Metode Erosi Tantang Sejarah: Piramida Giza Disebut Jauh Lebih Tua
SELAMA ini, Great Pyramid of Giza diyakini dibangun sekitar 2575 SM sebagai makam Firaun Khufu. Namun, sebuah penelitian terbaru mengklaim monumen ikonik tersebut mungkin jauh lebih tua—bahkan hingga 20.000 tahun lebih awal dari perkiraan para ahli.
Alberto Donini, insinyur dari Universitas Bologna, memperkenalkan metode penanggalan baru yang ia sebut Relative Erosion Method (REM) atau Metode Erosi Relatif. Dengan pendekatan ini, ia membandingkan tingkat erosi pada batu-batu piramida untuk memperkirakan usia sebenarnya. Hasil awal penelitiannya menunjukkan kemungkinan bahwa piramida tersebut telah berdiri sejak sekitar 23.000 SM, atau hampir 25.000 tahun lalu.
Teori yang Selama Ini Diterima
Secara umum, para arkeolog sepakat bahwa Piramida Agung dibangun pada masa pemerintahan Khufu, yang memerintah Mesir sekitar 2589–2566 SM. Catatan sejarah, termasuk tulisan Herodotus, menyebut Khufu memerintahkan pembangunan piramida sebagai makamnya.
Bukti arkeologis juga mendukung teori tersebut. Pada abad ke-19, ditemukan grafiti di dalam piramida yang menyebut nama Khufu, diduga ditulis oleh para pekerja. Selain itu, uji radiokarbon terhadap mortar—yang mengandung bahan organik dari abu—menunjukkan rentang waktu sekitar 2620–2484 SM, selaras dengan masa pemerintahan sang firaun.
Metode Erosi yang Diperdebatkan
Donini berpendapat bahwa pendekatan baru dapat mengubah pemahaman tersebut. REM bekerja dengan membandingkan dua jenis erosi pada batu yang sama di lokasi yang sama: satu yang tanggalnya diketahui dan satu lagi yang belum ditentukan. Rasio keduanya kemudian digunakan untuk memperkirakan usia batu tersebut.
Saat pertama dibangun, piramida dilapisi batu kapur putih halus yang mengilap. Namun gempa besar pada 1303 M menyebabkan sebagian besar lapisan itu runtuh dan kemudian dimanfaatkan kembali untuk membangun bangunan di Kairo. Sejak abad ke-15, sebagian besar lapisan luar tersebut telah hilang, menyisakan blok batu yang lebih lama terpapar cuaca.
Donini membandingkan blok batu di bagian dasar yang selalu terbuka dengan bagian yang sebelumnya terlindungi lapisan kapur. Ia mempertimbangkan berbagai faktor penyebab erosi, seperti air hujan, angin gurun, perubahan suhu, hujan asam, hingga aktivitas manusia.
Meski demikian, ia juga mengakui adanya variabel yang bisa memengaruhi hasil, seperti meningkatnya kunjungan wisata modern dan perubahan iklim dari masa ke masa. Setelah menganalisis 12 titik berbeda, ia menyimpulkan bahwa usia paling awal Piramida Khufu bisa mencapai 25.000 tahun.
Jika metode ini terbukti akurat, maka berarti telah ada peradaban maju di Mesir sekitar 20.000 SM—jauh sebelum garis waktu sejarah yang selama ini diterima.
Kontroversi dan Skeptisisme
Temuan ini memicu perdebatan di kalangan arkeolog. Banyak ahli menilai tingkat erosi sulit dijadikan dasar penanggalan linear karena sangat dipengaruhi kondisi lingkungan yang berubah-ubah. Selain itu, penelitian tersebut belum melalui proses peer review ilmiah.
Meski masih kontroversial, studi ini membuka diskusi baru tentang usia sebenarnya salah satu keajaiban dunia kuno tersebut—dan berpotensi menulis ulang sejarah peradaban Mesir kuno jika terbukti valid. (M1-Sumber: allthatsinteresting.com)***
Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.