METRUM
Jelajah Komunitas

Ustad Indonesia di AS Angkat Teori Penyebaran Islam di Amerika

MUSLIM di Amerika sangat kritis dan Islam bukanlah tamu di Amerika. Hal itu mengemuka dalam diskusi virtual mengenai Islam di Negeri Paman Sam yang diadakan pada 4 Juli ketika AS berulang tahun ke-244. Dua pembicara dengan pengalaman berbeda tentang Amerika, memaparkan penilaian masing-masing.

Ketika negeri Paman Sam berulang tahun, 4 Juli, Program Pembibitan Penghapal Al Quran (PPPA) ingin mencari tahu bagaimana Islam di sana. Lembaga dakwah di Indonesia itu mengundang dua pembicara: Hilman Fauzi dan Shamsi Ali, dalam diskusi virtual akhir pekan lalu, dilansir dari VOA.

Sering disebut ustadz muda, Fauzi kerap menjadi penceramah dan pembawa acara keislaman di televisi. Ia mulai tinggal di Amerika tahun 2006, sebagai pelajar. Sepuluh tahun kemudian, ia kembali untuk bersafari dakwah, berturut-turut tahun 2016 dan 2017. Ia mengatakan, pengalaman belajar dan berdakwah di Amerika membekalinya percaya diri untuk menghadapi tantangan apapun dalam berdakwah.

Muslim mulai menetap di Amerika pada 1600-an. Mereka meninggalkan jejak mereka pada sejarah AS. (Foto: Saqib Ul Islam / VOA)
Muslim mulai menetap di Amerika pada 1600-an. Mereka meninggalkan jejak mereka pada sejarah AS (Foto: Saqib Ul Islam / VOA).*

Di Amerika, Fauzi berdakwah untuk orang Indonesia. Hanya sedikit orang Amerika hadir, dan kebanyakan adalah pasangan diaspora Indonesia.

“Jadi, tidak langsung bisa berdialog secara keagamaan dengan orang-orang yang berbeda keyakinan,” kata Hilman Fauzi.

Da'i muda, Hilman Fauzi (foto: courtesy).
Da’i muda, Hilman Fauzi (foto: courtesy).*

Dari pengalamannya, Fauzi mencatat tiga karakter orang Amerika. Pertama, sangat kritis. Sikap ini sempat menghentak Fauzi. Pada sisi lain, ia mendapati, orang Amerika mudah menerima argumentasi kalau mereka bisa memahami apa yang kita sampaikan.

“Dari situ saya melihat bahwa berangkat pertanyaannya bukan dari apa, tetapi, kenapa? Jadi, sangat fundamental,” kata Hilman Fauzi.

Karakteristik kedua, kata Fauzi, orang Amerika tidak mempertanyakan legalitas yang cenderung menghakimi orang lain, melainkan berdiskusi, mempertanyakan “bagaimana,” sehingga kita melihat isu dari berbagai ‘kacamata’. Menurut Fauzi, ini menyadarkan kita untuk tidak memaksakan satu penilaian kepada orang lain.

Menjalankan ibadah di bulan suci di masa pandemi. (Foto: VOA)
Menjalankan ibadah di bulan suci di masa pandemi. (Foto: VOA).*

Karakteristik ketiga, kata Fauzi, menjunjung toleransi.

Sebelum berangkat ke Amerika, Fauzi mengaku dibayangi hal tidak menyenangkan akan sikap orang terhadap Muslim. Setelah beberapa kali ke Amerika, ia mendapati, orang Amerika sangat terbuka. Ia ingat di Washington, Philadelphia, dan Phoenix, ia melihat banyak gereja yang dibuka untuk sholat Jumat. Ia mengaku rindu melihat toleransi seperti itu.

Wujud toleransi lain di Amerika, Fauzi menunjuk pesatnya pertumbuhan masjid. Bahkan kini ada pesantren pertama di Amerika, Nusantara Foundation, yang didirikan Shamsi Ali.

Pembicara dua dalam diskusi itu, Shamsi Ali, tercatat sebagai direktur Jamaica Muslim Center di New York. Tetapi, penulis buku tentang kerjasama antar agama itu lebih dikenal sebagai tokoh Muslim.

“Banyak persepsi yang mengatakan bahwa Islam itu baru di Amerika. Itu bagian dari upaya untuk melemahkan!” kata Shamsi Ali.

Shamsi Ali, Tokoh Muslim AS asal Indonesia (foto: Ahadian/VOA)
Shamsi Ali, Tokoh Muslim AS asal Indonesia (foto: Ahadian/VOA).*

Islam, kata Shamsi Ali, dicitrakan sebagai pendatang supaya Muslim tidak merasa memiliki negara ini. Padahal, Islam sudah hadir di bumi Amerika jauh sebelum kedatangan Columbus. Ia menunjuk catatan sejarah dalam bahasa Arab di gunung-gunung di Denver, Colorado. Ia juga memaparkan, Muslim datang dari Spanyol dan China, berinteraksi dengan orang asli Amerika, sebelum kedatangan orang-orang kulit hitam, yang separuhnya Muslim dan dijadikan budak, dari Afrika.

Dalam perkembangannya, imigran Muslim datang dari Timur Tengah, Asia Selatan dan Eropa timur. Di kota New York, terdapat hampir satu juta Muslim, dengan hampir 300 masjid. Tetapi, Ali menyayangkan, mereka bermental rumah.

“Salah satu di antaranya adalah merasa bahwa terlibat dalam kehidupan publik adalah ancaman kepada pemerintah. Di Amerika terbalik. Untuk kita bisa aman, untuk mendapatkan hak kita, maka kita harus terlibat dalam kehidupan publik,” kata Shamsi Ali.

Shamsi Ali (kedua dari kiri) di sebelah Gubernur New York Andrew Cuomo dalam salah satu kegiatan tokoh agama dan pemerintah. (foto: courtesy)
Shamsi Ali (kedua dari kiri) di sebelah Gubernur New York Andrew Cuomo dalam salah satu kegiatan tokoh agama dan pemerintah (foto: courtesy).*

Dalam kiprahnya, Ali menyampaikan, Islam tidaklah identik dengan Arab. Dan terkait isu belakangan ini, Islam adalah obat mengatasi penyakit rasisme karena Islam adalah agama bagi semua warna kulit.

“Maka, kita tidak pernah membenci orang karena warna kulitnya. Kita membenci orang karena perilaku rasisnya, dan kami berjuang bersama orang (kulit) hitam, membela mereka, untuk mengatakan: yang kita lawan adalah rasisme. Bukan orang (kulit) putih,” kata Shamsi Ali.

Ilhan Omar, D-Minn., berpartisipasi dalam panel selama acara kampanye untuk calon presiden dari Partai Demokrat Senator Bernie Sanders di Clive, Iowa. (Foto: AP)
Ilhan Omar, D-Minn., berpartisipasi dalam panel selama acara kampanye untuk calon presiden dari Partai Demokrat Senator Bernie Sanders di Clive, Iowa (Foto: AP).*

Ali menambahkan, di Amerika yang banyak masuk Islam belakangan ini adalah orang muda, pintar, profesional, dan hampir 70 persen adalah wanita. Islam juga mencatat sejarah setelah Ilhan Omar, muslimah pertama berjilbab di DPR, memaksa Kongres mengubah aturan mengenai penutup kepala dalam sidang.

Di kota New York, sejak enam tahun lalu, Idul Fitri dan Idul Adha adalah hari libur. Makanan halal juga sudah masuk ke sekolah-sekolah negeri dan, sedang diperjuangkan, makanan halal disediakan di penjara-penjara. Ini perjuangan yang terus menerus, cetus Shamsi Ali.

Diki Alauddin dari PPPA (foto: courtesy)
Diki Alauddin dari PPPA (foto: courtesy).*

Selain menambah wawasan, manager pengembangan cabang dan luar negeri PPPA Diki Alauddin mengatakan, diskusi virtual itu adalah bentuk komunikasi dengan diaspora Muslim Indonesia yang tersebar di seluruh dunia.

“Dan juga mengenal bagaimana Islam berkontribusi dalam perkembangan sosial, cultural, dan political di Amerika Serikat,” kata Diki Alauddin. (M1-VOA/ka/jm)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: