DARURAT iklim merupakan “marabahaya bagi perdamaian” karena perubahan iklim memperburuk risiko-risiko konflik yang ada “dan menciptakan yang baru,” kata Miroslav Jenca, Asisten Sekjen PBB untuk Eropa, Asia Tengah dan Amerika pada Jumat (24/7/2020), dilansir dari VOA.
Jenca mengemukakan bahwa di seluruh dunia, negara yang rentan atau wilayah terdampak konflik lebih terbuka dan kurang mampu mengatasi dampak perubahan iklim.
Jenca berbicara pada sebuah pertemuan virtual yang diselenggarakan Jerman sebagai pemegang kursi kepresidenan Dewan Keamanan PBB untuk bulan Juli. Pejabat PBB ini menyoroti bahwa 7 dari 10 negara paling rentan dan tidak siap menghadapi perubahan iklim menjadi tuan rumah dalam operasi penjaga perdamaian atau misi politik khusus.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas menegaskan bahwa perjuangan melawan perubahan iklim seharusnya tidak memecah belah. “Kita berjuang untuk menyelamatkan diri kita sendiri,” ujar Maas. (M1-VOA/mg/pp)***
Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.