METRUM
Jelajah Komunitas

Aplikasi Suara Aisyiyah: Kiprah 94 Tahun Mewartakan Gerakan Perempuan

TAHUN ini majalah Suara Aisyiyah berusia 94 tahun jika dihitung dalam kalender Masehi, atau 97 tahun menurut kalender Islam. Dituntut oleh kemajuan jaman, majalah ini meluncurkan aplikasi pemberitaan yang dapat diunduh melalui telepon genggam.

Upaya ini menjadi bagian dari cara bertahan di tengah rontoknya media cetak dan cita-cita terus mendampingi perempuan Muhammadiyah dalam berkiprah.

Dr Adib Sofia, Pemimpin Redaksi Suara Aisyiah. (Foto: Dr Adib Sofia/pribadi)
Dr Adib Sofia, Pemimpin Redaksi Suara Aisyiah (Foto: Dr Adib Sofia/pribadi).*

Dalam diskusi webinar, pemimpin Redaksi Suara Aisyiyah, Adib Sofia menyebut, kiprah majalah ini sejak 1926 itu adalah bentuk jihad literasi, khususnya bagi perempuan.

“Sejak jaman dulu, jihad literasi menjadi spirit utama bagi eksistensi Suara Aisyiyah. Jihad literasi sebagai gerakan perjuangan Aisyiyah agar masyarakat dapat membaca dan memahami pengetahuan dan ilmu dengan benar,” ujarnya, dilansir dari VOA.

Buta Huruf Hingga Post Truth

Suara Aisyiyah adalah majalah yang diterbitkan Aisyiyah, organisasi perempuan Muhammadiyah. Edisi cetak tertua yang tersimpan sampai saat ini adalah terbitan Bulan Rajab 1345 atau 19 Januari 1927. Pada edisi itu, disebutkan bahwa Suara Aisyiyah telah terbit sejak 1926.

Cover majalah Suara Aisyiyah pada 1932. (Foto: Redaksi Suara Aisyiyah)
Cover majalah Suara Aisyiyah pada 1932 (Foto: Redaksi Suara Aisyiyah).*

Hampir seratus tahun menemani perempuan dengan segala isunya, Suara Aisyiyah selalu membawa isu besar yang berbeda dalam dekade yang dilewati. Adib Sofia mencatat, pada edisi-edisi awal hingga era 1940-an, majalah ini banyak mengangkat upaya pemberantasan buta aksara. Aisyiyah memberikan perhatian besar pada isu kemampuan perempuan agar bisa menulis dan membaca.

Dekade selanjutnya, hingga era 1950-an, Suara Aisyiyah memuat banyak isu terkait upaya melek diri. Majalah ini mendorong perempuan agar mengenal jati dirinya, berupaya keras memberantas kebodohan, menyebarkan pengetahuan sekaligus mendorong pemahaman akan kesetaraan dengan laki-laki.

Pada dekade 1960-an, Suara Aisyiyah mengajak perempuan melek masalah. Gerakan yang diprioritaskan adalah ajakan pada perempuan agar peduli terhadap masalah yang ada di sekitarnya. Suara Aisyiyah mendorong perempuan keluar rumah dan terlibat dalam berbagai persoalan sosial yang terjadi.

“Akhir-akhir ini merupakan melek jaman, artinya sudah berganti menjadi pertarungan pemikiran, perdebatan. Kita masuk pada hiperrealitas, persoalan post truth, manusia lebih percaya apa yang diyakini bukan fakta yang ada. Suara Aisyiyah harus ikuti perkembangan zaman itu. Dunia sudah berubah, maka kita harus berubah,” tutur Adib.

Untuk menjawab tantangan zaman, Suara Aisyiyah telah merambah daring. Mulai Sabtu (11/7/2020), upaya itu diperluas dengan penyediaan aplikasi melalui Playstore. Adib Sofia menyebut, langkah ini ditempuh untuk menjawab aspirasi pembaca yang ingin memperoleh bacaan lebih cepat dan mudah. Dengan pertimbangan sebagian pembaca perempuan yang tetap lebih nyaman dengan edisi cetak, maka penerbitan bulanan tetap dilakukan.

Mewarnai Dakwah Digital

Meski terlambat, ekspansi Suara Aisyiyah dalam format digital ini diapresiasi Direktur Pemberitaan Medcom.id, Abdul Kohar. Apresiasi itu dia sampaikan dalam diskusi daring “Arah dan Tantangan Media Dakwah di Era Digital,” pada Sabtu (11/7) yang diselenggarakan penerbit majalah tersebut.

Direktur Pemberitaan Medcom.id Abdul Kohar. (Foto: screengrab)
Direktur Pemberitaan Medcom.id Abdul Kohar (Foto: screengrab).*

Abdul Kohar mengatakan, banyak alasan dakwah di dunia daring harus dilakukan. Meski begitu, lanjutnya, penerbitan edisi cetak majalah Suara Aisyiyah sebaiknya tetap dipertahankan. Meski pembacanya berkurang, sejauh ini, format cetak adalah penjaga kredibilitas sebuah penerbitan.

“Jadi catatan bagi produk-produk cetak, apakah dia majalah atau koran, itu kemenangannya adalah pertarungan kredibilitas. Mengapa seperti itu terjadi, karena orang-orang koran itu memang dididik, terbiasa untuk bekerja dalam spirit intelektualitas, belajar, mendalami,” kata Abdul Kohar.

Mengutip data Lembaga Survei Indonesia, Kohar menyebut pada 2014 sebanyak 60 persen publik mengakses informasi sehari-hari dari televisi, 8 persen dari media cetak dan 7 persen dari media digital. Namun, pada 2018 angka akses informasi melalui televisi turun menjadi 42 persen, media cetak turun ke 3 persen, sedangkan media digital naik 3 kali lipat menjadi 21 persen.

Data juga mencatat 79 persen milenial menonton televisi melalui internet dan 98 persen milenial serta Generasi Z mengakses internet. Angka itu menunjukkan bahwa media daring adalah sumber informasi utama bagi anak muda saat ini. Karena itu, mau tidak mau media yang ingin bertahan harus merambah ke format daring.

Cover majalah Suara Aisyiyah tahun 1930-an, 1970-an dan 1980-an. (Foto: Redaksi Suara Aisyiyah)
Cover majalah Suara Aisyiyah tahun 1930-an, 1970-an dan 1980-an (Foto: Redaksi Suara Aisyiyah).*

Dari sisi materi, masuknya Suara Aisyiyah secara agresif ke daring juga perlu untuk mengimbangi kecenderungan konten buruk internet. Masyarakat cenderung berbagi informasi keagamaan yang justru sumbernya tidak jelas. Di era post truth seperti saat ini, kata Kohar, fakta dikalahkan oleh emosi. Karena itulah, penyedia konten keagamaan seperti Suara Aisyiyah harus kreatif dan mampu mewarnai wacana daring.

“Informasi sangat meluber, jadi kita tidak tahu ini formasi yang benar yang mana. Semua seolah-olah seperti benar pada waktu yang bersamaan, padahal tidak semua informasi sesuai dengan fakta. Informasi-informasi bohong itu, kalau terus dipaparkan maka secara psikologis akan dianggap sebagai kebenaran,” ujar Kohar.

Mencatat Dinamika Gerakan Perempuan

Dalam sejarah media di Indonesia, Suara Aisyiyah termasuk salah satu pelopor media bagi perempuan. Sebelumnya, telah terbit Poetri Hindia yang hadir pada 1908 dari perjuangan aktivis pers ketika itu, Tirto Adhi Soerjo.

Ketua Pimpinan Pusat Aisyiyah, Noordjannah Djohantini menilai media adalah faktor penting bagi organisasi perempuan itu. Sejak awal didirikan, tokoh-tokoh perempuan di Muhammadiyah telah meyakini pentingnya sebuah media, yang menjadi wahana mereka menggelar wacana dunia perempuan.

Ketua Pimpinan Pusat Aisyiyah Noordjannah Djohantini. (Foto: Screengrab)
Ketua Pimpinan Pusat Aisyiyah Noordjannah Djohantini (Foto: Screengrab).*

“Melalui Suara Aisyiyah, itu akan menampakkan dinamika gerakan perempuan Indonesia yaitu Aisyiyah, yang menjadi salah satu tonggak pergerakan perempuan di Indonesia,” kata Noordjannah.

Aisyiyah menjadi salah satu inisiator Kongres Perempuan Indonesia pertama pada 1928 di Yogyakarta. Suara Aisyiyah yang sudah masuk tahun ketiga ketika itu aktif menulis dialog-dialog serta perjuangan perempuan Indonesia di seputar kongres tersebut.

“Isu zaman itu, sampai sekarang bahkan masih berlanjut. Ini menjadi keprihatinan kita, karena artinya dakwah kita belum selesai, terkait ikhtiar untuk menguatkan perempuan, perlindungan hak-hak perempuan, anak dan keluarga,” tambah Noordjannah.

Noordjannah juga berharap, penyediaan layanan digital ini mendekatkan Suara Aisyiyah kepada generasi milenial, sehingga isu-isu gerakan perempuan juga akrab bagi mereka. (M1-VOA/ns/em)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: