METRUM
Jelajah Komunitas

Situs Kuno Ditemukan di Lokasi Pembangunan Tol Malang-Pandaan

PEMBANGUNAN tol Pandaan-Malang terus mengalami peningkatan, namun nampaknya pembangunan seksi 5 atau ruas tol Pakis-Malang akan mengalami keterlambatan. Pasalnya PT Jasamarga Pandaan Malang (JPM) berencana akan menggeser trase tol Seksi 5 di proyek jalan tol Pandaan-Malang dikarenakan adanya temuan struktur arkeologi situs Sekaran yang dilintasi proyek tol tersebut.

Temuan situs kuno berupa struktur bangunan yang diduga peninggalan era kerajaan Singosari pada lokasi proyek Tol Malang-Pandaan seksi 5 KM 37, di Dusun Sekaran, Desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang ini sempat menggegerkan warga setempat maupun pihak operator pengerjaan proyek tol. Sekaligus menghentikan sementara pengerjaan jalan tol di seksi 5 ini.

Seperti dilansir okezone.com, Selasa (26/3/2019), Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB), Andi Muhammad Said menyebutkan bahwa berdasarkan kajian timnya, memastikan bentuk bangunan tersebut dahulu digunakan sebagai tempat pemujaan. Tempat pemujaan di masa kerajaan Singosari yang berorientasi ke Gunung Semeru.

Okezone.com

Area sebaran struktur bangunan kuno yang terbuat dari batu bata merah ini memang cukup luas. Terdapat beberapa titik lokasi batu bata dengan 4-5 lapis bata, dimana antara titik satu dengan titik lainnya terdapat seperti rongga yang diduga identik dengan pelataran atau halaman.

Menurutnya, hal yang menguatkan bangunan itu merupakan tinggalan Kerajaan Singosari yakni adanya koin-koin asal China yang digunakan pada Dinasti Song sekira abad 10 M. Pasalnya koin-koin Song dari Dinasti China abad 10 dan keramik jadi  indikator utamanya artinya ini bangunan pra Majapahit karena tidak ditemukan peninggalan yang usianya lebih muda.

Okezone.com

Beberapa hari lalu, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan Jawa Timur juga telah melakukan ekskavasi atau penggalian dengan luas 24 x 24 meter ke arah barat daya dari temuan struktur batu bata pertama kali di sisi timur laut.

Ketua Tim Ekskavasi Situs Sekaran Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB), Wicaksono Dwi Nugroho, menyebutkan bahwa dari kajian di lapangan bangunan ini diidentikkan sebagai bangunan suci atau berupa tempat ibadah. Namun ini bisa bangunan suci bisa juga kompleks permukaan yang besar.

Dikarenakan harus dikupas lebih jauh apakah temuan ini kompleks hunian lebih besar yang membentuk puri atau keraton atau hanya sebatas pemukiman kecil yang bersifat lebih ke pribadi atau kompleks bangunan dimana ada bangunan suci.

Sementara itu, di sisi timur laut atau tempat temuan situs pertama, terdapat tundakan batu bata seperti struktur bangunan gapura yang biasa disebut pintu paduraksa. Jika melihat dari arah bangunan yang menghadap barat laut, dan jika ditarik garis lurus maka mengarah tepat ke Gunung Semeru, dimana masyarakat dulu meyakini Gunung Semeru sebagai tempat bersemayam para dewa. Gunung Semeru sudah jadi tempat pemujaan sejak zaman Kediri.

Temuan ini berawal saat struktur susunan bata tersingkap ketika alat berat proyek pembangunan tol Malang-Pandaan seksi 5 tengah mengeruk tanah di area Sekaran. Atas temuan tersebut BPCB telah melakukan ekskavasi situs secara resmi dari tanggal 12 sampai 21 Maret. Diduga, situs Sekaran adalah bangunan suci pra-Majapahit yang menghadap ke Gunung Semeru. 

Arkeolog BPCB Jawa Timur menunjukkan arung dibawah ruas tol Pandaan-Malang/Foto: Muhammad Aminudin

Sebelumnya, seperti dilansir detik.com, Minggu (17/3/2019), di tengah penggalian situs bangunan kuno ini juga para arkeolog menemukan saluran di radius 50 meter arah timur. Saluran berada tepat di bawah ruas tol. Menurut Wicaksono diameter arung tak begitu besar, diduga karena ada aktivitas di atasnya.

Arung yang biasa ditemukan memiliki diameter kurang lebih 1,5 meter. Selama ini arung beberapa kali ditemukan oleh ahli sejarah dan arkeolog di berbagai situs kuno yang diduga berfungsi sebagai drainase atau lorong bawah untuk para raja melarikan diri. Pasalnya konsep arung sendiri sebenarnya sudah lama, bukan saja situs Sekaran saja, tetapi ditemukan juga di Jombang, Kediri bahkan di keraton Yogyakarta. (Vey si Sendal Jepit)***  

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: