METRUM
Jelajah Komunitas

“Ngarayap”, Komunitas Pesepeda Beranggotakan Saudara dan Tetangga

KHAZANAH dunia sepeda makin ke sini makin semarak dengan bertambahnya populasi pesepeda terutama dari kalangan usia paruh baya, diiringi juga menjamurnya komunitas pesepeda.

Gairah bersepeda dalam masyarakat sedikitnya telah memicu munculnya komunitas pesepeda di lingkungan kecil, seperti Rukun Tetangga (RT), Rukun Warga (RW), atau komplek perumahan.

Beberapa komunitas pesepeda baru menamakan komunitasnya sesuai tempat atau lingkungan mereka berada. Ada yang menambah embel-embel RT/RW, nama gang, nama daerah atau nama komplek perumahan.

Di Bandung Raya, sebut saja di antaranya yaitu Situ Gunting Bike Community (SBC) berdasarkan nama daerah, Cempaka Arum Gowes Ekstrem (CGE) berdasarkan nama komplek perumahan, dan Baraya Gowes RW.07 berdasarkan nama lingkungan RW.

Anggota komunitas pesepeda Ngarayap (Foto: Dok. Ngarayap).*

Namun sedikit berbeda penamaannya dengan salah satu komunitas yang berada di Gang 7 daerah Nyengseret, Astana Anyar, Kota Bandung. Meski anggota pesepeda terdiri dari satu keluarga (ayah, anak, dan menantu) ditambah para tetangga, mereka menamakan komunitas sepedanya adalah NGARAYAP, tidak menggunakan nama daerah atau lingkungannya.

Ngarayap lahir pada tanggal 13 Januari 2017, dibuat dari hasil obrolan santai bersama para tetangga pegiat sepeda yang sudah dianggap seperti saudara. Bincang-bincang para tetangga itu kemudian menunjuk Siswanto sebagai ketua atau koordinatornya. Siswanto dipilih karena masih muda dan menantu salah satu tokoh masyarakat setempat sekaligus sebagai sesepuh Ngarayap.

Ngarayap gowes bareng menjajal trek Dago Resort (Foto: Dok. Ngarayap).*

Komunitas yang beranggotakan sekitar 30 orang tersebut kegiatan rutinnya adalah bersepeda bersama di akhir pekan ke berbagai trek sepeda atau destinasi wisata. Mereka selalu mengutamakan tujuannya adalah warung sebagai tempat istirahat melepas lelah, baik selama perjalanan maupun di tujuan akhir.

Ngarayap dalam bahasa Sunda artinya berjalan perlahan, lamban, atau boyot. Meski cenderung merendah, pada kenyataannya irama bersepeda mereka tak se-Ngarayap namanya, apalagi anggotanya banyak yang sudah lama berkecimpung dan menekuni olahraga bersepeda.

Ngarayap di Ciburial (Foto: Dok. Ngarayap).*

Oleh sebab itu, mereka sudah terbiasa mengayuh sepeda dengan kuat dan cepat mengarungi berbagai medan jalan atau trek bersepeda. Jalan menanjak, menurun, atau jarak jauh mereka lahap dengan ceria menepis rasa lelah selama perjalanan.

Rute jarak jauh yang sudah mereka tempuh dan jajal dalam setahun terakhir yaitu perjalanan menuju Pangandaran, Garut, Tasikmalaya, Majalengka, Ciwidey, dan Gunung Padang, Cianjur. Bukan tanpa alasan, tempat-tempat tersebut dipilih sekaligus untuk meminimalisir kondisi pandemi agar pesepeda tidak bertumpuk atau berkumpul di seputaran Kota Bandung saja.

Ngarayap berfoto bersama di Alun-alun Tanjungsari, Kab. Sumedang (Foto: Dok. Ngarayap).*

Namun, jika mereka ingin bersepeda di pusat kota, komunitas ini membatasi jumlah goweser dan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Di seputaran Bandung Raya, biasanya Ngarayap menjajal rute ke Lembang, Soreang, dan Tebing Keraton. Sesekali keliling Kota Bandung, terutama ke salah satu tujuan berkumpulnya para pesepeda di akhir pekan, yaitu Jalan Dago. Rencananya, kegiatan bersepeda bersama yang akan dilakukan dalam waktu dekat adalah perjalanan menuju Garut kembali.

Selain bersepeda untuk berolahraga, silaturahmi dan bergembira ria, Ngarayap juga kerap melakukan aksi kegiatan sosial, meski mereka hanya sebagai pengikut bukan pelaksana. “Sejauh ini kami memang belum pernah melaksanakan sendiri kegiatan sosial. Kami hanya mengikuti dan membantu beberapa komunitas yang lain, salah-satunya kegiatan berbagi takjil setiap bulan ramadan yang dilaksanakan oleh Komunitas Ce’es Beurat. Semoga saja ke depan Ngarayap bisa melaksanakan aksi sosial sendiri,” ujar Siswanto.

Salam sehat, semangat, waspada dan selalu menerapkan protokol kesehatan. Bersepedahlah dengan bijak, tertib, dan beretika. Salam boseh dan go green! (Cucu Hambali, Bersepeda itu Baik)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: