Pogacar Ungguli Jonas
PERSAINGAN menjadi juara lomba Criterium Dauphine ke-77/2025 pemanasan jelang Tour de France (TdF) 2025, berakhir dengan Tadej Pogacar (UAE Emirates XRG) juara TdF 3 kali menjadi juara dengan Jonas Vingegaard (Visma Lease a bike) menjadi “runner up” terpaut 59 detik dari Pogacar.
Pada Etape ke-8 (terakhir) rute tanjakan plateau Mont-Cenis 133 km, dimenangi Lenny Martinez (Bahrain Victorious/Prancis), kedua Jonas Vingegaard, (Visma) dan Tadej Pogacar (UAE) keduanya + 34 detik.
Bagi Pogacar adalah sukses pertama kali menjuarai Criterium Dauphine.
Selama lomba 8 etape (1.200 km) hanya Jonas yang bisa memberi perlawanan cukup ketat namun harus diakui Pogacar lebih superior dengan merebut 3 etape sedangkan Jonas harus puas 5 kali “runner up” etape.
Pada tiga etape tanjakan di pegunungan Alpen penentu juara Criterium Dauphine 2025, Pogacar 2 kali finis terdepan dan hanya pada Etape ke-8 terakhir finis ketiga karena posisinya sdah aman menjadi juara, tidak perlu memforsir diri lagi.
Menganalisa kekuatan dua atlet unggulan teratas pada TdF 2025, Pogacar vs Jonas. Pogacar unggul di etape etape tanjakan sedangkan Jonas di nomor ITT. Persaingan tentu akan ketat dan Jonas tentu berharap kemampuannya di tanjakan akan meningkat pada TdF nanti yang akan berlangsung tiga Minggu lagi.
Persoalan bagi Jonas menurut analisa juara 5 kali TdF Eddy Merckx adalah kurangnya jam terbang mengikuti lomba berbeda dengan Pogacar yang sangat aktif sejak musim semi mengikuti berbagai lomba klasik.
“Jonas hanya ikut Paris – Nice itupun terhenti karena cedera lengan akibat terjatuh…, penampilannya juga tidak impresif, ” ungkap Eddy Merckx.
Salah satu atlet tangguh lainnya tempo dulu yang juga pesaing Eddy Merckx di lomba klasik, Roger de Flamminck mengkritik tim Visma Lease a Bike yang tak meminta Jonas untuk lebih banyak mencoba ikut lomba klasik. “Buat apa digajih mahal setahun tapi hanya target ikut TdF,” ungkap Roger.
“Mengikuti lomba di musim semi adalah untuk menambah jam terbang agar berbagai taktik lomba bisa dicoba, tidak harus menang,” ungkap Eddy Merckx.
Bagi Jonas maupun Pogacar TdF yang tinggal 3 Minggu lagi bukanlah waktu yang lama untuk bisa meningkatkan kemampuan.
Pogacar jelas paling siap pada usianya yang baru 26 tahun tapi telah mencetaki 99 kemenangan adalah rekor bagi seorang atlet muda.
“Banyak hal positif yang dicapai dari lomba seminggu ini di Dauphine. Setelah tampil jelek di ITT bisa bangkit bagus di tanjakan. Kini saya akan istirahat jelang TdF sambil latihan extra untuk memperbaiki ITT, setelah itu saya siap untuk TdF, ” ujar Pogacar juara bertahan TdF.
Sementara Jonas Vingegaard mengatakan performanya di Dauphine cukup memuaskan, meski kalah dari Pogacar.
“Di tanjakan harus diakui saya belum maksimal sesuai target, Pogacar sangat kuat, tapi di ITT performa cukup bagus. Pada 3 Minggu ini kemampuan tidak mungkin bisa bnyak ditingkatkan namun taktik lomba harus jadi hal penting disamping kemampuan ITT harus bisa jadi kelebihan untuk menjaga persaingan,” jelas Jonas.
Tim Visma juga lebih lemah dari tim UAE Emirates sehingga Jonas kurang dukungan di tanjakan. “Untuk TdF harus ada perubahan tim Visma, bila tidak akan semakin berat,” jelas Eddy Merckx.
Pada TdF 2025, tim Visma harus menurunkan juara Giro 2025 Simon Yates dan juga Wout Van Awet agar bisa bersaing melawan tim UAE yang amat Solid mendung Pogacar pada Dauphine 2925.
Hasil klasemen Akhir Criterium Dauphine 2025:
1. Tadej Pogacar (UAE Emirates XRG/Slovenia) 29:19:46
2. Jonas Vingegaard (Visma Lease a Bike/Denmark) + 59 dtk.
3. Florian Lipowitz (Red Bull Bora/Jerman) + 2 menit 38 dtk.
4. Remco Evenepoel (Soudal Quick Step/Belgia) + 4. Menit 21 dtk.
5. Tobias Johannessen (Uno X Mobility/Norwegia) + 6 menit 12 dtk. (M1-BK)***
Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.