tiga buah bambu yang menjadi penyulut kobaran api dan berwarna kuning keemasan yang menjulang di area seluas 16 hektare.

Karya tersebut merupakan hasil rancangan seniman Sunaryo Soetono, yakni seniman kontemporer dan mantan dosen seni rupa Institut Teknologi Bandung (ITB) yang memenangkan sayembara untuk merancang Monumen BLA pada 1984.

Lokasi Monumen BLA sangat strategis karena berada di pusat Kota Bandung dengan akses yang mudah dijangkau angkutan mobil pribadi dan kendaraan umum. Peringatan BLA setiap tanggal 24 Maret selalu dilakukan di lokasi monumen di Jalan BKR, Ciateul, Kecamatan Regol, Kota Bandung itu. (Widodo A, Wartawan Senior)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.