METRUM
Jelajah Komunitas

Magical History Concert, Pestanya Beatlesmania

BANDUNG Beatles Community Indonesia menggelar acara ”Magical History Concert” yang ber­langsung Sabtu (8/12/2019) malam di Gedung Majestic. Acara yang dihadiri Beatlesmania dari luar kota dan luar pulau itu menyajikan pergelaran konser, pemberian award dan bazar. Acara digelar atas kerja sama ­dengan Pemerintah Kota Bandung, ­Pemerintah Provinsi Jawa Barat, serta Kementeri­an Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Acara dibuka sejumlah remaja muda mempertontonkan skill bermain bola basket sembari diiringi lagu-lagu ­The Beatles. Aksi pembuka itu membuktikan bahwa musik The Beatles bisa dilaku­kan dengan aktivitas apa pun dan mudah di­apresiasikan terhadap jenis kegiatan apapun.

Penampilan Yenny SM Paham dan Andi T-Five (Dok. Metrum).*

Magical History Concert diisi para musisi ternama. Mulai dari Jelly Tobing, The Beatlast, Yenny SM Paham, Andi T-Five, Bogor Beatles Society, Gankspoor, Dani Gaia, Daru and Friends, hingga Duy ’N The Big Fam.

Presiden Bandung Beatles Community Indonesia, Rachmanto ­Sudarjat, menuturkan bahwa para penampil merupakan pilihan yang me­miliki kecakapan luar biasa. Duy ’N The Big Fam misalnya, tampil dengan meng­eks­plo­rasi ”White Album”. Sebuah album yang jarang di­bawa­kan musisi penggemar Beatles karena lagu-lagunya tergolong sulit dan rumit.

Jelly Tobing pun ikut menjadi vokalis (Dok. Metrum).*

Selain konser, ”Magical History Concert” juga memberikan penghargaan kepada tokoh atau institusi yang erat kaitannya dengan pelestarian pengaruh The Beatles. Penerima penghargaan adalah dr Nancy Tobing dari Jakarta, dr Harry Iskan­dar dari Kalimantan Barat, dan dr Henry Parengkuan dari Manado. Di ruangan ketiga dokter itu tersimpan banyak hiasan dan memorabilia The Beatles.

Penghargaan lain diberikan bagi Pemimpin Redaksi Harian Umum Pikiran Rakyat, Noe Firman Rachmat, yang pertama kali memberitakan Bandung Beatles Community Indonesia. Media lain yang menerima penghargaan yakni Harian Kedaulatan Rakyat, ­Yogyakarta. Rachmanto menjelaskan, kedua ­media ini berperan untuk menyebarluaskan pengaruh The Beatles.

Aksi panggung Gankspoor dari Ciawi, Kab. Tasikmalaya (Dok. Metrum).*

Penghargaan lainnya ditujukan bagi jejaring Bandung Beatles Community Indonesia dari Belanda dan Jepang. Jangkauan jeja­ring Bandung Beatles Community Indonesia memang luas. ­Pengaruh ini yang terus disebarkan dengan berbagai misi dan ­kampanye positif.

”Kita pernah melakukan kegiatan disiplin berlalu lintas, menyeberang di zebra cross. Kesan ’Abbey Road’ The Beatles diangkat menjadi tema disiplin anak usia dini, bersama Dinas Perhubungan dan kepolisian,” katanya.

Menuju Ajang internasional 2021

Terbentuk sejak 2003, Bandung Beatles Community Indonesia telah mencapai usia 16 tahun. Saat ini, ada lebih dari 200 anggota aktif. Komunitas ini telah memperluas jejaring melalui beragam media. Didirikannya Bandung Beatles Community Indonesia sebagai wadah penyambung karya The Beatles lintas generasi.

Duy ’N The Big Fam meng­eks­plo­rasi ”White Album” The Beatles (Dok. Metrum).*

Bandung Beatles Community Indonesia juga pernah ikut mendorong G-Pluck hingga mencapai puncak Beatles Week Festival di Liverpool, Inggris, pada 2008. Festival resmi bentukan pemerintah kota Liverpool ini merupakan ajang tertinggi yang menjadi rebutan musisi pencinta The Beatles dari seluruh dunia.

”Yang bisa merepresentasikan Beatles dan Indonesia itu G-Pluck. Setelah G-Pluck belum ada lagi yang bisa ditawarkan ke ­festival itu. Komunitas kami juga berperan sebagai kurator untuk merekomendasikan band-band terbaik ke kompetisi internasio­nal,” ujar Rachmanto.

Acara ”Magical History Concert” di Gedung Majestic ini juga seka­ligus menjadi ajang pemanasan Bandung Beatles Community Indonesia sebelum menggelar ajang paling bergengsi ”Magical ­History Concert” tingkat Asia pada 2021 mendatang.

Bandung Beatles Community Indonesia ingin mengikuti jejak Beatles Week Festival. Nama International Magical History ­Concert diyakini membawa kesan The Beatles yang kuat dan bisa mewakilkan pengaruh The Beatles dari seluruh dunia.

Saat ini telah ada Argentina Beatles Week Festival yang menda­pat lisensi resmi dari Liverpool. Rachmanto juga akan mengajukan Indonesia sebagai penyelenggara resmi ajang yang sama. Untuk ­sementara, Magical History Concert akan fokus di Asia ­dengan mengundang band berkelas yang telah banyak muncul seperti dari Filipina dan Jepang.

Penampilan The Beatlast dan Jelly Tobing sebagai penggebuk drum (Dok. Metrum).*

Konsep International Magical History Concert yang akan dihelat di Bandung pada dasarnya sama ­dengan Beatles Week Festival. Manfaat besar dari acara ini yaitu mengenal­kan pariwisata. Pen­cinta Beatles dari seluruh dunia akan datang. Atraksi pariwisata, cenderamata, akan ditawarkan sebagai urusan ekonomi kreatif.

”Makanya kita kerja sama dengan kementerian. Hotel sudah ­dihubungi, juga venue-venue yang ada di Bandung, gedung bersejarah untuk atraksi heritage khas yang ada di Kota Bandung. Tahun 2021 nanti juga kami akan melibatkan Kedubes Inggris dan India karena kedua negara itu sangat mewakili The Beatles,” ­tuturnya.

Konser pada 2021 itu menampung semua band tribute The ­Beatles, baik yang berpengalaman maupun tidak. Kesempatan ini dinilai luar biasa bagi komunitas. Bahkan, anak SMA pun sudah bergabung dengan Bandung Beatles Community Indonesia dan ikut mengikuti perkembangan pengaruh The Beatles.

Rachmanto saat menyerahkan award kepada Pemred “PR” Noe Firman (Dok. Metrum).*

Rachmanto meyakini karya The Beatles akan abadi. Musik yang ditawarkan memang mudah dinikmati dan tidak rumit. Karya The Beatles juga banyak terkandung ragam genre, mulai dari rock, jazz, country, hingga ska, yang banyak menginspirasi band-band ternama kelas dunia.

”The Beatles lagunya banyak, penyampaiannya enak, dan tidak rumit. Banyak pesan positif dari lagu tentang lingkungan hidup, keh­idupan sehari-hari, mewakili perdamaian, hingga kondisi hati yang bisa mengena ke anak muda zaman manapun,” tuturnya. (M1, Sumber: “PR” Minggu, 9/12/2019)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: