METRUM
Jelajah Komunitas

Opera Padjadjaran Lises Unpad “Subang Larang”: Rasa Cinta Pamanah Rasa

KISAH bersejarah, ”Subang Larang”, dipilih sebagai acara ­besar penutup tahun Lingkung Seni Sunda (Lises) Universitas ­Padjadjaran, di Teater Tertutup Taman Budaya Jawa Barat, ­Bandung, Rabu (27/11/2019). Perjalanan kisah Subang Larang menjadi titik penting penyebaran Islam di tanah Sunda.

Opera Padjadjaran ”Subang Larang” ini didukung oleh penulis naskah dan sutradara Oga Wilantara, penata gending Apep AS Hudaya, penata tari Datam Ali Topan, serta puluhan talent. Oga menuturkan, pemilihan kisah tentang syiar Islam ini begitu kaya, meskipun jarang diangkat pada pementasan.

Sutradara dan Panitia Pagelaran Opera Padjadjaran: Subang Larang saat talkshow di Metrum Radio (Dok. Metrum).*

Kisah berawal dari Raden Pamanah Rasa atau Pangeran Jaya Dewata, yang ditugaskan Kerajaan Hindu Galuh Pakuan (Pajajaran) untuk memeriksa kegiatan berbau dakwah Islam yang digelar Syekh Quro, seorang pimpinan pesantren. Sesampainya di lokasi dakwah, ia melihat Nyai Subang Larang.

Putra mahkota Pajajaran yang akhirnya diberi suatu saat menda­pat gelar Prabu Siliwangi itu malah terpikat oleh Subang Larang. Alih-alih mengamati kegiatan dakwah dan menegur acara itu, Raden Pamanah Rasa memilih untuk menikmati alunan suara merdu Nyai Subang Larang saat membacakan ayat suci Alquran.

Di tengah suasana jatuh cinta, ia teringat akan tugas dari kerajaan. Dakwah itu tak boleh dibiarkan. Akan tetapi, rasa cinta tak bisa terbendung. Suasana batinnya bergejolak. Saat kembali ke kerajaan, ia menyiasati laporan. Ia memilih berbohong. Aliran keyakinan yang harus ia amati dalam dakwah itu dianggap aman, bukan kegiatan mengancam kondisi sosial saat itu. Seusai bertugas, demi pujaan hatinya, Raden Pamanah Rasa kembali mencari Nyai Subang Larang.

(Foto: Ade Bayu Indra).*

Untuk menunjukkan keseriusannya, Raden Pamanah Rasa menyata­kan niatnya untuk meminang Nyai Subang Larang sebagai istri. Akan tetapi, tak mudah untuk menjadi pendamping hidup Subang Larang. Raden Pamanah Rasa harus memenuhi dua syarat.

Pertama adalah syarat menyediakan Lintang Kerti Jejer Saratus atau tasbih sebagai simbol zikir kepada Tuhan. Satu lagi syaratnya adalah kesediaan Raden Pamanah Rasa untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Syarat itu termasuk berat, apalagi bagi putra Kerajaan Galuh yang masih kental dengan keyakinan Hindu.

Namun, demi besarnya cinta pada Subang Larang, Pamanah Rasa bersedia mengucapkan kalimat yang menjadi awal niat memeluk Islam itu. ”Pamanah Rasa hanya ingin memenuhi toleransi. Opera diliputi konflik yang membuat tarik ulur antara tugas dari negara dengan perkawinan yang mensyaratkan beralihnya keyakinan.

Kekuatan cerita ini ada pada syiar Islam. Hingga sekarang menurut cerita dibawa ke Pakuan tidak sampai ke istana. Yang paling diangkat tentang syiar Islam. Akan tetapi, beragam interpretasi kami serahkan ke penonton,” ujar Oga.

Pergelaran itu diperkaya dengan opera, drama tari, teater, karawitan, seni gembyung, dan ditutup dengan seni sisingaan. Warna seni yang dipilih dari kesenian yang diyakini berasal dari wilayah kaler.

Adegan dibagi antara suasana Keraton Galuh, Syekh Quro, hingga perjalanan Subang Larang yang dikejar Pamanah Rasa hingga ke Cirebon lalu ke Amparan Alit. Kobong Amparan Alit merupakan pesantren besar Nyi Subang Larang di kawasan Teluk Agung, yang kini berada di wilayah Desa Nanggerang, Kecamatan Binong.

(Dok. Lises Unpad).*

Jika dibedah lebih luas, kata Oga, pementasan itu bisa berkembang menjadi 7 adegan. Akan tetapi, beberapa adegan cerita kali ini mampu dipenuhi oleh sajian narator.

Dari 500 penonton yang hadir, perhelatan ini diisi banyak ­penonton muda. Akan tetapi, opera ini dirancang untuk masuk segala usia. Penata gending Apep AS Hudaya, menuturkan, adegan opera diberi latar seni karawitan, momentum Syekh Quro diperkuat seni gembyung agar masuk karakter rakyat.

Di latar Cirebon, warna gending jadi pengiring dan didukung pupujian. Adegan tersebut juga dilengkapi multimedia dengan latar Keraton Cirebon. Kostum juga tak kalah diperhitungkan, dengan menyajikan sentuhan segar.

Apep mengatakan, unsur modern yang disisipkan juga sebagai upaya ”membiasakan” ruang kesenian pada generasi yang sudah banyak terpengaruh budaya asing. Dari pengalamannya menyajikan wayang golek di berbagai negara, kemasan seni tradisional mendapat impresi tinggi saat bisa ”menyentuh” rasa yang pernah audiens kenali sebelumnya.

