METRUM
Jelajah Komunitas

Sisi Menderita Atlet E-Sport

KEMAJUAN zaman dan berkembangnya teknologi membuat industri game melebarkan sayapnya, yang dahulu game identik dengan anak kecil, kini bisa menjadi sebuah profesi. Menjadi atlet e-sport merupakan cita-cita banyak orang, siapa yang tak mau, dibayar untuk bermain game, padahal main game merupakan hobi dari kebanyan orang.

Mungkin banyak yang mengira bahwa esport tidak akan menghasilkan uang yang banyak, tetapi jangan salah, pada tahun 2019, di ajang The International 2019: Dota 2 Championships, total hadiah yang ditawarkan mencapai $34,330,069 dollar AS.

Atlet esport Indonesia, Hansel Ferdinand di umur 25 dia menjadi atlet e-sport terkaya dengan penghasilan 2,3 miliar dan ada juga Made “Luxxy” Bagus Prabaswara (16 tahun), sudah memiliki aset kekayaan mencapai 1 miliar lebih.

Menjadi atlet e-sport terdengar menyenangkan, tetapi semua tidak semudah itu, banyaknya tuntutan dari dari berbagai pihak untuk bisa bersaing secara kompetitif, para atlet diharuskan berlatih 8-10 jam, bahkan ada yang lebih dari itu, hal ini menyebabkan banyak atlet yang pensiun karena masalah kesehatan mental.

Prof. Dr. Ingo Froboese (Foto: ingo-froboese.de).*

Atlet e-sport sama halnya dengan menjadi atlet di bidang olahraga lain, Dr Ingo Froböse merupakan seorang dokter yang meniliti mengenai e-sport mengatakan bahwa dalam tubuh atlet e-sport mengeluarkan 400 gerakan per menit, hal ini sama dengan olahraga yang lainya, bahkan melibihi olahraga tenis.

Pada tanggal 3 Juni 2020, melalui unggahan Twitter-nya @UziRNG pemain League of Legend profesional asal China, “Uzi” Zihao memutuskan untuk pensiun, ia dinyatakan cedera pergelangan tangan, pada sesi interview dengan Nike ia mengatakan “Suatu kali saya pergi ke rumah sakit untuk pemeriksaan dan dokter berkata bahwa umur lenganku sama dengan lengan orang berusia 40 tahun”

BACA JUGA:  Kemajuan Teknologi Digital Sepanjang Tahun 2021

Banyak atlet yang sampai mengalami gangguan kesehatan mental yang berat, contohnya seperti yang dialami oleh Dan Harrison, pada usia 19, ia didiagnosa penyakit borderline personality disorder, yaitu keadaan dimana mood seseorang dapat berubah secara drastis bahkan bisa sampai berpikir untuk bunuh diri.

Dari semua cerita itu, kita jadi berpikir bahwa untuk menjadi atlet e-sport itu sangat sulit, perlu persiapan dan menjaga fisik dan mental dengan benar. (Mohamad Alfin Ramadian/JT)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.