METRUM
Jelajah Komunitas

Para Pejuang Taaruf Ini Berbagi Pengalaman dan Prosesnya

MINGGU 28 Oktober 2018 sore, Rahmat Ihsan mendatangi Sekretariat Bidang Dakwah Masjid Salman Institut ­Teknologi Bandung di Jalan Ganeca Bandung. Dia ­menyampaikan niatnya untuk mengikuti program taaruf.

Ihsan yang saat itu mengenakan baju koko hijau muda menerima formulir data diri sebagai syarat awal taaruf. Di formulir itu, dia akan membeberkan data diri sampai pasangan yang dia harapkan juga visi dan misi dalam pernikahan.

Mengisinya harus dengan tulisan tangan. Data diri Ihsan juga tulisan tangannya yang akan dianalisis secara grafologi akan menjadi bekal tim pendamping taaruf dalam mencarikan pasangan yang sesuai.

Ihsan adalah calon sarjana di Indonesia Banking School, Jakarta Selatan. Program taaruf yang diadakan Yayasan Masjid Salman ITB itu dia ketahui dari teman seperjalanannya di kereta.

Jauh-jauh datang dari Jakarta, Ihsan menaruh harapan besar untuk bisa segera menyempurnakan separuh agama.

“Sebelumnya sudah pernah dekat dengan perempuan, tapi tidak berlanjut karena ­dianya di Sumedang,” ujar dia. Kali ini, dia ingin bertaaruf saja. Alasannya untuk menghindari hal-hal yang dilarang agama, khususnya berzina.

Pengusaha kaus jersey bola ini berharap mendapat pendamping hidup yang solehah, setia, dan bisa mengatur keuangan. “Yang pasti juga nyari yang mau bareng saja, bisa diajak ke Jakarta,” kata dia.

Dipicu film religi

Ihsan bukanlah orang pertama yang ingin bertaaruf. Ketua Program Sekolah Sakinah, Taaruf, dan Sekolah Pra-nikah Yayasan Masjid Salman ITB, Kelana Aisyah, mengatakan saat ini ada 500-an pemohon taaruf yang diajukan sejak 2010. Tidak hanya dari Kota Bandung, peserta taaruf juga dari luar Pulau Jawa.

Sejak program dimulai pada 2007, sudah 300 peserta yang berhasil menikah. Kelana yang akrab disapa Nana mengatakan awal mula program ini dicetuskan, peminatnya hanya puluhan orang. Metode taaruf saat itu belum gencar.

“Nah 2010 itu mulai nanjak (jumlah peminatnya) tapi masih bisa kehandel. Mulai 2013 sudah ratusan,” ujar Nana yang juga Psikolog tersebut.

Tidak diketahui pasti alasan melesatnya jumlah peminat taaruf. Namun, Nana berpendapat hebohnya film religi turut berkontribusi. “Waktu itu ada film Ketika Cinta Bertasbih (2009),” kata perempuan asli Blitar, Jawa Timur, itu.

Belakangan, metode taaruf menjadi kian akrab setelah sejumlah pesohor menikah melalui metode itu. Sebut saja Oki Setiana Dewi yang tak lain aktris Ketika Cinta Bertasbih, Fedi Nuril, Ben Kasyafani, Alyssa Soebandono-Dude Herlino, sampai yang paling baru adalah mantan personel Cherrybelle, Anisa Rahma, yang menikah pada September 2018 ini.

Taaruf adalah metode pe­ngenalan calon pasangan hidup yang dianjurkan oleh Islam. Daripada metode pacaran yang selama ini lebih banyak ditempuh kawula muda, metode taaruf dinilai lebih “menguntungkan”.

“Saya termasuk yang meng­alami pacaran. Setelah mendampingi taaruf, saya pastikan bahwa pacaran itu rugi banget,” ujar Nana yang saat ini sudah punya tiga anak itu.

Pacaran akan membuat perasaan seseorang tercabik-cabik ketika putus cinta. Apalagi, jika mendapat orang yang salah dan berbuat dosa.

Nothing to lose

Sementara taaruf belum melibatkan perasaan. “Nothing to lose saja. Banyak yang mengarahkan, memberi nasihat apakah ini baik atau tidak dan lain-lain. Komunikasi calon pasangannya juga dibimbing dan diawasi jangan sampai salah langkah. Jadi, lebih menguntungkan,” kata dia.

Proses taaruf dimulai ketika lelaki dan perempuan sama-sama sepakat dengan calon yang disodorkan. Akan ada 3 pertemuan antar­keduanya didampingi tim taaruf Salman ITB.

Pertemuan pertama, menurut Nana, merupakan perkenalan antarpribadi. Segala hal yang layak diketahui, dibahas melalui tanya jawab. Pertemuan kedua membahas tentang keluarga masing-masing. Sementara pertemuan ketiga membicarakan visi pernikahan.

Selama proses tersebut, calon pasangan bisa berkomunikasi melalui ponsel tetapi melibatkan pendam­ping.

“Biasanya dibikin grup. Karena dari komunikasi juga bisa menimbulkan syahwat misal berujung sayang-­sayangan,” kata Nana.

Jika proses itu berjalan lancar, pendamping akan mendampingi si lelaki ketika berkunjung ke keluarga perempuan. Begitu juga ketika si perempuan berkunjung ke keluarga lelaki, pendamping akan tetap mendampingi.

“Bahagia sekali ketika berujung pernikahan. Tapi ada juga yang dalam prosesnya menghadapi kendala ­misalnya orangtua ternyata tidak setuju dengan calon atau ingin anaknya lulus dulu,” ujar Nana.

Proses pencarian pasangan memakan waktu yang berbeda bagi setiap peserta. Nana mengatakan ada yang 1,5 bulan taaruf lalu menikah, tetapi ada juga yang sampai 3 tahun. Lamanya proses itu biasanya karena mereka merasa tidak cocok ketika disodori beberapa kandidat. Selain kandidat dari peserta yang masuk, Nana dkk. juga biasanya mencari para jomblo ke sejumlah ustaz.

Menurut Nana, banyak cerita mengharukan bahkan cerita seru selama mendampingi ca­lon pasangan. “Ada yang min­tanya pokoknya saya cuma pengen punya teman honeymoon ke Maldives. Tanggal 11 November ini dia nikah dan beneran mau ke Maldives. Ada juga yang bilang ‘Mbak, pokoknya saya pengen nikah 2018, gimana caranya. Nah dia mau nikah nanti 16 Desember,” kata Nana.

Nana menganalisis, banyak peserta taaruf yang mapan secara mental maupun finansial. Tidak sedikit di antara mereka yang sudah menjadi pengusaha sukses pada usia muda bahkan mahasiswa. “Namun, mereka tidak paham cara mendekati lelaki atau perempuan,” tutur dia.

Ada juga yang bisa mendekati lawan jenisnya tetapi kesulitan menemukan sosok yang dicari. Taaruf dinilai menjadi “bursa” berbagai sosok dengan karakter beraneka ragam sehingga memperbesar peluang bertemu dengan calon pasangan hidup. Jadi, kapan taaruf? (Sumber: Pikiran Rakyat, 1/11/2018)***

komentar

Tinggalkan Balasan