Lises Bukan Sekadar Organisasi Kesenian Mahasiswa

(Foto: Ade Bayu Indra).*

Mantan Rektor Unpad Prof Ganjar Kurnia memiliki catatan khusus terkait Unpad sebagai pusat pengembang­an dan rujukan seni dan budaya Sunda. Perjalanan itu dimulai pada 1960 hingga awal 1970-an, saat kesenian Sunda di Unpad terhimpun dalam Departemen Kesenian, salah satu organ di bawah Dewan Mahasiswa. Mahasiswa saat itu menyebutnya dengan istilah Depkes.

Saat itu, aktivitas Depkes begitu tersohor. Pergelaran yang paling jadi unggulan Depkes salah satunya yakni ”Balebat”. Sebuah pergelaran yang diisi tari tani, tari langlayangan, kaulinan urang lembur, calung, ketuk tilu, sejumlah tarian klasik, tari wayang, dan banyak lagi.

Setiap Dies Natalis Unpad, Depkes selalu diminta mengisi acara, di antaranya menggelar Gending Karesmén. Dengan aktivitas yang didominasi mahasiswa itu, Unpad dijadikan referensi berbagai kegiatan kesenian, termasuk jadi rujukan masyarakat dalam berkesenian.

Salah satu kesenian yang dikembangkan Depkes adalah ca­lung. Sebelumnya, calung di Tatar Sunda dikenal calung ren­teng ber­penyang­ga. Lalu mahasiswa Depkes Unpad mengubahnya menjadi ca­lung jinjing. Mereka juga me­nam­bah so­kong­an calung melodi dengan ca­lung panémpas, panerus, dan goong.

Namun, setelah itu regenerasi terputus. Awal 1970-an kegiatan Depkes Unpad mati suri. Upaya membangkitkan kembali muncul pada 1976. Meski masih berada di bawah Dewan Mahasiswa, Depkes membentuk struktur organisasi sendiri. Periode ini melahirkan karya monumental yakni Gending Karesmen ”Perjalanan Terakhir Syeh Siti Jenar”.

Pada 1977 menjadi masa sulit bagi dunia kemahasiswaan. Pemerintah membubarkan Dewan Mahasiswa. Kampus-kampus diserbu tentara. Kegiatan mahasiswa ikut tersandera. Dengan kondisi itu, kegiatan kesenian Sunda yang disokong lembaga pun ikut tiarap.

Meski begitu, masih ada kegiatan kecil di tingkat fakultas. Di tingkat Unpad, pelaku kesenian masih se­ring berkumpul sambil iseng ber­mu­sik di ruang sekretariat eks Departemen Kesenian. Pada era itu, tidak ada kegiatan kesenian Sunda di Unpad sesering kejayaannya. Jikapun ada, kelompok dibentuk dadakan. Jika Unpad memerlukan tim keseni­an, anggota aktif dari Depkes di­kum­­pulkan, termasuk saat mengirim perwakilan ke sebuah acara di Lampung, pada 1979.

Terbentuknya Lingkung Seni Sunda Unpad

Ganjar dan beberapa mahasiswa lain mencoba memompa kembali kegiatan kesenian di Unpad. Dibuatlah formulir pendaftaran dan poster agar viral. Saat itu, setiap poster harus mendapat stempel persetujuan dari Mahawarman sebagai izin sebar. Mereka terbantu oleh Rahman, seorang mahasiswa fakultas sastra anggota Mahawarman yang menyukai kesenian.

Ganjar Kurnia (bandung.bisnis.com).*

Pesan di dalam poster itu begitu mantap: Lingkungan Seni Unpad menerima anggota baru. Padahal organisasinya pun belum terbentuk. Hebatnya, ada 300 formulir peminat yang dikembalikan ke meja pendaftaran.

Mereka berkumpul pada 22 November 1981 di sebuah ruangan kampus. Sebagai pengusul Lises, Ganjar pun memipin rapat pertemuan pembentukan Lises Unpad. Mendiang Uus Garniwa yang saat itu mewakili fakultas ekonomi ditunjuk sebagai pemimpin pertama Lises Unpad hasil aklamasi, dengan dibantu wakilnya, Wawan Abas.

Dua hari kemudian, Ganjar dan Uus menghadap Pembantu Rektor 3 Bidang Kemahasiswaan Unpad untuk melaporkan 300 mahasiswa yang ingin mendirikan Lises. Ucapan mereka itu tak mendapat reaksi.

Muncul kesan pihak rektorat khawatir bahwa Lises adalah upaya ”pengumpulan massa” yang berpotensi dicurigai pemerintah. Sikap universitas terlihat saat pagelaran 20 Februari 1982 tidak dihadiri wakil rektorat, meskipun telah resmi diundang.

Meski begitu, ada kesan rektorat tertarik dengan pembentukan Lises, karena menjadi salah satu tanggung jawab Unpad. Ganjar menjelaskan, ia menggagas Lises bukan sekadar menjadi wadah mahasiswa dalam organisasi kesenian.

Jika di Bali ada banjar, di Jawa Tengah ada keraton, maka di Tatar Sunda universitas yang harus menjadi pusat budaya. Ganjar memaknai pusat budaya ini sebagai referensi masyarakat yang ingin mengembangkan kesenian dan kebudayaan. Semasa Depkes Unpad, peran itu sungguh terasa.

Lises juga harus mampu menjadi tempat kaderisasi penghasil pemimpin-pemimpin yang totalitas dan bertanggung jawab terhadap Sunda, setidaknya mendidik anak-anaknya dengan ajaran kasundaan. Selain itu, Lises juga dibentuk sebagai tempat konservasi dan mengembangkan kesenian Sunda, sesuai dengan Tridharma Perguruan Tinggi; diteliti, diajarkan di lingkungan Lises dan Unpad, untuk kemudian disebarkan ke tengah masyarakat. (M1, Sumber: “PR” Minggu, 01/12/2019)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: