METRUM
Jelajah Komunitas

Justice For The Long Haul, Pengalaman Tidak Terlupakan dalam Pelatihan yang Bermakna

SAMPURASUN! (Ini adalah sapaan halo dalam bahasa Sunda. Balas sapaan ini dengan mengucapkan “Rampes!”). Perkenalkan kami Agis dan Sapitri. Kami dari (Re)aksi Remaja yang dalam bahasa Inggris disebut Teenager (Re)action. Kami adalah komunitas remaja yang bergerak di pembangunan kapasitas remaja untuk bisa terlibat dalam gerakan sosial dan sudah menyiarkan 1 (satu) musim program acara radio dan podcast di Metrum Radio.

Kami mengadakan talkshow yang memperkenalkan remaja kepada isu-isu lokal dan remaja di Garut, Jawa Barat. Kegiatan kami didukung oleh Metrum Radio yang berlokasi di Jatihandap, Kota Bandung.

Agis dan Sapitri (Foto: Dok. Reaksi Remaja).*

Kami mengikuti pelatihan “Justice For The Long Haul: Transforming Power Anti Oppression Training” yang diadakan pada 1 Oktober – 5 November 2020. Kami senang dapat berlatih bersama orang-orang dari berbagai negara.

Selanjutnya, Agis dan Sapitri akan membagikan refleksinya ketika awal, selama dan setelah mengikuti pelatihan “Justice For The Long Haul” dan bagaimana latihan tersebut mempengaruhi kinerjanya di (Re)aksi Remaja.

Poster kegiatan (Dok. (Re)aksi Remaja).*

Refleksi Agis

Pada saat awal mengikuti pelatih Justice For The Long Haul, saya merasa takut memberikan pendapat karena saya pikir orang-orang di pelatihan tidak mengenal saya secara personal. Oleh karena itu, saya memperhatikan bagaimana orang-orang dalam pelatihan saling berkolaborasi untuk saling mengenal dan membangun kebersamaan.

Orang-orang terasa sangat ramah dan terbuka dengan perbedaan budaya diantara kita sehingga saya merasa nyaman dan dihargai. Apapun yang saya sampaikan, saya menjadi lebih berani mengekspresikan diri dan menyampaikan pendapat.

Ada kejadian yang saya tidak bisa lupakan ketika sesi menggambar hati nurani (core self). Kami diinstruksikan menggambar sesuai dengan pemikiran dan hati nurani kami. Itu membuat saya lebih berani menjadi diri sendiri tanpa takut dinilai oleh orang lain.

Gambar hati nurani Agis (Foto: Dok. pribadi).*

Sehari sebelum sesi pengaliran emosi, ada peristiwa ketika saya bermasalah dengan ayah saya. Saya menjadi emosional dan tidak dapat menunjukkan emosi saya kepada ayah. Selanjutnya ketika sesi pengaliran emosi, saya memiliki ruang untuk mengalirkan emosi . Saya mengalirkan berbagai emosi dari rasa sedih, marah dan kecewa terhadap kejadian yang terjadi pada kehidupan saya.

Dampak sesi pengaliran emosi tersebut pada masalah saya dengan ayah yaitu saya menjadi lebih terbuka dan memahami pemikiran ayah saya. Saya berpikir bahwa ayah saya selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk masa depan saya. Setelah memahami itu, saya akhirnya menerima semua keputusan yang ayah saya berikan.

Di sesi terakhir, saya terbuka kepada seluruh peserta pelatihan terkait diri saya yang akhirnya merasa sangat diterima oleh orang lain dan membuat saya dapat menerima diri sendiri. Saya merasa tenang dan nyaman. Dan akhirnya, saya belajar untuk menjadi diri saya sendiri.

Pelatihan Justice For The Long Haul itu sangat berdampak pada kinerja saya di (Re)aksi Remaja dan pekerjaan saya yang lain. Saya menjadi lebih menghargai setiap hal yang saya lakukan di (Re)aksi Remaja dan berusaha untuk selalu bertanggung jawab dengan pekerjaan saya. Teman-teman di sekitar saya tampak memperhatikan perubahan ini dan berkata pada saya bahwa saya berkembang menjadi orang yang sangat produktif.

Refleksi Sapitri

Sebelumnya, saya pernah mengikuti workshop Mencari Titik Temu bersama (Re)aksi Remaja. Itu merupakan kegiatan pertama yang diadakan oleh (Re)aksi Remaja pada awal tahun 2020. Yang saya tahu adalah CCP diterapkan dalam workshop Mencari Titik Temu sehingga saya merasa tidak asing ketika mengikuti Justice For The Long Haul.

Terdapat satu bagian yang paling menarik, itu tentang cerita kekerasan. Semua peserta saling bertukar cerita mengenai pengalaman yang dialami atau dilihat. Pada sesi ini, teknik pendengar dan pendamping yang baik diterapkan saat bercerita sehingga membuat orang yang bercerita merasa lebih leluasa dalam memaparkan ceritanya. Oleh sebab itu, saya menyadari betapa pentingnya menjadi pendengar dan pendamping yang baik itu karena saya tidak diajari hal itu di lingkungan saya.

Saya merasa berada pada zona baru yang benar-benar membuat saya dan orang-orang di sekitar saya merasa nyaman ketika saling bertukar cerita. Setelah mengikuti pelatihan ini saya bisa menjadi lebih terbuka terhadap orang-orang dan lingkungan saya khususnya kepada orang terdekat yaitu orang tua, keluarga, dan sahabat saya. Dan, semua itu berproses, dari mengumpulkan keberanian sampai menyatakan kejujuran.

Saya mulai menerapkan pendengar dan pendamping yang baik dalam kehidupan saya. Saya terapkan kepada siapapun yang menjadi lawan bicara saya supaya ia bisa mengutarakan isi hati dan rasa yang mengganjal dalam diri mereka.

Suatu hari setelah beres pelatihan, saya melakukan teknik ini kepada teman saya saat dia bercerita. Saya melihat teman saya tampak terbantu ketika melakukan saya melakukan pendengar dan pendamping yang baik. Dia berkata bahwa hal seperti itu jarang ditemui saat ia bercerita ke orang lain. Biasanya orang memotong atau memberi saran tanpa persetujuan. Dia merasa benar-benar didengarkan dan merasa terhubung dengan saya.

Sapitri dan kawan-kawan (Foto: Dok. pribadi).*

Pada akhirnya setelah melalui proses dan kejadian yang bermakna. Saya menyadari bahwa workshop ini mengingatkan saya untuk lebih menghargai dan mencintai diri saya sendiri, mementingkan apa yang saya butuhkan, dan apa yang saya rasakan. Tidak hanya memikirkan perasaan orang lain dan mengabaikan perasaan sendiri.

Saya ingat pada satu pertemuan di pelatihan, ketika rekan saya Rhaka berkata bahwa teman-teman di Garut itu tidak terbuka dan sulit untuk berbicara jujur mengenai satu hal. Saya ingat jawaban ibu Nadine bahwa itu adalah pertanda adanya kekerasan dan opresi terhadap remaja di Garut. Itu semua menjadi budaya di Kabupaten Garut dan saya sadar akan hal itu karena saya sendiri pernah mengalaminya.

Kami tidak dididik untuk mencintai diri sendiri, apalagi untuk terlibat dengan lingkungan, maka dari itu saya rasa penting untuk mulai merawat dan mencintai diri sendiri sebagai bagian mewujudkan budaya damai.

Pelajaran penting setelah mengikuti workshop ini yaitu betapa lalainya kita terhadap suasana lingkungan sekitar tempat kita tinggal, bahkan masih lalai terhadap pengembangan dan perawatan terhadap diri sendiri, sehingga membuat saya mulai melangkah untuk lebih peduli terhadap apapun yang terlibat dengan saya.

Kesimpulan Bersama

Kami menyempatkan untuk berkumpul kembali dan mendiskusikan apa yang sudah kami pelajari dari pelatihan Justice For the long haul. Kami membuat kesimpulannya dalam poin-poin berikut:

  • Kami dapat mudah mengalirkan emosi ketika masalah dalam kehidupan kami datang.
  • Berusaha menjadi pendengar dan pendamping yang baik.
  • Setiap emosi pada suatu kejadian harus segera dilepaskan saat kejadian itu terjadi.
  • Mulai merawat kebutuhan diri dan memikirkan apa yang diri ini butuhkan.
  • Kekerasan harus disuarakan.
Tim (Re)aksi Remaja dari kiri ke kanan: Rhaka, Sobar, Agis, Sapitri, Wina, dan Dewi (Foto: Dok. Reaksi Remaja).*

Demikian refleksi dari kami. Kami ucapkan terima kasih kepada Conscience Studio yang menyelenggarakan workshop Justice for the long haul, juga kepada teman-teman yang ikut terlibat: Fenna, Petrus, Linda, Rhaka, Tito, Lou, Kim, Jungjoo, Gowoon, dan semua teman lainnya. (Agis Somantri, Sapitri Sri Mustari, Rhaka Katresna)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: