METRUM
Jelajah Komunitas

Es Krim Cita Rasa Asia di New York Buatan Kakak-Beradik asal Surabaya

“Kami sendiri kangen rumah waktu pandemi, dan kami mikir orang-orang lain pasti banyak yang kangen rumah juga.”

Selain cita rasa Asia, Sundae Service Creamery juga punya rasa ‘Earl Grey Strawberry Cheesecake’ – yang menjadi rasa paling populer mereka.

Masuk Toko di New York

Produk Sundae Service Creamery kini dijual di toko retail, kebanyakan toko Asia, di sekitar kota New York.

Satu pint ice cream diberi harga sekitar $10-$12 atau sekitar Rp142.000 hingga Rp170.000.

“Bisa masuk toko rasanya luar biasa sekali,” ujar Debbie. “Karena pada awalnya kita sama sekali nggak berniat buat bisnis. Jadi bisa melihat kemajuan sejauh ini dalam satu setengah tahun, rasanya memuaskan.”

“Dulu (pelanggan kami) cuma di lingkungan teman,” tambah Liz.

“Waktu kami mulai dapat pelanggan yang tidak kami kenal pribadi, itu momen di mana saya seperti, ‘Wow, orang-orang beneran beli produk kami.'”

Beroperasi Dari Belahan Dunia Berbeda

Bisnis es krim ini berada di kota New York, namun juga beroperasi via Indonesia.

Liz kini tinggal di Surabaya, sementara Debbie bekerja penuh waktu di New York.

Liz dan Debbie, yang sama-sama alumni New York University, kini hidup di belahan dunia berbeda.
Liz dan Debbie, yang sama-sama alumni New York University, kini hidup di belahan dunia berbeda.*

“Liz banyak membantu keuangan kami, dan untungnya itu bisa dilakukan jarak jauh,” kata Debbie.

Mereka juga mengaku keputusan memproduksi es krim lewat pabrik dan menjual produk di toko, membantu operasi bisnis mereka.

“(Sebelumnya,) di minggu-minggu sibuk, kami bisa bekerja sampai pukul 1 atau 2 pagi,” kata Debbie, mengingat waktu mereka memproduksi es krim dari rumah.

“Sekarang secara fisik lebih mudah, saya nggak perlu lagi delivery, tidak perlu buat es krim sendirian.”

BACA JUGA:  Terobsesi Selebritis, Ini Alasan Perempuan di Media Sosial

Perjalanan Tak Selalu Mulus

Saat mulai produksi skala besar, kedua alumni New York University ini menghadapi sejumlah rintangan – dari kesulitan dapat komponen es krim hingga kesalahan ejaan di bungkus.

“Ada selai stroberi yang ingin saya pakai,” kata Debbie. “Tapi ternyata kami pesannya dari website palsu, jadi barangnya nggak pernah datang.”

Liz juga tambahkan, di hari mereka seharusnya terima produk akhir es krim dari pabrik, supir delivery mereka terlibat kecelakaan.

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.