METRUM
Jelajah Komunitas

Elegi Menjadi Penyintas Covid-19

DI penghujung tahun 2020 menjadi catatan tersendiri bagi saya. Saat itu beberapa kota/daerah di Indonesia termasuk Bandung mengalami peningkatan kasus orang yang terpapar covid-19, sehingga kembali menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) secara parsial.

Seperti biasa, rutinitas harian saya disibukan dengan menjaga toko alat tulis dan kantor dan fotokopi milik owner Yayasan Rumah Sahabat Bahagia, Abah Sansan dan Ibu Hani. Lokasi di Jalan Sukagalih, Kelurahan Sukagalih, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung.

Saya adalah salah satu relawan di beberapa kegiatan sosial yang diadakan oleh yayasan ini, seperti Sibulan (nasi bekal bergizi untuk lansia). Kebetulan saya ditampung di rumah tersebut dan tinggal sejak tahun 2018.

Sambil jaga toko, saya mengisi dengan menulis atau up to date “status” di media sosial terkait dunia sepeda yang saya gemari terutama imbauan untuk selalu bijak bersepeda di tengah pandemi.

Saat itu seputaran Sukagalih termasuk wilayah zona merah di Kota Bandung karena tingginya kasus warga yang positif. Saya tetap menerapkan protokol kesehatan, walau saat ada customer yang datang saya terkadang lupa memasang masker dengan benar.

Rencananya, pada Sabtu (19/12/2020) Saya akan bersepeda menuju Katapang Kabupaten Bandung mengontrol rumah teman yang diisi oleh saya bilamana di Bandung tidak ada kegiatan. Namun rencana ini baru terlaksana pada Minggu (20/12/2020) pagi. Sebelumnya, saya naik angkot hingga tiga kali beda jurusan menuju Portal Sepeda di Jalan Pelajar Pejuang untuk mengambil sepeda.

Berjemur tiap pagi di hotel tempat isolasi mandiri (Dok. Cuham),*

Dari Portal Sepeda saya bersepeda menuju Katapang. Jalur yang digunakan melalui Jalan Pelajar Pejuang – BKR – Inhoftank – Penjara Banceuy – Komplek Mekar Wangi. Di jalur ini saya menyempatkan berhenti terlebih dahulu di pasar kaget mingguan untuk belanja pakaian dalam, beli nanas madu, dan nasi kebuli. Lalu perjalanan dilanjutkan melalui jalur Cibaduyut – Terusan Cibaduyut – Cisirung – Sayuran – Bojong Sayang – Ranca Manyar – Sangkan Hurip – Bojong Tanjung, dan Katapang.

Interaksi hanya dengan tukang jamu gendong pake motor langganan. Setelah beres-beres rumah, saya kembali ke Sukagalih memalui jalan yang sama. Di Mekarwangi saya sempat berhenti untuk makan bubur ayam, dan melanjutkan perjalanan melalui Mohammad Toha – BKR – Pelajar Pejuang untuk menyimpan sepeda di Portal Sepeda. Selanjutnya saya pulang menggunakan angkutan umum menuju Sukagalih, dengan 2x ganti trayek atau jurusan.

Sekira magrib, saya tiba di Sukajadi, turun di Masjid Gedung Dakwah Muhammadiyah dan menunaikan salat Magrib di situ. Masjidnya menerapkan prokes, sekat antara makmum hanya setengah meter. Sialnya saat itu makmum sisi kiri saya selama salat batuk-batuk terus, kekhusyukkan salat saya terganggu dan sempat berpikir yang tidak-tidak, termasuk khawatir makmum yang batuk tersebut sudah terpapar covid-19. Usai salat Magrib, saya mampir ke sebuah fash food, griya dan toko pakaian, lalu ke rumah di Sukagalih menggunakan ojek online.

Setibanya di rumah, saya langsung jaga toko. Di sini mulai terasa badan kurang enak, kepala sedikit pening. Pukul 21.00 WIB toko saya tutup. Setelah salat Is,ya saya tertidur dengan badan sedikit kedinginan. Subuh saya terbangun dengan kondisi kurang enak dan tetap melaksanakan salat di masjid. Usai salat, seperti biasa saya membereskan toko dan dapur.

Tiba-tiba tubuh merasa pusing, letih, keringat dingin, lalu saya memutuskan untuk tiduran kembali dengan kondisi demam dan hidung tersumbat, berlangsung seharian hingga malam. Pada hari itu, saya tidak menjaga toko, hanya bisa terbaring lemas di kamar.

