METRUM
Jelajah Komunitas

Wali Kota Bandung: Edukasi Pilah Sampah Harus Dimulai dari Anak-Anak

KOTA BANDUNG (METRUM) – Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengajak masyarakat untuk mulai menanamkan kesadaran pengelolaan sampah kepada anak-anak sejak usia dini. Menurutnya, kebiasaan memilah sampah perlu diperkenalkan sejak kecil agar generasi muda tumbuh dengan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan.

Ia menilai pendidikan tentang pengelolaan sampah di rumah maupun di lingkungan sekolah sangat penting untuk membentuk perilaku yang bertanggung jawab terhadap lingkungan. Dengan membiasakan anak-anak memilah sampah organik dan anorganik sejak dini, diharapkan tercipta budaya hidup bersih yang berkelanjutan di masyarakat.

Farhan mengajak masyarakat untuk mulai menanamkan kebiasaan memilah sampah kepada anak-anak sejak usia dini. Hal tersebut ia sampaikan saat menghadiri kegiatan Ramadan 1447 Hijriah bertajuk “Bahagiakan 1000 Anak Yatim” yang digelar oleh Yayasan Darul Hikam di Hotel Ultima Horison Bandung, Senin, 9 Maret 2026.

Dalam kesempatan itu, Farhan menekankan pentingnya edukasi pemilahan sampah organik dan non-organik kepada anak-anak sebagai langkah awal untuk mengatasi persoalan sampah di Bandung. Ia menyebut, kota tersebut saat ini menghadapi tantangan meningkatnya volume sampah organik, terutama dari sisa makanan atau food waste.

Menurut Farhan, salah satu penyumbang sisa makanan berasal dari pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis yang digagas oleh Prabowo Subianto. Program tersebut telah berjalan di sejumlah sekolah dan menghasilkan sisa makanan dalam jumlah yang cukup besar.

Ia menjelaskan, saat ini terdapat sekitar 222 dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang setiap hari melayani ribuan pelajar di Kota Bandung. Dalam praktiknya, masih ditemukan banyak makanan yang tersisa setelah kegiatan makan bersama di sekolah.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemerintah Kota Bandung tengah merancang sistem pengolahan sampah makanan yang dapat dilakukan langsung di lingkungan sekolah. Ke depan, sisa makanan diharapkan tidak lagi dikembalikan ke dapur atau SPPG, tetapi dipilah dan diolah di sekolah masing-masing.

BACA JUGA:  Perubahan Pola Pikir Jadi Kunci Bandung Keluar dari Krisis Sampah

Jika sekolah belum memiliki fasilitas pengolahan sampah organik, pemerintah kewilayahan melalui kelurahan akan membantu menangani pengelolaan sampah tersebut di tingkat wilayah.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya besar Pemerintah Kota Bandung untuk menekan pembuangan sampah organik ke tempat pembuangan akhir (TPA). Farhan menargetkan agar sampah organik dapat diselesaikan di wilayah masing-masing, termasuk di lingkungan sekolah.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah sangat bergantung pada kebiasaan memilah sejak awal. Tanpa proses edukasi pemilahan yang baik, teknologi pengolahan sampah di tahap akhir tidak akan berjalan optimal. Farhan mencontohkan negara seperti Jepang dan Denmark yang berhasil mengelola sampah karena masyarakatnya telah terbiasa memilah sampah sejak lama.

Dalam kesempatan tersebut, Farhan juga mengajak masyarakat untuk menunjukkan kepedulian kepada anak yatim tidak hanya melalui bantuan materi, tetapi juga lewat pendidikan dan pemberdayaan.

Ia menilai ilmu pengetahuan dan keterampilan merupakan bekal penting bagi masa depan anak-anak agar mampu tumbuh menjadi pribadi yang mandiri. Farhan pun menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Darul Hikam atas konsistensinya menggelar kegiatan sosial yang memberikan perhatian kepada anak-anak yatim.

Di akhir sambutannya, Farhan berharap anak-anak yang hadir dapat mendoakan keselamatan dan kesejahteraan Kota Bandung. (M1)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.