Pangalengan Diguncang Gempa M3,3 Dini Hari, Getaran Terasa hingga Ciwidey dan Kertasari
KABUPATEN BANDUNG (METRUM) – Pangalengan dan sejumlah wilayah di Kabupaten Bandung kembali diguncang gempa bumi pada Jumat (21/8/2026) dini hari. Guncangan utama berkekuatan magnitudo 3,3 terjadi pukul 01.18 WIB dan berpusat di darat dengan kedalaman hanya 4 kilometer.
Berdasarkan data BMKG, gempa tersebut berpusat di koordinat 7,26 derajat Lintang Selatan dan 107,60 derajat Bujur Timur, sekitar 27 kilometer arah tenggara Kabupaten Bandung. Gempa dangkal itu dirasakan di Pangalengan, Ciwidey dan Kertasari dengan intensitas III-IV MMI, serta Pasirwangi dengan intensitas III MMI.
Guncangan tersebut bukan kejadian tunggal. Aktivitas seismik tercatat beberapa kali dalam rentang waktu berdekatan di kawasan yang sama.
Rangkaian diawali gempa bermagnitudo 1,5 pada pukul 00.44 WIB dengan kedalaman 2 kilometer. Setelah itu, gempa M3,2 tercatat pukul 01.18 WIB, disusul M1,8 pukul 01.23 WIB dan M1,6 pukul 01.35 WIB.
Getaran kembali tercatat pukul 01.45 WIB dengan magnitudo 1,5, kemudian M1,5 pada pukul 02.00 WIB dan M1,4 pada pukul 02.13 WIB.
Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika, Dr. Hartanto, mengatakan hasil analisis berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter menunjukkan aktivitas tersebut berkaitan dengan aktivitas sesar aktif.
Kondisi tersebut membuat wilayah Pangalengan kembali menjadi perhatian karena gempa terjadi di daratan dan tergolong dangkal. Meski magnitudonya relatif kecil, kedalaman yang rendah membuat guncangan lebih mudah dirasakan masyarakat di sekitar episenter.
Laporan masyarakat yang diterima BMKG menunjukkan guncangan dengan intensitas III-IV MMI dirasakan di Pangalengan, Ciwidey dan Kertasari. Pada skala tersebut, getaran dapat terasa nyata di dalam rumah dan pada intensitas IV dapat dirasakan oleh banyak orang yang berada di dalam rumah.
Sementara di Pasirwangi, guncangan tercatat pada intensitas III MMI, dengan getaran terasa nyata di dalam rumah dan sensasinya menyerupai kendaraan berat seperti truk yang melintas.
BMKG mengimbau masyarakat tidak panik dan tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi. Masyarakat diminta menjadikan kanal resmi BMKG sebagai rujukan utama untuk memperoleh perkembangan terbaru aktivitas gempa.
Rangkaian gempa di kawasan Pangalengan ini juga menunjukkan bahwa aktivitas seismik di wilayah selatan Kabupaten Bandung masih perlu dipantau. Sebelumnya, BMKG mencatat sejumlah gempa dangkal di kawasan sekitar Kabupaten Bandung, termasuk gempa M2,1 pada 18 Agustus 2026 yang berpusat sekitar 27 kilometer selatan Kabupaten Bandung dan dirasakan di Pangalengan.
Masyarakat yang merasakan guncangan dianjurkan tetap tenang, menjauhi bangunan yang mengalami kerusakan, serta mengikuti informasi resmi BMKG.
Untuk pembaruan, masyarakat dapat mengakses BMKG dan kanal resmi informasi gempa BMKG. (M1)***
Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.