Pada Selasa (22/12/2020), saya periksa ke Puskesmas diantar teman salah seorang pegiat sepeda Federal Bandung, yang dua minggu sebelumnya istrinya positif covid-19. Di Puskesmas karena demam, saya dirapid test, lalu setelah diberi obat saya pulang. Saya kembali ke kamar dan tiduran dengan kondisi badan masih seperti sebelumnya. Tak lama kemudian, saya diberitahu pihak Puskesmas hasil rapidnya non reaktif. Saya pun bersyukur. Tapi saya disarankan untuk melakukan PCR/Swab jika sampai hari Jum’at kondisi masih demam.

Kondisi demam dan pusing terus berlangsung, bahkan nafsu makan berkurang dan kalaupun masuk makanan tidak habis karena lidah terasa pahit, indra penciuman mulai terganggu. Hari Sabtu (26/12/2020), saya kembali ke Puskesmas sendirian menggunakan ojek online untuk melakukan PCR/swab seperti yang disarankan puskesmas (dicolok dibagian hidung dan tenggorokan), lalu saya diberi obat demam, pusing, vitamin, dan lain-lain.

Besoknya saya masih dalam kondisi demam dan letih, bahkan diare. Hari Senin (28/12) saya dikabari pihak Puskesmas kalau saya positif dan menurut catatan bahwa saya sudah bergejala sejak hari Sabtu, 19 Desember 2020.

Hasil SWAB (Dok. Puskesmas Sukagalih).*

Antara kaget, bingung, sedih, dan pasrah berbaur saat itu. Apalagi saya takut keluarga Abah Sansan yang ada di rumah ikut ketularan. Di media tersiar bahwa Aa Gym dan Syeikh Abdul Jabir saat itu juga dinyatakan positif terpapar covid-19. Keluarga abah pun melakukan pembersihan rumah, perabotan, dan melakukan isolasi mandiri keluarga. Hari itu juga dilakukan penyemprotan.

Meskipun keluarga abah memberikan support kepada saya, jujur saat itu saya menangis terutama saat ibu Hani berbicara melalui WA menasehati saya untuk bersabar, jangan stress, dan jangan berfikir yang tidak-tidak.   

Kemudian pada Selasa (28/12) saya melakukan isolasi mandiri atas rekomendasi pihak Puskesmas di sebuah hotel yang tidak beroperasi lagi di Jalan Terusan Pasteur. Dekat memang, tinggal nyebrang dari jalan Sukamulya. Hotel ini awalnya dijadikan tempat isolasi bagi tim medis yang terpapar covid-19, namun karena semakin hari banyak masyarakat yang positif covid-19, akhirnya hotel tersebut juga dapat digunakan untuk umum. 

Hari-Hari Isolasi Mandiri

Di hotel, saya menempati kamar nomor 1203. Posisi kamar terletak di lantai 2, di bawahnya digunakan garasi kendaraan. Dalam kondisi masih kurang enak, saya terbaring lemas, bingung, dan tidak karuan. Sehari 3 kali saya diperiksa, ditest suhu, ditensi, sambil diberi jatah makan pagi, siang, dan malam oleh perawat/petugas jaga. Setiap pukul 9.30 WIB pagi berjemur dan berolahraga. Selebihnya saya tiduran dan menghabiskan waktu dengan nonton tv, atau sesekali update Status di media sosial, dan lebih banyak menonton igtv di handphone.

Kamar 1203 di Rumah Singgah Isolasi Mandiri (RSIM) (Dok. Cuham).*

Sekitar 40-50 orang yang positif Covid-19 berada di hotel tempat isolasi tersebut. Berbagai kalangan dan profesi, bahkan ada dokter dan ASN dinas kesehatan. Ada pula yang sekeluarga positif.

Untuk saling menguatkan dan sebagi alat komunikasi dan berbagi informasi, di tempat ini dibuat grup whatsapp yang anggota di dalamnya terdiri dari dokter, perawat yang bertugas dan para isoman. Hampir Setiap hari orang datang dan pergi ke tempat ini. Ada yang pulang karena masa isolasinya berakhir dan dinyakan sehat, tetapi ada pula para isoman baru yang muncul.

Para perawat/petugas sangat perhatian, gesit, dan tak kenal lelah. Kadang mereka tampak kepayahan. Hari pertama, saat pemeriksaan dan pembagian makan malam, seorang perawat laki-laki hanya memanggil saya dari bawah, ketika saya buka pintu dan lihat ke bawah, dia duduk terhempas kelelahan berat di anak tangga pertama dengan menggunakan menggunakan pakaian lengkap alat pelindung diri (apd). Perawat bernama Tedi itu merupakan perawat yang melayani saya saat awal masuk ke tempat isolasi mandiri tersebut.

