Saat Malam Tak Lagi Sunyi: Mengapa Tinnitus Pulsatile Terasa Lebih “Berisik” Saat Tidur?
Oleh Dewi Nada*
BAGI kebanyakan orang, malam hari adalah waktu yang paling dinantikan untuk melepas lelah dalam keheningan. Namun, bagi penderita Tinnitus Pulsatile, sunyi justru bisa menjadi panggung bagi simfoni yang riuh. Suara berirama yang mengikuti detak jantung ini seolah-olah mengetuk pintu pendengaran lebih keras saat bantal mulai disentuh.
Mengapa gangguan ini terasa jauh lebih mengganggu di saat dunia sedang tertidur lelap? Berikut adalah penjelasan terperincinya.
1. Hilangnya “Selimut Suara” (Auditory Masking)
Di siang hari, otak kita dikelilingi oleh berbagai suara latar (ambient noise)—mulai dari deru kendaraan, percakapan rekan kerja, hingga desis pendingin ruangan. Suara-suara ini berfungsi sebagai “masker” alami yang menyamarkan suara-suara internal tubuh.
Saat malam tiba dan suasana menjadi sunyi senyap, “selimut” suara ini hilang. Akibatnya, kontras antara kesunyian luar dan kebisingan dalam kepala menjadi sangat tajam, membuat detak di telinga terasa berkali-kali lipat lebih keras.
2. Pengaruh Posisi Tubuh dan Tekanan Vaskular
Posisi tidur sangat memengaruhi cara kita mendengar suara internal. Saat kita berbaring secara horizontal, dinamika aliran darah di pembuluh darah sekitar leher dan kepala mengalami perubahan tekanan.
Bagi mereka yang memiliki sensitivitas vaskular, posisi ini membuat aliran darah di dekat telinga tengah menjadi lebih mudah terdeteksi oleh saraf pendengaran. Inilah mengapa suara “dug-dug” atau “sring-sring” tersebut seolah mengikuti setiap denyut nadi dengan sangat presisi.
3. Lingkaran Setan Kecemasan dan Detak Jantung
Tinnitus pulsatile bukan hanya soal fisik, tapi juga tentang persepsi dan reaksi saraf. Saat kita sulit tidur karena suara tersebut, tubuh cenderung menjadi cemas atau frustrasi.
Kecemasan ini memicu pelepasan hormon adrenalin yang meningkatkan detak jantung. Karena suara yang didengar adalah pantulan dari aliran darah, maka semakin cepat jantung berdetak karena cemas, semakin cepat dan keras pula suara tinnitus yang terdengar. Ini adalah sebuah lingkaran yang melelahkan bagi penderitanya.
4. Kaitan dengan Ketegangan Otot dan Rahang
Menyambung pembahasan sebelumnya mengenai keterkaitan dengan sendi rahang (TMJ), ketegangan otot di area wajah dan leher saat malam hari juga memegang peranan penting.
Kebiasaan menggemeretakkan gigi saat tidur atau posisi rahang yang tidak rileks dapatmeningkatkan sensitivitas saraf di sekitar telinga, yang pada akhirnya memperburuk sensasi detak yang dirasakan.
Tips Praktis Menjemput Mimpi di Tengah “Kebisingan”:
Jika Anda sering terbangun atau sulit memejamkan mata karena kondisi ini, beberapa langkah sederhana ini bisa membantu:
● Gunakan Suara Latar (White Noise): Jangan memaksakan diri tidur dalam kesunyian total. Gunakan suara rintik hujan, kipas angin, atau instrumen relaksasi dengan volume rendah untuk mengalihkan fokus pendengaran.
● Elevasi Kepala: Cobalah menggunakan bantal tambahan untuk menjaga posisi kepala sedikit lebih tinggi. Hal ini dapat membantu mengurangi tekanan vaskular pada area leher.
● Latihan Pernapasan: Lakukan relaksasi otot dan pernapasan dalam sebelum tidur untuk menurunkan ritme jantung dan menenangkan sistem saraf pusat.
Penutup
Tinnitus Pulsatile memang menantang, namun memahami mekanismenya adalah langkah awal untuk tidak lagi merasa “terjebak” di tengah malam yang berisik. Jika gangguan ini terasa menetap hanya di satu telinga atau disertai pusing yang hebat, sangat disarankan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut ke spesialis terkait untuk memastikan kesehatan pembuluh darah Anda.
Selamat beristirahat, semoga malam Anda kali ini jauh lebih tenang.***
*Penulis adalah seorang Navigator Kesehatan – Navigating life with SJS, Autoimmune, TMJ, Tinnitus, & Stroke
Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.