METRUM
Jelajah Komunitas

“Sikasep Terlalu”, Gerakan Kampanye dan Edukasi Tertib Berlalu lintas Bagi Pesepeda

SIKASEP Terlalu adalah sebuah aksi kampanye dan edukasi yang dilakukan dari, oleh, dan untuk pesepeda. Aksi awalnya diinisiasi sekelompok pesepeda dari Marshall Cyclin Bandung yang melihat animo masyarakat begitu luar biasa untuk melakukan aktivitas bersepeda di masa adaptasi kebiasaan baru atau new normal usai pelonggaran pembatasan sosial.

Sayangnya animo tersebut tidak diimbangi dengan tingginya kesadaran masyarakat akan etika dan ketertiban berlalu lintas serta penerapan protokol kesehatan, sehingga dikhawatirkan akan berdampak pada persoalan kesemrawutan di jalan, meningkatnya kecelakaan dan memunculkan rantai penularan dan penyebaran baru covid-19 di kalangan pesepeda.

Aksi Sikasep Terlalu di Dago Simpang (Dok. Swasono FBI).*

Hal inilah yang memicu kepedulian sekelompok pesepeda untuk mengkampanyekan budaya tertib berlalu lintas dan kepatuhan protokol kesehatan serta keselamatan bagi para pesepeda secara spontan yang kemudian mendapat apresiasi dari Dinas Perhubungan Kota Bandung menjadi sebuah program bernama Silaturahmi dan Koordinasi Pesepeda Tertib Berlalu Lintas (Sikasep Terlalu).

“Aksi edukasi spontan yang dilakukan sekelompok kecil peseda tempo lalu, membuat kami tersentil karena terlambat merespon yang terjadi. Kami lah yang seharusnya lebih cepat tanggap. Untuk itu kami memandang perlu untuk mengapresiasi aksi edukasi spontanitas para pesepeda tersebut dan menjadikannya sebuah program yang berkelanjutan dan terkelola dengan baik,” ujar Sultoni, Kasi Bina Transportasi Dishub Kota Bandung dalam sambutannya di satu pertemuan bersama pegiat pesepeda.

Bersepeda tertib (Dok. Swasono FBI).*

Aktivitas kampanye dan edukasi Sikasep Terlalu sudah berjalan 3 kali. Kegiatannya dilaksanakan seminggu sekali setiap Minggu pagi mulai pukul 6.30 sampai dengan 9.00 WIB di beberapa titik persimpangan Jalan Ir H Juanda Dago, yaitu persimpangan Dago – Cikapayang, persimpangan Dago – Jalan Ganesha, Persimpangan Dago – Dayang Sumbi, dan persimpangan Dago – Dipatiukur/Siliwangi.

Para peserta kegiatan ini terdiri dari Forum Komunikasi Komunitas Pesepeda Se-Bandung Raya, dibantu pendampingan petugas dari Dinas Perhubungan, Kepolisian, dan komunitas yang bergerak dalam kampanye budaya disiplin berlalu lintas, yaitu Disiplin Sukajadi. Dalam pelaksanaannya, para peserta disebar di beberapa titik persimpangan jalan yang sudah ditetapkan.

Dari ATCS Dishub membantu dengan melakukan imbauan secara mobile mengitari Jalan Dago sepanjang Cikapayang hingga Simpang Dago dan kembali turun ke Cikapayang selama dua jam kegiatan. Imbaun juga dilakukan oleh operator ATCS melalui pantauan cctv di persimpangan Dago – Cikapayang.

Pengarahan dan sambutan dari Wakil Wali Kota Bandung, Yana Mulyana (Dok. Swasono FBI).*

Kegiatan di minggu ketiga, tepatnya pada Minggu 26 Juli 2020, sedikit istimewa karena dihadiri Wakil Wali Kota Bandung, Yana Mulyana. Beliau selain memberi arahan dan menyambut baik kegiatan Sikasep Terlalu juga ikut bersama-sama melakukan kampanye dan edukasi di persimpangan Dago – Cikapayang.

Selain media lokal, aksi ketiga tersebut juga diliput oleh beberapa media televisi swasta nasional. Kehadiran media tersebut sangat diharapkan agar pemberitaan positif tentang pesepeda makin meluas dengan harapan bisa meredam berita-berita miring pesepeda yang kerap melanggar dan menjadi viral saat ini.

Selain tim kampanye dan edukasi, Sikasep Terlalu juga membentuk tim penyurvei traffick acounting pesepeda, yaitu penghitungan jumlah pesepeda menurut jenis kelamin dan anak-anak yang masuk ke Jalan Ir H Juanda (Dago) dan jumlah pesepeda yang tidak patuh mengikuti aturan menggunakan helm dan masker.

Tim penyurvei Sikasep Terlalu (Dok.Robby ATCS).*

Survei dilakukan tiga orang, dilaksanakan di titik Jembatan Penyebrangan Orang (JPO) SMAN 1. Dihitung per 15 menit selama dua jam, dari pukul 07.00 sampai dengan 09.00 WIB dengan menggunakan alat traffick accounting.

Data Hasil Survei

Dari tiga kali hasil survei, pada satu titik jalur yang paling banyak dilalui pesepeda, yaitu Jalan Ir. H. Juanda (Dago), jumlah yang terhitung selama dua jam berkisar antara 5000 – 7000 pesepeda. Saat ini, diprediksi Kota Bandung dipenuhi 12 – 15 ribu pesepeda di setiap Minggu pagi.

Rekap hasil survei (Dok. Sikasep Terlalu).*

Pesepeda yang tersurvei bukan hanya penduduk Kota Bandung, tapi banyak juga pesepeda yang berdatangan dari Kabupaten Bandung, Kota Cimahi, dan Kabupaten Bandung Barat. Bahkan, sejumlah pesepeda tercatat datang wilayah yang sangat jauh, yang kebetulan sedang menikmati indahnya Kota Bandung dengan bersepeda. Jika penghitungan dilakukan di banyak titik jalur pesepeda yang ramai dilalui oleh pesepeda hasilnya dipastikan akan lebih detail dan signifikan.

“Survei ini diadakan guna melihat sejauh mana geliat masyarakat bersepeda di masa new normal ini dengan menghitung jumlah pesepeda yang ada sehingga menjadi data sebagai bahan acuan pihak-pihak terkait terutama dalam hal regulasi undang-undang lalu lintas dengan lebih memperhatikan kenyamanan pesepeda,” kata Ferlian Hady, Kasi Angkutan Jalan Raya dan anggota komunitas pesepeda Jajaran Dishub Kayuh Sepeda (Jadikasep).

Tim Sikasep Terlalu (Dok. Djoko CLB).*

Penghitungan jumlah pesepeda yang melanggar penerapan protokol kesehatan dan keselamatan baru bisa dilakukan di minggu ke-3, yaitu menghitung pesepeda yang tidak menggunakan masker dan helm. Hasilnya memang cukup besar, akan tetapi yang menerapkan kepatuhan ternyata  jauh lebih besar dan menggembirakan.

Semoga trend bersepeda ini tidak hanya sesaat, akan tetapi bisa terus meningkat menjadi budaya bersepeda yang baik. Tetap bijak, santun, dan tertib saat bersepeda, ke mana saja dan di mana saja. Tetap sehat, semangat, dan waspada. Salam boseh dan go green! (Cuham, Bersepeda Itu Baik)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: