Budaya Instan dan Komunikasi Performatif: Wajah Baru Interaksi Sosial di Era Digital
Oleh Surti Wardani*
PERUBAHAN besar dalam pola komunikasi manusia sedang berlangsung di depan mata kita. Kehadiran teknologi digital bukan hanya mempercepat cara kita berinteraksi, tetapi juga mengubah makna komunikasi itu sendiri. Dua fenomena yang kini mendominasi kehidupan sosial, budaya instan dan komunikasi performative, perlahan membentuk wajah baru interaksi di era digital, dan keduanya layak dicermati secara kritis. Di tengah arus informasi yang tak pernah berhenti mengalir, kita bukan hanya menjadi pengguna, tetapi juga “produk” dari ritme digital yang kita konsumsi setiap hari.
Budaya instan lahir dari logika teknologi: serba cepat, serba ringkas, serba langsung. Pesan harus dibalas saat itu juga, informasi harus tersedia dalam hitungan detik, dan reaksi publik diukur dari seberapa cepat tombol like ditekan. Kita terbiasa hidup dalam ritme digital yang membuat refleksi nyaris tidak punya ruang. Banyak orang kini membaca berita hanya dari judul, mengambil kesimpulan dari potongan konten, dan tergesa-gesa memberikan opini tanpa pemahaman mendalam. Kecepatan mengalahkan kedalaman, dan itu perlahan menjadi normal baru. Kondisi ini tidak hanya membentuk perilaku individu, tetapi juga membentuk ekosistem sosial yang semakin menuntut respons cepat dibanding pemikiran matang.
Dalam ruang interaksi seperti ini, komunikasi tidak lagi sebatas pertukaran gagasan, tetapi menjadi ajang tampil. Inilah yang disebut komunikasi performatif. Erving Goffman, dalam teorinya tentang presentasi diri, menyatakan bahwa manusia pada dasarnya adalah “aktor” sosial yang menampilkan diri sesuai ekspektasi audiens. Media sosial membuat teori ini terasa lebih nyata dari sebelumnya. Setiap unggahan dipilih dengan cermat, setiap kata diperhalus, setiap potret disunting agar tampak lebih ideal. Kita hadir bukan hanya untuk berbicara, tetapi untuk membangun citra. Identitas digital menjadi proyek personal yang harus terus dipoles agar tampak meyakinkan.
Fenomena ini makin kuat karena didorong oleh struktur platform digital itu sendiri. Penelitian dalam Journal of Computer-Mediated Communication menunjukkan bahwa fitur like, komentar, dan algoritma rekomendasi memperkuat kecenderungan pengguna untuk menampilkan versi diri yang paling dapat diterima publik, bukan yang paling otentik. Sebuah studi tahun 2023 menemukan bahwa 68% pengguna remaja merasa perlu “menyaring” diri mereka agar sesuai dengan ekspektasi media sosial.
Sementara penelitian lain tahun 2024 mencatat bahwa 72% mahasiswa mengaku membangun identitas digital berdasarkan konten yang mereka percaya akan mendapatkan validasi tertinggi. Komunikasi kemudian bergeser dari yang bersifat dialogis menjadi performative, sebuah pertunjukan yang terus berlangsung setiap hari.
Dalam kondisi seperti ini, peran keluarga, khususnya orang tua, menjadi sangat penting. Banyak anak dan remaja kini tumbuh dalam lingkungan digital yang membentuk persepsi diri mereka lebih cepat daripada interaksi tatap muka. Orang tua tidak lagi cukup berperan sebagai pengawas, tetapi harus menjadi penuntun dalam memahami dinamika komunikasi digital. Mereka perlu membantu anak membedakan antara ekspresi diri yang autentik dan tuntutan performa sosial yang diciptakan oleh platform digital. Tanpa pendampingan, anak bisa terjebak dalam pola pencarian pengakuan tanpa akhir, memaknai nilai diri berdasarkan jumlah like, komentar, dan perhatian virtual.
Orang tua juga memiliki peran besar dalam mengajarkan ritme komunikasi yang lebih sehat. Mengajak anak berdialog tanpa gangguan gawai, memberi contoh bahwa tidak semua pesan harus dibalas seketika, dan menumbuhkan kebiasaan berpikir sebelum memberi respons merupakan langkah kecil namun berdampak besar. Keteladanan dalam penggunaan media sosial secara kritis, tidak reaktif, tidak impulsif, dan tidak terjebak performativitas, menjadi kompas penting bagi anak dalam membangun identitas digital yang lebih stabil dan realistis. Dalam dunia yang semakin mendorong penampilan, kehadiran orang tua sebagai ruang aman untuk kejujuran dan refleksi menjadi semakin berharga.
Konsekuensi dari budaya instan dan performativitas ini cukup serius. Ketika identitas digital menjadi panggung utama, ruang untuk kerentanan dan kejujuran menyempit. Kita semakin sulit melihat manusia sebagaimana adanya, karena yang tampil lebih sering adalah versi “ideal” yang dikurasi untuk konsumsi publik. Hubungan sosial menjadi dangkal, penuh impresi, tetapi minim keintiman. Dalam jangka panjang, masyarakat bisa terjebak dalam tekanan sosial baru: kecemasan untuk selalu tampil baik, selalu relevan, selalu terlihat berhasil.
Namun kritik terhadap fenomena ini bukan berarti kita harus menolak teknologi digital. Justru di sinilah pentingnya kesadaran. Budaya instan dan komunikasi performatif adalah konsekuensi alami dari perkembangan teknologi, tetapi bukan berarti kita harus menyerah pada arusnya. Kita tetap bisa memilih untuk memberi jeda sebelum bereaksi, memahami sebelum menilai, dan tampil apa adanya tanpa harus memoles setiap aspek kehidupan. Teknologi dapat menjadi alat yang memberdayakan, jika kita tidak kehilangan kendali atas cara kita berkomunikasi.
Tantangan kita hari ini bukan hanya bagaimana menyesuaikan diri dengan era digital, tetapi bagaimana tetap menjaga kemanusiaan di tengah derasnya arus informasi. Komunikasi yang bermakna membutuhkan kedalaman, kejujuran, dan waktu, sesuatu yang tidak bisa digantikan algoritma.
Dalam dunia yang semakin riuh oleh performa, kehadiran yang autentik menjadi langkah kecil namun signifikan untuk mengembalikan nilai sejati dari sebuah komunikasi. Dunia mungkin bergerak cepat, tetapi manusia tetap membutuhkan ruang untuk diam, merenung, dan hadir apa adanya.***
* Penulis adalah Dosen Universitas Pamulang, Tangerang Selatan, Banten.
Daftar Pustaka
- Goffman, Erving. (1959). The Presentation of Self in Everyday Life. Anchor Books.
- Bayer, J., Triệu, P., & Ellison, N. (2020). Social Media Elements, Self-Presentation, and Public Performance. Journal of Computer-Mediated Communication, 25(1).
- Nayla, A., & Jafar, M. (2025). Digital Identity Construction in Higher Education Students. Journal of Advances in Interdisciplinary Research Conference, 7(1), 241–252.
- Ariyanto, S., & Haq, S. (2025). Understanding Identity Management Practices in Contemporary Social Media Environments. Jurnal Ilmiah Indonesia, 10(3), 112–129.
- Weidman, A., & Levinson, C. (2023). Digital Self-Presentation and Psychological Well-Being in Emerging Adults. Cyberpsychology Journal, 17(2), 55–72.
- Scolari, C. (2021). The Logic of Platforms and Digital Performance Culture. New Media & Society, 23(4), 965–983.
Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.