METRUM
Jelajah Komunitas

Musik Heavy Metal Tumbuh dan Berkembang di Indonesia

Musik heavy metal adalah musik yang cukup kontroversial bagi sejumlah kalangan konservatif, tetapi cukup populer di negara dengan mayoritas penduduk Muslim terbesar di dunia saat ini.

JAKARTA – Indonesia baru saja menyelenggarakan festival tahunan musik heavy metal terbesar se-Asia Tenggara di Jakarta. Festival yang diselenggarakan di negara dengan jumlah populasi Muslim terbesar di dunia ini mendatangkan sekitar 55 band dari berbagai penjuru dunia dan sekitar 38.000 penggemar musik tersebut pada tahun ini.

Dian Ranindita, salah satu penggemar musik metal yang hadir dalam festival itu mengatakan kepada VOA bahwa genre musik tersebut menawarkan berbagai tema yang sesuai dengan mereka.

“Misalnya, tema-tema romantis ketika Anda sedang patah hati, atau sedang ingin jatuh cinta kepada seseorang. Ketika Anda sedang merasa tertekan, ada juga tema-tema depresi, dan ketika Anda ingin memacu adrenalin,” sebut Dian.

Dian telah menjadi penggemar musik metal selama lebih dari dua dekade. “Stereotip musiknya selalu dikaitkan dengan kegelapan, kekrasan, agresif, dan seperti kesetanan. Tapi sebenarnya heavy metal tidak seperti itu,” jelasnya.

Fenomena musik heavy metal yang digemari di Indonesia dinilai sebagai salah satu bentuk penerimaan budaya Indonesia yang lebih terbuka dengan budaya asing, dibandingkan dengan negara-negara Muslim konservatif lainnya.

Pandangan ini dijelaskan oleh Dekan Fakultas Seni Pertunjukan Institut Kesenian Jakarta Pri Ario Damar.

“Di beberapa negara Muslim, musik heavy metal sangat ditolak dan dibatasi. Mereka tidak mengizinkan musik tersebut karena dianggap sebagai bentuk penistaan agama. Indonesia adalah negara Muslim yang moderat, oleh karena itu kami sangat terbuka terhadap segala kemungkinan atau pengaruh,” ujar Pri Ario.

Salah satu band asal Indonesia yang tampil dalam festival itu adalah Sisi Selatan. Band metal asal Solo ini tampil membawakan lagu dengan nuansa cinta dan aktivisme sosial.

Adi Wibowo, gitaris Sisi Selatan mengatakan kepada VOA bahwa semua jenis musik bisa diterima oleh masyarakat Indonesia.

“Kenapa musik metal bisa masuk ke Indonesia dengan mudah dan jadi populer? Sebenarnya bukan hanya musik metal saja, tetapi juga musik Korea, Jepang, India. Kita semua menerima budaya dan pengaruh asing,” ujar Adi.

Sementara sang vokalis Denisa Dhaniswara mengatakan bahwa di Indonesia tidak hanya jumlah penggemar heavy metal saja yang bertambah, tetapi juga para musisi metal yang semakin lama memiliki kualitas yang semakin baik.

“Indonesia memiliki banyak band heavy metal baru dan itu membuat saya sangat senang karena kita selalu berkembang. Selalu menemukan hal-hal baru. Semua orang sangat kreatif,” tutur Denisa.

Penyanyi dan penulis lagu Indonesia Denisa Dhaniswara tampil di Hammersonic, festival musik heavy metal tahunan terbesar di Asia Tenggara. (Dave Grunebaum/VOA)
Penyanyi dan penulis lagu Indonesia Denisa Dhaniswara tampil di Hammersonic, festival musik heavy metal tahunan terbesar di Asia Tenggara. (Dave Grunebaum/VOA).*

Suara gitar dan tabuhan drum pun terdengar membahana dalam festival Hammersonic, seiring kerumunan orang menari dan menghentakkan kepalanya ke sana ke mari.

Salah satu band metal ternama di dunia, Lamb of God, ikut serta dalam festival tahun ini. Band asal Amerika Serikat ini sebelumnya sempat dilarang tampil di Malaysia pada tahun 2013 silam karena para pemuka agama di negara itu mengatakan bahwa sejumlah lagu yang dibawakannya dinilai menghujat Islam.

Akan tetapi, Presiden Indonesia saat ini, Joko Widodo, berbicara secara terbuka tentang kecintaannya pada musik heavy metal dan mengatakan bahwa dirinya adalah seorang penggemar band Lamb of God. (M1-VOA/th/lt)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.