Karena iba, saya pun bergegas ke bawah dan mengambil jatah makan serta sebuah paket kiriman berupa alat mandi dari rumah. Sejak itu saya tak pernah komplain atau apapun jika ada kekurangan, kesalahan, keterlambatan dan sebagainya. Saya tidak tega dan tidak mau menambah beban mereka semakin berat.

Hari pertama isolasi (Dok. Cuham).*

Selama tiga hari melakukan isolasi mandiri, kondisi badan masih terasa letih, pusing, dan batuk-batuk kering, namun sudah tidak diare lagi. Nafsu makan berangsur-angsur pulih. Hari keempat terasa lebih fresh, keluhan hanya batuk-batuk dan keringat dingin. 

Saat itu saya tak mempedulikan moment pergantian tahun, bahkan sempat terlupakan, apalagi di luar sana tak terdengar gegap gempita orang-orang merayakannya. Malam tahun baru Saya lalui dengan tidur. Di hari pertama tahun 2021, saya sempat mengalami asam urat jempol kaki kiri. Saya pun mengadu ke perawat, lalu saya diperiksa dan diambil darah, dan hasilnya memang asam uratku tinggi, di level 10. Setelah diberi obat, Alhamdulillah asam urat berangsur turun dan pulih.

Begitulah hari-hari isolasi mandiri yang saya lalui. Jujur, sewaktu-waktu ada perasaan jenuh, sedih, dan menangis. Kondisi tersebut hampir dirasakan oleh puluhan orang yang sama-sama tengah menjalani isoman di hotel ini. Tergambar jelas dari wajah-wajah mereka saat bertemu di kegiatan berjemur dan olahraga, meskipun mereka berupaya untuk tetap ceria dan bahagia.

Tapi kondisi di atas terobati dengan support dan do’a melalui whatsapp dan media sosial dari keluarga –khususnya keluarga Sukagalih– dan teman-teman. Apalagi mendapat kabar bagus bahwa hasil swab keluarga Sukagalih semuanya dinyatakan negatif. Saya bersyukur dan membuat hati saya lega serta menambah semangat untuk tetap tabah dan tegar melalui masa isolasi.

Isolasi lanjutan di rumah 3 hari (Dok. Cuham).*

Hari ke 7, 8 dan 9 kondisi saya makin membaik, bahkan sama sekali tidak mengalami keluhan selain rasa jenuh saja. Dan di hari ke-10, saya dinyatakan sehat dan diperbolehkan pulang dari Rumah Singgah Isolasi Mandiri (RSIM) pada Jum’at (8/1/2021).  Tidak ada swab ulang, menurut dokter sekarang ada peraturan baru dari kementerian kesehatan bahwa orang yang sudah menjalani isolasi dan kondisinya membaik tidak diperlukan lagi swab berdasarkan hasil penelitian selama ini.

Rasa syukur dan bahagia menghinggapi saya saat pulang ke Sukagalih, meskipun disambut berita duka karena salah satu warga Sukagalih meninggal dunia karena covid-19 dan berita bahwa Walikota Bandung, yang akrab disapa Mang Oded, dinyatakan positif covid-19. 

Aktivitas Bersepeda kembali dilakukan (Dok. Cuham).*

Meski saya sudah diperbolehkan pulang, saya harus menjalani isolasi lanjutan di rumah sampai hari Minggu (10/1) dan harus menjalani pemeriksaan di Puskesmas pada Senin (11/1) lalu. Alhamdulillah, hasilnya saya dinyatakan sehat dan bisa beraktivitas kembali seperti biasa, tapi tetap harus menerapkan protokol kesehatan.

Itulah kisah dari awal mula saya terpapar virus corona. Mengenai dari siapa dan saat kapan saya terpapar, entahlah, yang jelas saya memang telah menjadi salah satu dari ribuan masyarakat Bandung yang terpapar virus tersebut.

Saya menulis ini, selain sebagai dokumentasi catatan sejarah juga ingin berbagi bahwa meskipun kita sudah menerapkan protokol kesehatan, tetap harus waspada, karena sewaktu-waktu kita bisa lengah dan lupa menerapkannya. Kita tidak tahu kapan kita terpapar, dari siapa, dan saat sedang melakukan apa.

Intinya jangan kendor, tetap menggunakan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan. Hindari kerumunan dan bepergian yang tidak penting. Meskipun sekarang sudah ada vaksin, tapi protokol kesehatan harus tetap diterapkan. Jangan sampai terpapar virus corona, karena menjadi isoman itu sungguh tak menyenangkan.

Salam sehat dan semangat. Semoga pandemi segera berlalu. (Cucu Hambali, Penyintas Covid-19 yang terpapar di penghujung Tahun 2020)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: