METRUM
Jelajah Komunitas

Bersama Hadapi Bullying di Sekolah!

METRUM Radio bekerjasama dengan Reaksi Remaja Garut pada Minggu (25/10/2020) menyiarkan episode ke-6 program acara (Re)aksi Remaja berjudul “Hadapi dan Atasi Bullying di Sekolah” bersama narasumber Nursasongko Soegijatno dari Fight Bullying Community dan Fikri Faturahman selaku konselor SMP Darul Hikam.

Apa itu bullying? Bullying (perundungan) adalah kegiatan melakukan kekerasan, ancaman, dan intimidasi terhadap seseorang atau sekelompok orang. Pelakunya, biasanya merupakan mereka yang secara status sosial lebih tinggi atau lebih kuat, seperti seseorang yang merasa dirinya tersaingi karena suatu hal, seperti kecantikan, kepintaran, dan lain-lain. Oleh karena itu, dia akan mulai mengajak orang atau dirinya sendiri untuk membully.

Menurut Bullying.co.uk, bullying adalah perilaku yang ditujukan untuk menyakiti seseorang, baik secara fisik maupun mental. Sedangkan laman resmi Stopbullying.gov menyebut, perundungan umumnya melibatkan perilaku agresif.

Pembully juga biasanya merasa terancam oleh kedatangan orang baru yang lebih dari dirinya. Ada juga yang disebabkan karena kecewa. Misalnya, seperti atasan kepada karyawannya, guru kepada anak didiknya, atau orang tua kepada anaknya dengan cara membanding-bandingkan korban (anaknya) dengan anak yang lain. Artinya, perundungan tidak pandang bulu. Tindakan ini bisa menimpa siapa saja dan dapat terjadi sewaktu-waktu. Baik itu di sekolah, di jalan, lingkar keluarga, pertemanan, sampai di tempat kerja.

Penyebab perundungan di antaranya karena rasa iri, merasa tidak ingin tersaingi, dan merasa kecewa. Namun, ada juga orang yang membully untuk menguatkan diri sendiri, seperti membully orang disabilitas. Dia merasa lebih kuat dari mereka yang dia anggap lemah.

Flyer Reaksi Remaja Episode 6 (Dok.Metrum).*

Perundungan dapat terjadi karena adanya ketidakseimbangan kekuatan antara pelaku dan korban. Melansir BBC, pelaku perundungan biasanya memiliki masalah keluarga, stres, atau trauma.

Perundungan bentuknya bisa bermacam-macam. Termasuk menyerang fisik dan mental, menyebarkan gosip, atau mengacuhkan orang lain dengan sengaja.

Adapun ciri-ciri bullying yaitu, dibully secara fisik seperti dijambak, dipukul, ditendang, dan disudutkan. Lalu ada dengan cara cyber, seperti di sosial media, mulai dari Facebook, Instagram, WhatsApp, hingga SMS. Contohnya, mengancam seseorang di akun sosial media-nya dengan mengomentari menggunakan kata-kata yang menyakitkan.

Ada tiga jenis utama perundungan. Pertama, Verbal, yaitu mengatakan atau menulis sesuatu yang tidak berkenan di hati korban. Misalkan mengancam, menggoda, mengganti nama panggilan, berkomentar jelek, mengejek, dan lain-lain. Kedua, Sosial, yaitu mempermalukan seseorang di depan umum, mengucilkan, sampai menyebarkan gosip tentang seseorang, dan ketiga, Fisik, yaitu memalak, melukai tubuh orang lain, memukul, menendang, mencubit, meludahi, mendorong, sampai dengan sengaja mengambil barang orang lain.

Menurut Mas Nur –panggilan akrab Nursasongko–, dampak dari bullying sangat beragam, bahkan sampai ke dampak yang sangat fatal. Di antaranya, hilangnya kepercayaan diri dan merasa tidak berharga, lalu berkelanjutan menjadi depresi karena hidupnya tidak nyaman karena diteror terus-menerus, baik secara kata-kata maupun perlakuan. Dan yang paling fatal, korban bisa melakukan bunuh diri, bahkan lebih jauh dapat menjadi psikopat yang bisa membunuh orang-orang.

Lalu bagaimana upaya guru untuk menghentikan dan mencegah terjadinya perundungan? Fikri Faturahman mengatakan upaya guru untuk mencegah bullying di sekolah yaitu dengan menggunakan “cara sistem” yaitu ketika ada murid yang melapor kepada guru mengenai bullying, guru harus tahu dan sigap untuk selanjutnya melaporkan atau langsung ditindak di sekolah dan seperti apa penanganannya.

Fikri menambahkan, selain sistem, juga secara program, yaitu dibentuk dengan program-program yang bisa membuat edukasi tentang bullying kepada semua siswa. Caranya, semua siswa dikumpulkan di aula besar dan memberikan kesempatan untuk sharing story kepada siswa yang pernah mengalami perlakuan bullying.

Penanganan pelaku dan penyintas

Guru dapat melakukan penanganan perundungan pada pelaku dan penyintas dengan rumus BIS, yaitu B untuk Berpikir kritis, mengajarkan logika yang kritis kepada pelaku, korban dan penonton untuk menyadari bahwa bullying ini bukan sekedar kamu lemah, kamu kuat. I untuk I message, yaitu media sebuah sarana untuk mencurahkan emosi namun lebih spesifik. Dan S untuk sadar emosi, mendeteksi emosi dan perasaan yang dia alami.

Apa yang harus dilakukan saat menghadapi dan mengatasi bullying? Mas Nur mengungkapkan bahwa kita harus sadar bahwa tidak boleh seorang pun berlaku seenaknya kepada diri kita. Kita punya hak untuk tidak bisa diperlakukan seperti itu. Saat kita berada di posisi yang lemah, maka kita harus bercerita kepada orang yang bisa dipercaya dan meminta bantuan. Jangan sampai kita memendam sendirian.

“Sebisa mungkin kita menghindar dari orang-orang yang mempunyai pengaruh negatif dan orang-orang yang mem-bully kita. Kita harus bisa menggali potensi diri dan tetap percaya diri untuk membuktikan bahwa kita tidak lemah,” ucap Mas Nur.

Mas Nur merupakan pendiri komunitas Fight Bullying Community (FBC). Kegiatan FBC yaitu memanfaatkan setiap tawaran untuk menyebarkan soal stop bullying dan perlawanan bullying. “Setiap penawaran yang ada, kami akan terima, entah itu menjadi pengacara atau mengisi kelas. Juga mengedukasi lewat sosial media. Karena tidak semua yang mengalami bullying itu mau terbuka dan mau berkumpul untuk menceritakan keluh kesahnya,” jelas Mas Nur.

Sekarang ini terdapat inovasi baru untuk mempromosikan pencegahan bullying di sekolah yang dibuat Fikri Faturahman, yaitu sebuah permainan bernama Lindung Card Games. Alasan pembuatan games ini berawal dari pertemuan di sebuah aula yang menghasilkan kesepakatan bahwa 80% siswa menyatakan bahwa bullying itu harus dihentikan dan kesadaran para korban bullying yang ingin menyembuhkan luka dan traumanya.

Isi dari kartu Lindung Card Games ini terdapat 45 kartu dan 40 kategori yang isinya tentang edukasi perundungan, mulai dari jenis-jenis bullying, sebab terjadi bullying, hingga bahaya terjadinya bullying. Untuk mendapatkan kartu ini bisa memesanannya melalui Instagram @lindungcard. Harga 1 box Lindung Card Games adalah Rp125.000.

“Jika yang memesan kartu ini adalah sekolah dan memesan minimal 10 box, maka ada diskon 10% dari jumlah pesanan,” ujar Fikri.

Di sesi akhir perbincangan, Mas Nur menyampaikan pesan bahwa tidak seorang pun boleh membully siapapun dan tidak seorang pun layak untuk dibully. “Kita punya hak untuk hidup nyaman kita punya hak untuk hidup sesuai dengan jalurnya masing-masing. Dan kita tidak berhak untuk mengganggu kenyamanan orang,” ungkap Mas Nur.

Adapun pesan dari Kang Fikri, khususnya untuk para guru BK (bimbingan & konseling), untuk tetap semangat dan berjuang keras, karena kita tidak tahu sentuhan mana dari guru BK yang membuat kita sukses. Nasihat atau perlakuan mana yang membuat siswa berpikir dan sadar bahwa perbuatan perundungan itu salah. Guru BK adalah kunci dari kesuksesan siswa secara psikologis dan secara kognitif dalam hal pengelolaan dirinya. (Sapitri Sri Mustari)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: